OMK: Energi dan Inspirasi Baru Mlampah Ziarah
| Peserta Mlampah Ziarah, meniti langkah demi langkah memenuhi panggilan Bunda Maria di Gua Maria Sendangsono (kiri) – dok. dharu |
Oleh Ariobimo Nusantara
Mlampah Ziarah tak kenal lelah. Setidaknya, itulah gambaran yang bisa disematkan pada Komunitas Mlampah Ziarah (KMZ), komunitas yang pokok kegiatannya adalah berziarah ke sejumlah Gua Maria dengan berjalan kaki.
Anggota komunitas yang dibentuk pada 2025 ini jumlahnya terus bertambah, berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Memasuki tahun 2026, Kegiatan Walking Marathon de Sendangsono (WMSS) dihelat pada 18 Januari 2026, diikuti oleh sekitar 300 peserta yang berasal dari Yogyakarta dan sekitar dan berbagai daerah di Indonesia.
Sama seperti pada pelaksanaan WMSS#6, untuk dapat ikut serta pada WMSS bilangan ketujuh (WMSS#7) ini, para peminat juga beradu dengan tenggat untuk bisa mendapatkan kuota. Tak lebih dari 24 jam, kuota peserta sudah penuh terisi.
Secara khusus, WMSS#7 memberi panggung pada Orang Muda Katolik (OMK), meski tetap terbuka bagi peserta lintas usia. Pada kegiatan kali ini, KMZ mendorong OMK untuk ikut terlibat aktif dalam kebangkitan hidup spiritual umat Katolik, yang diwujudkan dengan jalan berziarah, menempakan ujian fisik dan iman.
Di Gua Maria Sendangsono, KMZ menyiapkan sebuah wadah dialog bertajuk “Ngobrol OMK dengan tema: Muda, Katolik, Then What?” dan persembahan mini orchestra Evlogia String Quartet.
Dalam wadah dialog tersebut, Roni Romel berbagi pengalaman bagaimana Tuhan mempertemukannya dengan orang-orang baik yang tulus mendukungnya dalam membentuk Komunitas Mlampah Ziarah. Pun, OMK juga banyak menimba ilmu bagaimana Roni mengelola sebuah komunitas yang belum genap setahun, tetapi sudah menghimpun lebih dari seribu anggota dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Sebagai jantung kehidupan Gereja masa kini dan masa depan, partisipasi OMK pada Mlampah Ziarah kali ini memang menghadirkan suasana baru.
Baca juga Mlampah Ziarah: Mewujudnya Kembali Budaya Ziarah dengan Berjalan Kaki
Energi kaum muda Katolik seolah sedang diinjeksikan agar komunitas ini terus menjadi inspirasi bagi seluruh umat Katolik tanpa kecuali. Meski secara jumlah belum terlalu signifikan, keikutsertaan OMK dengan berbagai latar alasannya menjadi bekal bagi bersemainya semangat peziarahan ini.
“Saya memilih ikut kegiatan ini karena beda dari yang lain. Teman lain kalau nggak lari, ya sepedaan,” ungkap salah seorang peserta muda. Sementara, peserta muda yang lain, jujur mengatakan bahwa ketertarikannya pada kegiatan ini karena terinsipirasi dari cerita pamongnya. Alasan-alasan genuine khas anak muda yang sedang berproses dalam pencarian jati diri.
Selalu Menginspirasi
Dalam homili pada misa penutup di sore harinya, Romo Yohanes Iswahyudi, Pr antara lain menyampaikan bahwa kegiatan Mlampah Ziarah ini merupakan salah satu wujud nyata dari semangat Arah Dasar (ARDAS) IX 2026-2030 Keuskupan Agung Semarang (KAS), yakni Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan—khususnya ditekankan pada poin “Menginspirasi”.
Romo yang sejak awal mengikuti perkembangan komunitas ini memberikan testimoni betapa kapel Maria tempat perayaan Ekaristi sore itu terasa semakin sempit karena jumlah peserta Mlampah Ziarah yang terus bertambah. Romo percaya bahwa ada energi yang menggerakkan, ada kesadaran diri dari para peserta, sehingga komunitas ini terus menginspirasi umat.
Kesadaran diri yang membawa para peserta berikhtiar berjalan langkah demi langkah, untuk berjalan bersama Bunda Maria menuju Putranya, Yesus Kristus.
| Roni Romel bersama sebagian peserta WMSS#7 di Gua Maria Sendangsono. – dok. KMZ |
Roni Romel, penggagas sekaligus ketua Komunitas Mlampah Ziarah, tak menampik hal itu. Antusiasme umat Katolik untuk jalan-serta dalam ziarah ke Sendangsono sangat tinggi. Ia pun merasa sangat bersyukur karena “virus” Mlampah Ziarah mulai menular ke berbagai daerah di Indonesia: Solo, Malang, Bandung, Cirebon, dan Bali. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa ketika Bunda Maria sudah memanggil, tak satu pun kerikil mampu menghalangi.
Mukjizat Itu Nyata
Meski baru berdiri secara resmi pada 2025, Komunitas Mlampah Ziarah telah berkembang pesat. Setidaknya, wajah-wajah baru selalu hadir di tiap penyelenggaraan WMSS. Dan, di balik itu semua, selalu terselip kesaksian-kesaksian yang menguatkan iman.
Pada saat keberangkatan WMSS#7, misalnya. Cuaca yang mengiringi peziarahan boleh dibilang sangat bersahabat—tanpa hujan, tanpa sengatan matahari. Padahal, sehari sebelumnya hujan yang mengguyur kota Yogyakarta begitu dahsyat, bahkan disertai kilatan petir dan guntur menggelegar.
“… berkat doa Suster Agustin yang tadi pagi memohonkan doa agar cuaca bersahabat, tidak turun hujan juga tidak panas. Puji Tuhan doa Suster Agustin dikabulkan,” ungkap Roni Romel saat memberi sambutan seusai misa penutup di sore harinya.
“Doa yang dikabulkan” adalah mukjizat yang selalu diharapkan oleh setiap orang beriman. Harapan yang sama itulah yang juga menjadi dorongan kuat bagi para peserta ziarah untuk dapat menuntaskan perjalanan ziarah mereka hingga bersimpuh di depan Gua Maria Sendangsono. Secara umum, peserta ziarah menyadari mukjizat itu nyata saat dirinya berhasil menaklukkan segala rintangan selama perjalanan.
Dalam grup percakapan komunitas KMZ, sejumlah peserta mengakui bahwa mereka sempat patah semangat di tengah jalan. Jalan terseok, langkah melemah, bahkan mengalami kram otot kaki. Namun, di sisi lain mereka juga mengakui ada dorongan kuat untuk tidak menyerah, yang memanggil mereka untuk menyelesaikan peziarahan—dengan alasannya masing-masing.
“Ini adalah keikutsertaan saya yang kedua. Saya datang lagi ke tempat ini untuk mengucap syukur atas terkabulnya doa permohonan saya saat WMSS#6 lalu. Saya tidak pernah menyangka boleh menerima mukjizat secepat itu,” cerita seorang peziarah asal Tangerang, yang tampak lega bisa menyelesaikan nazarnya dengan baik.
“Buat saya perjalanan kali ini terasa lebih berat. Mungkin karena saya sowan Ibu dengan membawa titipan ujub tertulis dari saudara-saudara saya yang tidak bisa ikut kegiatan Mlampah Ziarah. Tapi sekarang rasanya lebih enteng, sudah plong, ujub sudah saya masukkan ke dalam pot pembakaran surat,” aku seorang ibu dari Jakarta.
Pengalaman-pengalaman batin tersebut akhirnya menggenapi pepatah Latin “per Mariam ad Iesum” (melalui Maria menuju Yesus).