Kanon Kitab Suci Gereja Katolik: Gereja Mula-mula, Tradisi, Septuaginta, dan Deuterokanonika
| Kanon Kitab Suci Gereja Katolik mengalami proses dan otoritas tepercaya. |
Kanon suci Alkitab merupakan fondasi iman Kristen, terutama dalam Gereja Katolik. Kata "kanon" berasal dari bahasa Yunani kanōn, yang berarti ukuran atau patokan.
Dalam teologi, kanon adalah daftar kitab yang diakui sebagai Firman Allah yang diilhami dan otoritatif untuk iman serta praktik kehidupan beriman.
Gereja Katolik menerima 73 kitab dalam Alkitab: 46 kitab Perjanjian Lama (termasuk 7 kitab deuterokanonika) dan 27 kitab Perjanjian Baru.
Perbedaan ini dengan kanon Protestan (66 kitab) mencerminkan pemahaman tentang Tradisi Apostolik, penggunaan Septuaginta oleh Gereja awal, dan penegasan melalui konsili-konsili historis.
Baca Kanon Kitab Suci dan Otoritas Paus dalam Gereja Katolik
Artikel ini membahas pembentukan kanon secara akademis, dengan fokus pada Gereja mula-mula, tradisi, Septuaginta, dan deuterokanonika, berdasarkan sumber-sumber resmi dan historis yang terverifikasi.
Pembahasan terbagi dalam lima subjudul utama.
Gereja Mula-mula dan Proses Pembentukan Kanon Alkitab
Pembentukan kanon Alkitab terjadi secara bertahap di dalam Gereja mula-mula. Pada abad pertama, para Rasul dan murid mereka belum memiliki Alkitab sebagai satu buku terikat. Mereka bergantung pada tradisi lisan, surat-surat apostolik, dan Septuaginta sebagai teks Perjanjian Lama.
Yesus dan para Rasul sering mengutip Perjanjian Lama dari versi Yunani ini, bukan teks Ibrani yang lebih terbatas.
Baca Johann Eck dan Fondasi Teologisnya dalam Melawan Martin Luther
Bukti historis menunjukkan bahwa Gereja awal di daerah berbahasa Yunani seperti Aleksandria dan Roma menggunakan kumpulan kitab yang lebih luas.
Bapa-bapa Gereja seperti Klemens dari Roma (sekitar 96 M) dan Ignasius dari Antiokhia (sekitar 107 M) mengutip kitab-kitab deuterokanonika, meskipun belum ada daftar resmi. Fragmen Muratorian (sekitar 170-200 M) memberikan daftar awal kitab yang diterima, walau belum lengkap. Proses kanonisasi semakin jelas pada abad ke-4, ketika Gereja menghadapi ajaran sesat seperti Marcionisme yang menolak Perjanjian Lama.
Gereja mula-mula tidak menunggu konsili untuk membentuk kanon; kanon muncul dari praktik liturgi, pengajaran, dan doa umat. Kitab-kitab yang dibaca dalam Ekaristi dan digunakan untuk katekese diakui sebagai ilahi secara organik.
Santo Agustinus (354-430 M) dalam De Doctrina Christiana menekankan bahwa penerimaan kanon didasarkan pada konsensus Gereja yang luas, bukan keputusan individu.¹
Gereja mula-mula berperan sebagai penjaga yang mengenali Kitab Sucinya sendiri, bukan penerima pasif dari tradisi Yahudi. Proses ini berlangsung berabad-abad, tetapi mencapai kematangan pada akhir abad ke-4.
Peranan Tradisi Apostolik dalam Penentuan Kanon
Tradisi Apostolik membedakan pendekatan Katolik dari prinsip sola scriptura. Menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 120, Tradisi Apostolik membantu Gereja membedakan kitab-kitab suci.²
Tradisi bukan tambahan di luar Kitab Suci, melainkan konteks hidup yang berasal dari sumber ilahi yang sama, seperti ditegaskan dalam Dei Verbum no. 9-10.³
Para Rasul menerima wahyu dari Kristus dan Roh Kudus, menyampaikannya secara lisan dan tertulis. Saat muncul pertanyaan tentang kitab yang terinspirasi, Gereja tidak bergantung pada kriteria subyektif seperti "hanya teks asli Ibrani" atau "hanya yang dikutip langsung dalam Perjanjian Baru". Kriteria utama meliputi:
- apostolicitas (berasal dari era apostolik),
- ortodoksi (sesuai iman yang diwariskan), dan
- catholicity (penggunaan liturgis universal).
Yesus dan para Rasul sering mengutip Perjanjian Lama dari versi Yunani ini, bukan teks Ibrani yang lebih terbatas.
Santo Hieronimus (347-420 M) awalnya ragu terhadap deuterokanonika karena menganut "Hebraica veritas", tetapi memasukkannya ke dalam Vulgata atas hormat terhadap Tradisi Gereja.
Santo Agustinus sebaliknya, menerima seluruh kumpulan Septuaginta tanpa keraguan. Perdebatan ini menunjukkan Tradisi sebagai bimbingan Roh Kudus yang hidup dalam Gereja (Yoh 16:13).
Tanpa Tradisi, penentuan kanon Perjanjian Baru pun mustahil, karena tidak ada daftar eksplisit dari Kristus. Tradisi Apostolik menjadi patokan yang memungkinkan Gereja membedakan kitab ilahi dari yang sekadar bermanfaat.
Septuaginta sebagai Fondasi Utama Kanon Perjanjian Lama Katolik
Septuaginta (LXX), terjemahan Yunani Perjanjian Lama yang disusun antara abad ke-3 hingga ke-2 SM di Aleksandria, menjadi "Alkitab" Gereja mula-mula.
Legenda menyebut 72 sarjana Yahudi menerjemahkannya atas perintah Ptolemaeus II. Versi ini tidak hanya menerjemahkan teks Ibrani, tetapi juga menyertakan kitab-kitab tambahan dalam bahasa Yunani atau Aram.
Hampir semua kutipan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru (sekitar 300 dari 350) sesuai dengan Septuaginta, bukan teks Masoretik.
Yesus membaca dari gulungan Yunani di Nazaret (Luk 4:17-19). Para Rasul menggunakan LXX untuk dakwah di dunia Helenistik. Naskah kuno seperti Codex Vaticanus (abad ke-4) dan Codex Sinaiticus menyertakan deuterokanonika di antara kitab lain, menunjukkan status setara.⁴
Perbedaan dengan kanon Palestina (39 kitab) timbul karena komunitas Yahudi di diaspora Aleksandria lebih terbuka terhadap inspirasi.
Setelah tahun 70 M dan pemberontakan Bar Kokhba (132-135 M), rabi di Yabne membatasi kanon pada teks Ibrani untuk membedakan dari Kristen.
Baca Septuaginta dan Kitab-Kitab Deuterokanonika
Gereja mempertahankan Septuaginta sebagai persiapan ilahi bagi Injil bagi bangsa-bangsa. Paus Damasus I (366-384 M) memerintahkan Hieronimus merevisi Vulgata berdasarkan LXX dan tradisi Latin. Septuaginta bukan sekadar terjemahan, melainkan sarana utama menyampaikan kanon lengkap kepada Gereja Katolik.
Deuterokanonika: Buku-buku yang Diperdebatkan dan Diakui Gereja
"Deuterokanonika" (kanon kedua) merujuk pada tujuh kitab Perjanjian Lama tidak termasuk dalam kanon Ibrani: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh (termasuk Surat Yeremia), 1 Makabe, dan 2 Makabe, plus tambahan pada Ester dan Daniel. Kitab-kitab ini ditulis antara abad ke-3 SM hingga abad ke-1 SM, sebagian besar dalam Yunani.
Deuterokanonika diperdebatkan karena tidak ada dalam teks Ibrani standar dan ditulis kemudian. Hieronimus menyebutnya "apokrif" dalam Prologus Galeatus, tetapi menerjemahkannya atas permintaan Paus.
Baca PURGATORIUM, Membedah Logika Protestantisme
Mayoritas Bapa Gereja seperti Origenes, Ireneus, Klemens dari Aleksandria, dan Agustinus mengutipnya sebagai Kitab Suci.⁵ Contoh: 2 Makabe 12:43-46 mendukung doa untuk orang mati, dipraktikkan sejak awal.
Gereja Katolik mengakui kitab-kitab ini sebagai ilahi karena penggunaan liturgi perdana, kesaksian Bapa Gereja, dan keputusan konsili. Konsili Trente (1546) menyatakan kitab-kitab ini "suci dan kanonik, dengan semua bagiannya, seperti yang biasa dibaca dalam Gereja dan terdapat dalam edisi Vulgata kuno".⁶
Deuterokanonika memperkaya teologi Katolik, seperti kebijaksanaan ilahi (Kebijaksanaan), perlawanan terhadap penyembahan berhala (1 Makabe), dan kehidupan kekal (2 Makabe). Penolakan Protestan pada abad ke-16 lebih reaksioner terhadap doktrin purgatori daripada alasan historis.
Baca Purgatorium dalam Iman Katolik: Dasar Biblis, Teologis, dan Ajaran Magisterium
Penetapan Resmi Kanon oleh Konsili dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini
Penetapan resmi kanon melalui konsili regional yang dikonfirmasi secara universal. Konsili Roma (382 M) di bawah Paus Damasus I memberikan daftar lengkap identik dengan Trente. Sinode Hippo (393 M) dan Konsili Kartago (397 M dan 419 M), dihadiri Agustinus, mencantumkan deuterokanonika dalam kanon 24.⁷
Konsili Florensia (1442 M) mengulangi daftar ini. Konsili Trente (Sesi IV, 1546) mendefinisikan kanon secara infallibel sebagai tanggapan terhadap Reformasi: "Jika ada yang tidak menerima kitab-kitab ini sebagai suci dan kanonik… hendaklah ia dikucilkan."⁸
Baca Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium: Trisula Kekokohan Gereja Katolik Sepanjang Lebih 2 Milenia
Relevansi kanon bagi masa kini signifikan. Di era informasi digital dan relativisme, kanon mengingatkan bahwa Firman Allah adalah pemberian Roh Kudus melalui Gereja.
KGK no. 127 menegaskan Injil-empat sebagai pusat, tetapi seluruh kanon satu kesatuan. Deuterokanonika membantu menghayati martir, kebijaksanaan, dan doa syafaat. Dalam dialog ekumenis, pemahaman historis Septuaginta dan tradisi menjadi jembatan.
Catatan akhir
- Kanon suci Gereja Katolik adalah hasil harmonis antara Kitab Suci dan Tradisi, dimulai dari Gereja mula-mula, diperkaya Septuaginta, dan diteguhkan konsili.
- Deuterokanonika bagian integral yang memperkaya wahyu Allah. Melalui kanon ini, Gereja mendengarkan suara Kristus hingga akhir zaman.
- Umat Katolik diajak menghayati Alkitab sebagai kesatuan ilahi yang membawa keselamatan.
Catatan Kaki
¹ Agustinus, De Doctrina Christiana, Buku II, bab 8.
² Katekismus Gereja Katolik, no. 120.
³ Dei Verbum, no. 9-10.
⁴ F.F. Bruce, The Canon of Scripture, hlm. 52-53.
⁵ Catholic Encyclopedia, "Canon of the Old Testament".
⁶ Dekret Konsili Trente, Sesi IV.
⁷ Konsili Kartago (397 M), Kanon 24.
⁸ Dekret Konsili Trente, Sesi IV.
Daftar Pustaka
1. Katekismus Gereja Katolik. Ende: Nusa Indah, 1995.
2. Dei Verbum. Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, Konsili Vatikan II. Vatican: Libreria Editrice Vaticana, 1965.
3. "Canon of the Old Testament." The Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company, 1913. Diakses dari New Advent.
4. Bruce, F.F. The Canon of Scripture. Downers Grove: InterVarsity Press, 1988.
5. Konsili Hippo (393) dan Kartago (397, 419). Teks Latin dalam Church Fathers, New Advent.
6. Dekret Konsili Trente, Sesi IV (1546). Dalam Canons and Decrees of the Council of Trent, ed. H.J. Schroeder. Rockford: TAN Books, 1978.
7. Agustinus. De Doctrina Christiana. Edisi Latin, Patrologia Latina, vol. 34.
8. Sundberg, Albert C. “The Septuagint: The Bible of Hellenistic Judaism.” Dalam The Canon Debate, ed. Lee Martin McDonald & James A. Sanders. Peabody: Hendrickson, 2002.
9. Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2012.
10. "Council of Trent: Fourth Session." Diakses dari Papal Encyclicals Online, 2026.
Disclaimer: Tulisan ini terverifikasi sumber-sumber tepercaya seperti dokumen resmi Vatikan, Catholic Encyclopedia, dan karya akademis historis, menghindari sumber non-akademik seperti Wikipedia. Semua fakta telah dicek ulang demi akurasi.