Iman yang Menjadi Gerakan: Kisah Lahir dan Bertumbuhnya KSP CU Lantang Tipo
Buku yang menyejarahkan 50 Tahun KSP CU Lantang Tipo. Ist.
By: Amon Stefanus
Dalam rangka memperingati 50 Tahun KSP CU Lantang Tipo, saya mendapat kepercayaan dari GM CU Lantang Tipo, Bapak Kristianus Indra, untuk menyusun sebuah buku yang merekam jejak perjalanan lembaga keuangan rakyat ini.
Perjalanan riset
Pada akhir September 2025, saya berangkat ke Sanggau. Selama empat hari saya tinggal di sana. Lalu melanjutkan dua malam di Pontianak.
Bersama Tim Riset, saya mewawancarai para pendiri dan perintis yang masih hidup, pastor paroki yang pernah mendampingi, para aktivis, serta anggota-anggota yang telah merasakan buah perjuangan CU dan mencapai keberhasilan dalam hidup mereka.
Percakapan demi percakapan membuka kembali kisah-kisah awal yang penuh keterbatasan, semangat gotong royong, serta keberanian melawan kemiskinan melalui gerakan kredit union. Dari cerita-cerita itulah tersusun mozaik sejarah yang hidup; bukan sekadar angka dan laporan, tetapi perjuangan nyata manusia-manusia sederhana dengan mimpi besar.
Selama hampir dua bulan, saya menata, menulis, dan merangkai semua data, kesaksian, dan dokumen menjadi sebuah buku yang utuh. Akhirnya, pada 2 Februari 2026, tepat pada peringatan emas 50 tahun CU Lantang Tipo, buku tersebut resmi diluncurkan.
Inilah sejarah singkat perjalanan CU Lantang Tipo yang kini dikenal sebagai Credit Union terbesar di Kalimantan sebuah kisah tentang ketekunan, solidaritas, dan harapan yang terus bertumbuh dari generasi ke generasi.
CU Lantang Tipo lahir dari pergumulan hidup umat sederhana
KSP CU Lantang Tipo lahir dari pergumulan hidup umat sederhana di pedalaman Kalimantan Barat, khususnya di Paroki Pusat Damai, Kabupaten Sanggau, pada awal 1970-an. Saat itu, kondisi ekonomi masyarakat sangat terbatas: jalan berlumpur, penghasilan rendah, dan harga kebutuhan pokok tinggi.
Banyak keluarga kesulitan membiayai pendidikan anak-anak. Dari situ muncul semangat saling menolong di antara para guru dan katekis yang menggagas “Toko Bersama” dengan sistem pembayaran akhir bulan. Inisiatif sederhana ini menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan dapat dimulai dari kebersamaan dan kejujuran.
Kesadaran tersebut menjadi benih lahirnya gerakan Credit Union (CU), yang dipahami bukan sekadar lembaga simpan pinjam, tetapi gerakan pendidikan sosial dan iman. Titik balik terjadi pada 24–28 Agustus 1975 ketika Keuskupan Agung Pontianak melalui Delegatus Sosial mengadakan kursus Credit Union di Sanggau. Lima utusan dari Paroki Pusat Damai mengikuti pelatihan tersebut dan sepulangnya langsung melakukan sosialisasi kepada 23 orang guru dan karyawan paroki.
Pada 2 Februari 1976, dibentuklah Pra-CU Pusat Damai yang dihadiri 27 orang pendiri. Mereka bekerja tanpa gaji dan fasilitas memadai, hanya berbekal semangat pelayanan. Dengan mesin tik tua, buku tulis, dan lampu pelita, mereka berkeliling kampung memberikan pendidikan tentang menabung dan tanggung jawab keuangan. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari berdirinya CU Lantang Tipo.
Nama “Lantang Tipo” diusulkan oleh Engelbertus Acang. Dalam bahasa Dayak Pandu dan Hibun, “Lantang” berarti tunas dan “Tipo” adalah tumbuhan hutan yang tetap tumbuh kembali meski dipotong. Nama ini melambangkan semangat pantang menyerah. Dari sinilah lahir semboyan “Lantang Tipo, Pantang Tipu,” yang menegaskan kejujuran sebagai nilai utama.
Pada periode 1977–1985, para perintis dengan penuh pengorbanan menjangkau kampung-kampung terpencil, berjalan kaki menembus hutan dan lumpur. Dukungan rohani dari para pastor misionaris memperkuat gerakan ini. Dua dekade pertama (1986–2000) menjadi masa konsolidasi dan pendidikan anggota. CU menjadi “sekolah kehidupan” yang mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan solidaritas. Dampaknya nyata: anak-anak dapat bersekolah, rumah diperbaiki, dan usaha kecil berkembang.
Memasuki 2001–2010, CU Lantang Tipo memperluas pelayanan ke seluruh Kalimantan Barat melalui perencanaan strategis. Kantor cabang dibuka, kaderisasi diperkuat, dan manajemen dikembangkan. Pada era 2010–2020, lembaga ini memasuki digitalisasi melalui sistem komputerisasi dan jaringan online, meningkatkan efisiensi dan transparansi tanpa meninggalkan nilai dasar kasih dan kejujuran. Program sosial seperti bantuan kebakaran, asuransi pinjaman, dan bantuan rawat inap menjadi wujud nyata solidaritas.
Periode 2020–2025 ditandai dengan transformasi struktur organisasi dan penerapan sistem area untuk meningkatkan efektivitas pelayanan. Regenerasi kepemimpinan berjalan seiring inovasi dan profesionalitas, namun tetap berakar pada spiritualitas Katolik. CU Lantang Tipo juga aktif berjejaring secara nasional dan internasional.
Salah satu Credit Union terbesar di Indonesia
Kini, setelah lima puluh tahun, CU Lantang Tipo menjadi salah satu Credit Union terbesar di Indonesia dengan ratusan ribu anggota. Namun, semangat awalnya tetap sama: membangun manusia, bukan sekadar mengelola uang.
“Lantang Tipo, Pantang Tipu” tetap menjadi warisan moral yang menegaskan bahwa kejujuran, iman, dan solidaritas adalah fondasi utama dalam membangun kesejahteraan bersama.*