Umat Katolik Tetap Kuat dalam Komunio Gereja Sedunia
Gereja yang satu, kudus, Katolik dan apostolik adalah rumusan Syahadat Nicea-Konstantinopel. Istimewa.
Oleh Bonifasius Teguh Imanqu
Umat Katolik tidak gamang, apalagi menjadi bingung, Tetap Kuat dalam Komunio Gereja Sedunia. Menghadapi gelombang sekularisme yang menyingkirkan Tuhan dari ruang publik dan arus post-truth yang mengaburkan batas antara fakta dan opini, mereka tidak kehilangan arah, sebab berakar pada Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik yang menjaga kesatuan iman lintas bangsa dan zaman.
Di tengah zaman yang bergerak cepat, ketika informasi beredar tanpa saringan dan opini sering disamakan dengan kebenaran, umat Katolik tidak kehilangan arah.
Orang Katolik tidak bingung. Mereka tidak tercerai-berai oleh gelombang tafsir pribadi. Mereka berdiri dalam satu tubuh, satu iman, satu persekutuan yang melintasi bangsa dan benua. Itulah komunio Gereja sedunia yang bilangan penganutnya hingga hari ini tidak kurang dari 1,4 miliar jiwa.
Komunio bukan sekadar relasi administratif antara keuskupan-keuskupan. Ia adalah persekutuan iman yang berakar pada pengakuan yang sama, sakramen yang sama, dan kepemimpinan yang sama. Dari kampung-kampung di Borneo, Sumatera, Papua, Sulawesi hingga Basilika Santo Petrus di Roma, denyutnya satu. Dalam denyut itulah umat Katolik menemukan kepastian, keteguhan, dan arah.
Ada empat pilar yang membuat umat tidak bingung dan tetap kuat dalam komunio Gereja sedunia: Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik; Kitab Suci lengkap dengan Deuterokanonika; Magisterium; serta suksesi apostolik yang jelas sejak Paus pertama, Santo Petrus, hingga kini Paus Leo XIV.
1. Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik
Setiap kali Syahadat Nicea-Konstantinopel didaraskan, umat mengucapkan pengakuan iman: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.” Ini bukan rumus hafalan. Ini fondasi identitas.
Kesatuan Gereja bukan keseragaman budaya. Umat di Afrika merayakan liturgi dengan irama yang berbeda dari umat di Asia. Umat di Eropa memiliki sejarah panjang yang berbeda dari Gereja di Amerika Latin. Namun di dalam keberagaman itu, iman yang diakui tetap satu. Sakramen yang dirayakan tetap satu. Pengakuan akan Kristus tetap satu.
Kesatuan itu berakar pada Kristus sendiri. Rasul Paulus menulis bahwa Gereja adalah satu tubuh dengan banyak anggota. Tubuh itu tidak terpecah-pecah menjadi banyak kepala. Kepala Gereja adalah Kristus. Dalam sejarah yang konkret, kesatuan itu juga tampak dalam persekutuan dengan Uskup Roma, penerus Santo Petrus.
Gereja disebut kudus bukan karena semua anggotanya tanpa dosa, melainkan karena sumbernya kudus. Kekudusan Gereja mengalir dari Kristus yang kudus dan Roh Kudus yang menguduskan. Di tengah skandal, kelemahan manusia, dan keterbatasan sejarah, Gereja tetap kudus dalam hakikatnya. Sakramen tetap sah. Rahmat tetap mengalir.
Gereja disebut katolik, artinya: universal. Ia melampaui batas etnis, bahasa, dan negara. Seorang Dayak di pedalaman Borneo dan seorang petani di Amerika Latin berada dalam persekutuan yang sama ketika menerima Ekaristi. Universalitas ini bukan sekadar geografis, melainkan juga kepenuhan ajaran. Iman Katolik tidak dipilih-pilih sesuai selera zaman. Ia utuh.
Gereja disebut apostolik karena berakar pada para rasul. Iman yang diajarkan hari ini bukan inovasi abad ke-21. Ia adalah iman yang sama yang diwartakan para rasul sejak abad pertama. Dalam kesadaran inilah umat Katolik tidak bingung. Mereka tahu bahwa iman mereka bukan hasil eksperimen teologis terbaru, melainkan warisan apostolik yang hidup.
2. Kitab Suci Lengkap dengan Deuterokanonika
Di tengah banyaknya tafsir dan terjemahan, umat Katolik memiliki kepastian: Kitab Suci yang diakui Gereja, lengkap dengan kitab-kitab Deuterokanonika.
Kitab-kitab seperti Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, serta 1 dan 2 Makabe bukan tambahan sembarangan. Sejak awal, Gereja perdana menggunakan Septuaginta, terjemahan Yunani Perjanjian Lama yang mencakup kitab-kitab tersebut. Dalam sejarah kanonisasi, Gereja melalui konsili-konsili menetapkan daftar kitab yang diakui sebagai inspirasi Roh Kudus.
Dengan menerima Deuterokanonika, Gereja menjaga kesinambungan tradisi iman yang hidup sejak awal. Ajaran tentang doa bagi orang mati dalam 2 Makabe, misalnya, menjadi dasar refleksi teologis tentang purgatorium. Kebijaksanaan Salomo memperkaya pemahaman tentang keabadian jiwa dan keadilan Allah.
Kitab Suci dalam Gereja Katolik tidak berdiri sendiri sebagai teks yang ditafsirkan secara individualistik. Ia dibaca dalam terang Tradisi dan dalam bimbingan Magisterium. Karena itu, umat tidak terombang-ambing oleh tafsir pribadi yang liar. Mereka membaca Kitab Suci dalam Gereja, bersama Gereja, dan untuk Gereja.
Kesatuan kanon Kitab Suci ini menjadi perekat komunio. Seorang imam di Borneo, seorang uskup di Afrika, dan Paus di Roma membaca Injil yang sama, Mazmur yang sama, kitab-kitab yang sama. Sabda yang sama dikhotbahkan, direnungkan, dan dihidupi.
Di era digital ketika potongan ayat sering dicabut dari konteks untuk mendukung opini tertentu, Gereja menjaga integritas Sabda. Kitab Suci lengkap dengan Deuterokanonika menjadi penegasan bahwa iman Katolik tidak disederhanakan menjadi slogan-slogan, melainkan bertumpu pada keseluruhan wahyu Allah.
3. Magisterium sebagai Penjaga dan Penafsir Iman
Magisterium sering disalahpahami sebagai otoritas yang membatasi kebebasan berpikir. Padahal, dalam pemahaman Katolik, Magisterium adalah pelayanan. Ia menjaga agar iman yang diwariskan para rasul tetap murni dan tidak terdistorsi.
Magisterium dijalankan oleh para uskup dalam persekutuan dengan Uskup Roma. Ketika para uskup bersidang dalam konsili ekumenis atau ketika Paus mengajar secara resmi dalam hal iman dan moral, mereka tidak menciptakan wahyu baru. Mereka menafsirkan dan menegaskan wahyu yang telah diberikan.
Sepanjang sejarah, Magisterium telah menanggapi berbagai krisis: ajaran sesat tentang keilahian Kristus, perdebatan tentang Tritunggal, persoalan moralitas, hingga tantangan bioetika modern.
Dalam setiap zaman, Gereja tidak diam. Ia berdialog, meneliti, dan akhirnya menegaskan ajaran yang setia pada Tradisi apostolik.
Tanpa Magisterium, setiap orang bisa mengklaim tafsirnya sendiri sebagai yang paling benar. Fragmentasi tak terhindarkan. Inilah yang terjadi ketika otoritas penafsiran dilepaskan dari struktur Gereja. Namun dalam Gereja Katolik, ada pusat kesatuan ajaran.
Magisterium bukanlah suara tunggal yang terpisah dari umat. Ia lahir dari pergumulan iman seluruh Gereja, disaring dalam doa, refleksi teologis, dan bimbingan Roh Kudus. Ketika Magisterium berbicara, umat memiliki pegangan yang kokoh.
Karena itu umat Katolik tidak bingung menghadapi isu-isu kontemporer. Mereka menanti penegasan Gereja. Mereka mendengarkan para gembala.
Dalam ketaatan iman itulah terbangun komunio yang dewasa, bukan ketaatan buta, melainkan ketaatan yang sadar akan janji Kristus bahwa Roh Kebenaran akan membimbing Gereja ke dalam seluruh kebenaran.
4. Suksesi Apostolik dari Santo Petrus hingga Paus Leo XIV
Salah satu tanda paling nyata dari kesinambungan Gereja adalah suksesi apostolik. Sejak awal, para rasul menumpangkan tangan atas penerus-penerus mereka. Rantai ini tidak terputus.
Di antara para rasul, Santo Petrus memiliki peran khusus. Ia menerima amanat dari Kristus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Tradisi Gereja mengenal Petrus sebagai Uskup Roma pertama. Dari dialah garis kepemimpinan itu diteruskan.
Nama-nama para paus tercatat dalam sejarah, bukan sebagai legenda, melainkan sebagai figur konkret dalam ruang dan waktu. Dari Petrus, Linus, Kletus, Klemens, hingga paus-paus di abad pertengahan, masa modern, dan kini Paus Leo XIV, suksesi itu terjaga.
Suksesi apostolik bukan sekadar daftar nama. Ia adalah jaminan bahwa sakramen yang dirayakan hari ini terhubung dengan para rasul. Ketika seorang uskup ditahbiskan, ia menerima tahbisan dari uskup lain yang berada dalam rantai yang sama, yang pada akhirnya bersumber pada para rasul.
Dalam suksesi ini, umat melihat stabilitas. Gereja bukan komunitas yang lahir kemarin sore. Ia telah melewati penganiayaan, perpecahan, reformasi, revolusi, perang dunia, hingga era digital. Namun garis apostolik tetap utuh.
Paus sebagai penerus Petrus menjadi tanda kesatuan yang kelihatan. Dalam dirinya, Gereja universal menemukan titik rujuk. Ketika Paus berbicara dalam kapasitasnya sebagai gembala tertinggi, umat di seluruh dunia mendengarkan dengan iman.
Kesetiaan pada suksesi apostolik membuat umat tidak terombang-ambing oleh figur-figur karismatik sesaat. Kepemimpinan Gereja bukan ditentukan oleh popularitas, melainkan oleh kesinambungan apostolik. Di sinilah komunio menemukan bentuk konkret.
Penutup
Umat Katolik tidak bingung karena mereka berdiri di atas fondasi yang kokoh. Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik memberi identitas. Kitab Suci lengkap dengan Deuterokanonika memberi dasar wahyu yang utuh. Magisterium memberi kepastian penafsiran. Suksesi apostolik memberi kesinambungan sejarah dan sakramental.
Dalam dunia yang sering kehilangan pusat, Gereja menawarkan pusat itu: Kristus sendiri yang hadir dalam tubuh-Nya yang kelihatan.
Komunio Gereja sedunia bukan slogan. Ia adalah realitas yang dihidupi dalam Ekaristi, dalam doa, dalam ketaatan iman.
Dari desa terpencil hingga kota metropolitan, dari Borneo hingga Roma, umat Katolik tetap satu. Mereka mungkin berbeda bahasa dan budaya, tetapi iman mereka sama. Dan selama empat pilar ini dijaga, umat tidak akan bingung.
Orang Katolik akan tetap kuat, berakar, dan bertumbuh dalam komunio Gereja yang melintasi zaman.