Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik: Tentang Kesatuan, Kebenaran, dan Tanggung Jawab Sejarah

Kristus mendirikan 

Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik
Kristus mendirikan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Ist.
Oleh Br. Cosmas Damianus

Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik lahir dari kehendak Kristus sendiri. Sebuah kesatuan dalam kebenaran yang bukan sekadar warisan iman, melainkan tanggung jawab sejarah yang terus diuji oleh zaman.

Di tengah dunia yang semakin terbiasa dengan banyak versi kebenaran, kekristenan membawa klaim yang sejak awal tidak pernah sederhana. 

Kristus tidak datang menawarkan satu opsi spiritual di antara banyak pilihan. Ia datang membawa sebuah klaim yang lebih mendasar: membangun satu persekutuan iman, satu umat, satu Gereja.

Menjelang wafat-Nya, Yesus tidak berdoa agar para murid-Nya menjadi banyak. Ia berdoa agar mereka menjadi satu.

“Supaya mereka semua menjadi satu.”(Yohanes 17:21)

Dan faktanya. Sejak Gereja perdana berdiri dari Paus pertama, St. Petrus hingga kini Paus Leo XIV, Paus yang ke- 267, Katolik adalah Gereja yang satu. Tidak terpecah. Gereja Katolik "Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik."

Kata yang diberi tanda petik itu sering terdengar akrab. Namun di situlah letak radikalitasnya. 

Kesatuan bukan tambahan etis. Ia adalah inti dari kehendak Kristus. Doa itu bukan doa sosial. Ia adalah doa teologis. Doa tentang siapa Allah itu, dan bagaimana umat-Nya seharusnya hadir di dunia.

Kesatuan yang Bukan Sekadar Damai

Dalam dunia modern, kesatuan sering dimengerti sebagai ketiadaan konflik. Asal tidak bertengkar, asal saling membiarkan, dianggap sudah cukup. Tetapi kesatuan yang dimaksud dalam Injil bukanlah sekadar koeksistensi. Ia adalah communio. Kesatuan yang lahir dari kebenaran yang sama, iman yang sama, dan sumber hidup yang sama.

Paulus menyatakannya tanpa ragu:

“Satu tubuh dan satu Roh… satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.” (Efesus 4:4–5)

Bahasa Paulus lugas. Tidak ada ruang bagi pluralitas kebenaran yang saling meniadakan. Tubuh hanya satu. Dan kepala tubuh itu satu: Kristus. 

Maka Gereja, jika setia pada asal-usulnya, tidak mungkin dipahami sebagai sekadar federasi komunitas religius dengan ajaran yang bisa dinegosiasikan.

Kesatuan Gereja bukan hasil kesepakatan manusia. Ia lahir dari kehendak Allah sendiri. Karena itu, kesatuan ini bukan proyek politik, melainkan realitas iman.

Kekudusan yang Tidak Naif

Namun di sinilah keberatan sering muncul. Bagaimana mungkin Gereja disebut kudus, sementara sejarahnya dipenuhi kegagalan manusia? Skandal. Kekerasan. Ambisi. Dosa yang tidak bisa disangkal.

Jawabannya tidak terletak pada pembelaan moral, melainkan pada teologi. Gereja kudus bukan karena semua anggotanya suci, melainkan karena Kristus kudus. Kekudusan Gereja tidak diukur dari statistik moral, melainkan dari sumber rahmatnya.

Sejarah menunjukkan: di mana otoritas apostolik ditinggalkan, fragmentasi hampir selalu terjadi.

Gereja bukan kumpulan orang saleh. Ia adalah persekutuan orang berdosa yang disucikan. Justru karena itu Gereja tetap relevan. Ia tidak hidup dari ilusi kesempurnaan, melainkan dari rahmat yang bekerja di tengah kerapuhan manusia.

Kekudusan Gereja bersifat sakramental. Ia hadir dalam Sabda yang diwartakan. Dalam Sakramen yang dirayakan. 

Dalam iman yang diwariskan. Bahkan ketika para pelayannya jatuh, rahmat yang dipercayakan tidak ikut gugur.

Katolik: Tentang Kepenuhan, Bukan Klaim Mayoritas

Kata “katolik” sering dipersempit menjadi identitas institusional. Padahal maknanya lebih dalam. Katholikos berarti menyeluruh. Utuh. Lengkap.

Gereja disebut katolik bukan karena jumlah pengikutnya, melainkan karena ia menjaga kepenuhan iman. Bukan potongan kebenaran. Bukan ajaran yang dipilih sesuai selera zaman. Melainkan keseluruhan warisan iman yang diterima dari para rasul.

Sejak awal, Gereja memahami dirinya sebagai penjaga tradisi, bukan pencipta kebenaran. Ia menerima, lalu meneruskan. 

Dalam arti itu, katolisitas adalah sikap teologis: kesediaan untuk setia pada apa yang telah dipercayakan, bahkan ketika tidak populer.

Universalitas Gereja juga tidak berarti relativisme. Gereja hadir di segala bangsa, tetapi membawa iman yang sama. Ia menyesuaikan bahasa, bukan kebenaran. Ia berdialog dengan budaya, tanpa kehilangan pusatnya.

Apostolik: Iman yang Berakar dalam Sejarah

Salah satu ciri yang paling sering diabaikan dalam pembicaraan tentang Gereja adalah apostolisitas. Padahal di sanalah terletak jantung kontinuitas iman Kristen.

Gereja bersifat apostolik karena ia dibangun di atas para rasul. Bukan hanya secara simbolik, tetapi secara historis dan struktural. Iman Kristen tidak lahir dari refleksi individual, melainkan dari kesaksian yang diteruskan.

Suksesi apostolik bukan soal romantisme masa lalu. Ia adalah jaminan bahwa iman yang diwartakan hari ini tetap terhubung dengan sumbernya. 

Tanpa kesinambungan ini, iman mudah berubah menjadi interpretasi pribadi. Dan sejarah menunjukkan: di mana otoritas apostolik ditinggalkan, fragmentasi hampir selalu menyusul.

Subsistit in”: Bahasa yang Tidak Sederhana

Konsili Vatikan II memilih kata yang sangat hati-hati ketika menyatakan:

Gereja Kristus subsistit in Gereja Katolik.”

(Lumen Gentium, 8)

Rumusan ini sering disalahpahami. Gereja tidak mengatakan bahwa keselamatan hanya bekerja secara eksklusif dalam batas institusionalnya. Konsili justru mengakui adanya unsur kebenaran dan pengudusan di luar struktur formal Gereja Katolik.

Namun Konsili juga menegaskan bahwa kepenuhan sarana keselamatan: iman apostolik, sakramen, dan kepemimpinan yang sah, semua itu ada secara utuh dalam Gereja Katolik. Di sinilah letak ketegangan yang jujur: antara keterbukaan dan kejelasan identitas.

Ini bukan bahasa arogansi. Ini bahasa tanggung jawab. Gereja tidak mengklaim menciptakan kebenaran. Gereja mengakui telah menerimanya. Dan apa yang diterima tidak boleh diperlakukan sebagai milik pribadi.

Gereja sebagai Sakramen Dunia

Vatikan II menyebut Gereja sebagai sakramen keselamatan. Artinya, Gereja bukan tujuan akhir. Ia adalah alat. Sarana. Jembatan antara Allah dan manusia.

Seperti sakramen, Gereja memiliki dimensi kelihatan dan tak kelihatan. Struktur dan hierarki bukan tujuan, tetapi wadah rahmat. Tanpa struktur, iman menjadi cair. Tanpa rahmat, struktur menjadi kosong.

Tantangan Gereja bukan memilih salah satu, melainkan menjaga keduanya tetap seimbang. Setia pada kebenaran, sekaligus terbuka pada rahmat.

Kesatuan Gereja sebagai Panggilan Tugas Sejarah

Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik bukan slogan doktrinal. Ia adalah misteri yang harus terus diperjuangkan. Kesatuan bukan sesuatu yang sudah selesai. Ia adalah panggilan yang terus diuji oleh sejarah.

Kristus mendirikan satu Gereja. Bukan untuk meninggikan institusi. Melainkan untuk menyelamatkan manusia.

Dan kebenaran itu tidak diciptakan oleh Gereja. Ia diterima. Dipercayakan. Dan dijaga. Bukan tanpa luka.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org