Homo Viator nan tak Kenal Lelah

Homo Viator nan tak Kenal Lelah
Ariobimo Nusantara

Antusiasme umat Katolik dalam mengikuti kegiatan Mlampah Ziarah (MZ), semakin sulit terbendung. Di mana pun dan kapan pun dibuka pendaftaran kegiatan mlampah ziarah, peminat selalu melimpah. 

Mlampah Ziarah ke Gua Maria Bukit Kanada, Rangkasbitung Lebak, Banten, misalnya, pendaftaran baru 15-20 menit dibuka, portal harus segera ditutup karena kuota 110 peserta langsung terakuisisi oleh peziarah dari berbagai kota di Indonesia. 

Baca Mlampah Ziarah: Mewujudnya Kembali Budaya Ziarah dengan Berjalan Kaki

Adapun sejumlah lainnya harus rela mengantri di bangku cadangan, sekira ada peserta yang mengundurkan diri di menit-menit terakhir.

Lokasi Gua Maria Bukit Kanada

Setidaknya, itulah yang dialami oleh Komunitas Mlampah Ziarah Chapter Jabodetabek, satu dari delapan chapter Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ) yang berpusat di kota Yogyakarta. Jumlah keseluruhan anggota KMZ saat ini sudah lebih dari 2.500 orang, tersebar di pelbagai tlatah di Indonesia.

Secara geografis, lokasi Gua Maria Bukit Kanada sangat mudah dijangkau dengan alat transportasi modern. Namun, bukan kenyamanan semacam itu yang dicari dari kegiatan mlampah ziarah ini. Oleh karenanya, untuk menyiapkan gelaran ziarah perdana ini, tim Mlampah Ziarah Chapter Jabodetabek melakukan survei hingga 3-4 kali guna menemukan rute yang tak hanya aman namun juga memberi ruang bagi para peziarah untuk melakukan kontemplasi pribadi selama perjalanan peziarahan. Tak heran bila upaya itu melahirkan sebuah rute ziarah yang diapresiasi oleh semua peserta.

Baca OMK: Energi dan Inspirasi Baru Mlampah Ziarah

Titik kumpul dipilih di Stasiun Maja, sebuah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak. Stasiun ini secara khusus melayani rute KRL Commuter Line, sehingga memudahkan mobilitas peziarah yang datang dari berbagai daerah. Dari sinilah perjalanan ziarah diberangkatkan, berjalan sejauh 20 kilometer menuju Gua Maria Bukit Kanada, Rangkasbitung. 

Nama yang unik “Bukit Kanada” merupakan kependekan dari “Bunda Kita Kampung Narimbang Dalam”, sebuah wilayah administratif tempat Gua Maria itu dibangun oleh umat Paroki Rangkasbitung dengan bantuan dari pimpinan Kongregasi Suster-suster Fransiskan Sukabumi di Rangkasbitung pada 1988. Gua ini merupakan tempat ziarah pertama di tanah Banten.

Cuaca hari itu, Minggu 26 April 2026, boleh dibilang tidak terlalu ramah. Matahari menyengat para peziarah dengan kekuatan penuh, bahkan sejak langkah pertama diayun pada pukul 07:00 WIB. Namun, apalah arti terik yang nyelekit itu bagi para peziarah dibandingkan dengan jarak yang telah mereka tempuh puluhan hingga ratusan kilometer dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Bandung, Cirebon, Surabaya, dan Yogyakarta untuk sampai di Stasiun Maja. Mereka menerimanya dengan sukacita. Aurora Musis amica, pagi yang cerah merupakan awal hari yang baik.

Selepas dari Stasiun Maja, para pendamping dan relawan secara bergelombang memandu peziarah lintas kota itu menyusur jalan kampung, membelah jalan raya, sebelum akhirnya menerabas areal persawahan, jalan bebatuan terjal, menembus kebun karet, hingga kebun kelapa sawit, dengan fitur geografi dan karakteristik kondisi tanah yang tak terbayangkan sebelumnya. Suara canda yang semula terdengar renyah, perlahan redup dan berganti dengan suara gemerisik daun-daun kering yang terinjak oleh langkah-langkah yang mulai melemah.

Baca Gua Maria di Indonesia yang Wajib Kamu Ketahui dan Kunjungi

Seiring dengan suhu permukaan bumi yang semakin intens, energi peserta ziarah semakin terkuras, emosi pun mulai terpantik. Rasa lelah, capek, dan ingin menyerah menjelma menjadi godaan yang mengintai titik lemah manusia—menjebak dan menjegal niat berjumpa dengan Bunda Maria. 

Namun, para peziarah tak surut langkah, mereka tetap setia pada pengharapan meski tertatih melangkah. Tak heran, bila wajah-wajah lelah dan pasrah berubah sumringah begitu kaki melangkah memasuki gerbang Gua Maria Bukit Kanada.

 “Dalam setiap niat ziarah pasti ada rintangan dan halangan untuk membatalkannya,” sambut Roni Romel, penggagas dan ketua Komunitas Mlampah Ziarah yang secara khusus hadir sebagai peserta dari Yogyakarta. 

Maka, ia sangat mengapresiasi para peziarah perdana Gua Maria Bukit Kanada, yang tetap tekun pada niat menyelesaikan mlampah ziarah. Tantangan selalu menghadang di tengah jalan, tetapi peziarah juga mengalami penyertaan dan pertolongan Tuhan. Ini adalah kemenangan iman, peserta yang semula tidak saling mengenal, berjalan bersama dengan satu niatan yang sama dan saling menguatkan.

Per Mariam Ad Jesum

Pada hari yang sama, di bagian lain Pulau Jawa, sekitar 114 umat Katolik berkumpul di Gereja Santo Paulus, Kleco,  yang terletak di Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Mereka merupakan anggota Komunitas Mlampah Ziarah yang berasal dari Solo, Soloraya (Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Boyolali, dan Sragen), Kalasan, Yogyakarta, Jakarta, dan Depok. 

Inilah kali kedua Komunitas Mlampah Ziarah Chapter Solo mengadakan mlampah ziarah menuju Gua Maria Mojosongo yang terletak di Mojosongo, Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Antusiasme umat Katolik untuk berpartisipasi dalam mlampah ziarah ke Gua Maria yang diberkati dan resmi dijadikan sebagai tempat ziarah umat Katolik oleh Uskup Semarang Mgr. Julius Darmaatmadja pada 25 Desember 1983 ini pun cukup tinggi. 

Namun, kali ini penyelenggara membatasi kuota untuk umat yang pernah mengikuti Walking Marathon de Sendang Sono (WMSS) dan anggota Mlampah Ziarah Solo sejumlah 50 peserta. Selebihnya kuota didesikasikan untuk umat Katolik yang baru pertama kali mengikuti kegiatan mlampah ziarah. Tidak sampai 2 minggu dari sejak pembukaan, kuota peserta sudah terisi penuh.

Tepat pukul 05:00 para peziarah mulai melangkah. Dari Gereja Santo Paulus, Kleco, peserta menyusuri jalan perkampungan batik Laweyan menuju Kapel Banaran yang berada di bawah Gereja Santo Petrus Purwosari. Seusai mencatatkan diri, peziarahan dilanjutkan menyusuri perkampungan melewati Gereja San Inigo Dirjodipuran yang terletak di Gajahan, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah.

Peserta ziarah selanjutnya diarahkan melewati alun-alun selatan, Keraton Surakarta, dan alun-alun utara, untuk kemudian menyusuri pusat kota Jalan Sudirman dan melewati Balaikota Surakarta. 

Memasuki pusat kota, cuaca relatif mulai memanas, meski waktu masih terbilang pagi. Memang, mayoritas rute yang dilalui adalah jalan besar. Namun, hal itu tidak mengurangi kekhidmatan peziarahan. Tak sedikit peserta yang memilih berjalan dalam diam di tengah keriuhan, sambil introspeksi diri. 

Titik singgah: Gereja Santo Antonius Padua Purbayan

Gereja Santo Antonius Padua Purbayan, gereja Katolik pertama di Kota Solo, menjadi titik singgah berikutnya. sebelum akhirnya rute dilanjutkan menyusuri perkampungan menuju Gereja Santa Maria Purbowardayan—Gereja bercorak joglo yang dibangun pada 1959. Barulah setelah itu peziarahan berlanjut menuju titik akhir: Gua Maria Mojosongo.

Sejak melangkah memasuki areal Gua Maria Mojosongo, hiruk pikuk perkotaan sirna dan beralih menjadi suasana tenang, sejuk, asri, sekaligus menghadirkan kedamaian. Satu per satu beban dan ganjalan sepanjang perjalanan seakan luruh di hadapan Bunda Maria, bersalin rupa menjadi sebuah pengharapan. 

Di sinilah terjalin perjumpaan peziarah dengan Bunda Maria, sebagaimana tertulis dalam sebuah frasa di gua, Per Mariam Ad Jesum, melalui Bunda Maria kita menuju pada Yesus. Bunda Maria akan membawa doa dan permohonan para peziarah kepada Yesus, putra-Nya. 

Makna ziarah bagi orang Katolik

Bagi orang Katolik, tradisi ziarah merupakan sebuah jalan pengharapan yang membantu perjumpaan dengan Tuhan dengan cara-cara yang khas dan istimewa, salah satunya melalui Bunda Maria. Dalam laku ziarah, umat mengalami peneguhan dan pembaruan iman lewat berbagai pengalaman personal, pertobatan, rekonsiliasi, dan doa. 

Secara khusus, berziarah dengan berjalan kaki mengundang dan memberdayakan peziarah untuk bersatu dan bersaksi mengenai Injil. 

Gerak perjalanan fisik mengingatkan para peziarah bahwa pada ghalibnya kita semua sedang berziarah menuju tanah air surgawi, yang dalam tradisi Gereja diistilahkan sebagai homo viator, insan yang berziarah, berada dalam perjalanan. Tak heran bila Gereja selalu mendorong umatnya untuk menjalani ziarah.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org