Ignasius Kardinal Suharyo: Perkawinan Katolik adalah Jalan menuju Kekudusan

Ignasius Kardinal Suharyo: Perkawinan Katolik: Jalan menuju Kekudusan
Ignasius Kardinal Suharyo, memimpin misa konselebrasi dalam rangka Hari Perkawinan Sedunia di Gereja St. Ana, Duren Sawit, Jakarta Timur. Dokpen.

 Uskup Agung Jakarta, Ignasius Kardinal Suharyo, memimpin misa konselebrasi dalam rangka Hari Perkawinan Sedunia di Gereja St. Ana, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Minggu, 8 Februari 2026, pukul 13.00 WIB. 

Misa yang berlangsung meriah ini dipenuhi umat, hingga mengisi bangku utama dan loteng gereja.

Perkawinan Katolik adalahJalan Kekudusan

Dalam homilinya, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa perkawinan Katolik bukan sekadar institusi sosial atau kontrak hukum, melainkan panggilan rohani yang konkret. “Perkawinan Katolik adalah jalan menuju kekudusan,” ungkapnya dengan nada reflektif dan pastoral.

Ia mengajak umat untuk melihat kekudusan bukan sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak, melainkan hadir dalam keseharian hidup berkeluarga. Menurut Kardinal, Gereja mengenal banyak pribadi yang saleh: suami yang saleh, istri yang saleh. Namun, pasangan suami-istri yang bersama-sama bertumbuh dalam kekudusan masih menjadi sesuatu yang langka dan menantang.

Pernyataan ini tidak dimaksudkan sebagai kritik, melainkan sebagai ajakan. Kardinal mengajak pasangan suami-istri untuk tidak berhenti pada kesalehan individual, tetapi berani menjadikan perkawinan itu sendiri sebagai ruang pembentukan iman, kesetiaan, dan pengorbanan.

Misa Konselebrasi yang Dipenuhi Umat hingga Loteng Gereja

Sejak sebelum misa dimulai, Gereja St. Ana telah dipadati umat dari berbagai paroki dan latar belakang usia. 

Kehadiran umat yang memenuhi bangku utama hingga loteng menjadi tanda bahwa Hari Perkawinan Sedunia memiliki resonansi kuat di tengah umat Katolik Jakarta.

Perayaan ini tidak hanya dihadiri pasangan muda, tetapi juga pasangan lanjut usia yang telah puluhan tahun mengarungi hidup perkawinan. 

Atmosfer misa terasa inklusif, hangat, dan penuh kebersamaan. Umat tidak sekadar hadir sebagai penonton liturgi, tetapi sebagai bagian aktif dari perayaan iman bersama.

Konselebrasi para imam di altar menegaskan bahwa Gereja secara institusional dan pastoral berdiri bersama keluarga-keluarga Katolik. Perkawinan tidak diposisikan sebagai urusan privat semata, melainkan sebagai bagian integral dari kehidupan Gereja.

Dekorasi altar yang sederhana namun anggun, serta iringan koor yang tertata, semakin memperkuat nuansa sakral perayaan. Liturgi berjalan tertib, namun tetap memberi ruang bagi pengalaman emosional dan spiritual umat.

Pembaruan Janji Nikah: Hadap-Hadapan, Mengulang Kesetiaan

Salah satu momen paling menyentuh dalam misa ini adalah pembaruan janji nikah pasangan suami-istri (pasutri). 

Pasutri diminta berdiri dan saling berhadapan, mengucapkan kembali janji perkawinan yang pernah mereka ucapkan bertahun-tahun lalu.

Perkawinan Katolik adalah jalan menuju kekudusan
Tertangkap kamera dalam ulas-senyum bahagia 43 tahun pernikahan pasutri Petrus Gunarso-Ambar. Perkawinan Katolik adalah jalan menuju kekudusan. Dokpen.

Gestur hadap-hadapan ini sarat makna. Ia menegaskan bahwa perkawinan bukan hanya janji kepada Allah, tetapi juga janji yang terus-menerus diperbarui di hadapan pasangan hidup.

Dalam keheningan yang khidmat, banyak pasangan tampak menitikkan air mata, menyadari kembali perjalanan panjang yang telah mereka tempuh bersama.

Tercatat, pasangan suami-istri paling senior yang hadir telah menjalani usia perkawinan selama 53 tahun. Kehadiran mereka menjadi kesaksian hidup bahwa kesetiaan bukan mitos, melainkan kemungkinan nyata, meski penuh perjuangan.

Momen pembaruan janji nikah ini tidak hanya menjadi ritus simbolik, tetapi juga penguatan spiritual bagi pasangan lain. Ia mengingatkan bahwa cinta dalam perkawinan bukan hanya perasaan, melainkan keputusan yang diperbarui dari waktu ke waktu.

Kamu adalah garam dan terang dunia

Dalam khotbahnya, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa perkawinan Katolik adalah jalan menuju kekudusan, sekaligus jalan menuju kesempurnaan kasih dan jalan menuju kesempurnaan hidup kristiani. Kardinal mengingatkan bahwa kekudusan bukan monopoli para biarawan, biarawati, atau imam, melainkan juga panggilan nyata bagi pasangan suami-istri yang hidup dalam sakramen perkawinan.

Mengutip Paus FransiskusKardinal Suharyo menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk melihat pasangan suami-istri sebagai santo dan santa yang berjalan bersama. Kekudusan tidak selalu lahir dari tindakan heroik yang luar biasa, tetapi dari kesetiaan yang dijalani hari demi hari, dari kasih yang terus diperjuangkan dalam keterbatasan manusiawi. “Sepasang suami-istri,” demikian ditegaskan Kardinal, “dipanggil untuk menjadi kudus bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.”

Kardinal kemudian mengingatkan bahwa pada tahun 2015, Paus Fransiskus secara tegas menggarisbawahi dan menegaskan kembali ajaran Gereja bahwa perkawinan adalah jalan menuju kesempurnaan. 

"Perkawinan bukan sekadar status hidup, bukan hanya ikatan sosial atau institusional, melainkan sebuah jalan rohani. Jalan perkawinan Katolik ini menuntut pertumbuhan, pemurnian, dan pengudusan yang berlangsung seumur hidup," lanjut kardinal.

Namun, Kardinal Suharyo menekankan juga bahwa jalan perkawinan tidak cukup hanya ditopang oleh motivasi manusiawi. 

Motivasi bisa naik dan turun, bisa menguat dan melemah. Yang dibutuhkan adalah inspirasi yang khas Kristen, inspirasi yang berakar pada iman, Sabda Allah, dan teladan Kristus sendiri. Tanpa inspirasi iman, perkawinan mudah berubah menjadi sekadar rutinitas atau beban.

Dalam terang Kitab Suci, Kardinal mengajak umat merenungkan panggilan ini secara lebih mendalam. Dari Nabi Yesaya, dari Rasul Paulus, dan dari Yesus sendiri, Gereja mendengar satu pesan yang sama: “Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah terang dunia.” Sabda ini, menurut Kardinal, tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi juga kepada pasangan suami-istri dan keluarga Kristiani.

Menjadi garam dunia berarti memberi rasa, mencegah kebusukan, dan menghadirkan daya hidup di tengah masyarakat. Menjadi terang dunia berarti memberi arah, harapan, dan kesaksian. 

Di situlah letak jati diri kita sebagai orang Katolik, kata Kardinal dengan nada mendalam. Identitas ini bukan sekadar label, melainkan panggilan untuk menghadirkan kasih Allah secara konkret melalui hidup perkawinan.

Kardinal Suharyo menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa Hari Perkawinan Sedunia bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan undangan untuk kembali menyadari siapa kita dan ke mana kita melangkah. 

"Perkawinan Katolik adalah perjalanan iman, jalan menuju kekudusan, dan kesaksian kasih Allah di tengah dunia yang terus berubah," terang Kardinal Suharyo.

Pewarta: Rangkaya Bada 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org