Mlampah Ziarah: Mewujudnya Kembali Budaya Ziarah dengan Berjalan Kaki

 Oleh Ariobimo Nusantara

Bagi umat Katolik yang pernah tinggal di kota Yogyakarta pada era 80-90an, tentu tidaklah asing dengan kegiatan berziarah ke Gua Maria Sendangsono, Kalibawang, Kulonprogo, DIY dengan berjalan kaki dari kota Yogyakarta—terutama pada bulan Mei dan Oktober. Sebuah laku prihatin demi menaikkan permohonan-permohonan pribadi melalui perantaraan Bunda Maria, baik yang berjalan sendiri maupun yang kelompok.

Gua Maria Sendangsono berjarak kurang lebih 29 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, tersembunyi di area perbukitan Menoreh yang sejuk dan tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Namun, untuk mencapainya, para peziarah (kala itu) harus melewati jalan tanah yang berkelok, menanjak, dan menurun—bahkan menjadi lumpur tanah liat saat turun hujan. Tak pelak, segala peluh dan lelah yang menggelayut di sepanjang perjalanan spiritual sirna begitu bersimpuh di depan Gua Maria.

Adalah Roni Romel, berbekal pengalamannya berjalan kaki ke sejumlah tempat ziarah Katolik di sekitar Yogyakarta, ia menggelorakan kembali semangat berziarah dengan berjalan kaki atau mlampah dalam Bahasa Jawa. Berawal dari perjalanan spiritual bersama orang-orang terdekatnya, ia lalu menginisiasi lahirnya keluarga kecil bernama Komunitas Mlampah Ziarah, untuk menampung teman-teman yang tertarik ikut ziarah dengan berjalan kaki bersamanya—yang kemudian mencanangkan Walking Marathon de Sendangsono (WMSS). WMSS pertama dihelat pada 24 Juli 2025, diikuti oleh 47 peserta yang berasal  dari DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Roni Romel, inisiator dan ketua Komunitas Mlampah Ziarah.

Roni Romel, inisiator dan ketua Komunitas Mlampah Ziarah. (dok. KMZ)

Gelombang peserta terus menggulung dari bulan ke bulan, dan mencapai puncak tertingginya di penghujung 2025 dengan 410 peserta pada WMSS bilangan keenam (WMSS#6). Sebuah capaian yang tak pernah disangka oleh Roni. Bahkan, meski pendaftaran telah purna, antusiasme umat Katolik untuk mengikuti WMSS#6 begitu meruah, tak hanya berasal dari Yogyakarta dan sekitar, tetapi dari berbagai daerah di Indonesia. Ibarat ticket war sebuah konser, peminat harus berburu dengan tenggat untuk bisa beroleh kuota.

Wajah ceria peserta WMSS#6 sesaat sebelum berangkat ziarah.

Wajah ceria peserta WMSS#6 sesaat sebelum berangkat ziarah. (dok. KMZ)

 

Nulla Tenaci Invia Est Via

Fenomena Mlampah Ziarah laiknya sebuah bentuk kebangkitan hidup spiritual umat Katolik. Merajut ulang budaya lawas dalam berziarah, sekaligus mengenalkannya pada generasi berikutnya, menempakan ujian fisik dan iman.

Pagi itu, 14 Desember 2025, selepas menyanyikan lagu Indonesia Raya, bendera start WMSS#6 dikibarkan di Tugu Yogyakarta pada pukul 05:00. Meski, diiringi rintik hujan, hal itu tak lantas menyurutkan semangat para peziarah. Bahkan, ketika curah hujan semakin menggila, tak satu pun yang meragu untuk terus melangkah. Hujan seolah menjadi ujian pertama, mengingat dalam  sepekan terakhir tak setetes pun air hujan tertumpah di Kota Pelajar ini. Beruntunglah, penyelenggara  telah mengantisipasinya dan meminta peserta untuk bersiap diri sehingga buka-tutup pelindung hujan menjadi pemandangan lumrah di sepanjang perjalanan.

“Cuaca hujan menurut saya lebih baik. Waktu cuaca panas, saya sampai harus menghabiskan enam botol air mineral,” cerita seorang relawan menyemangati peziarah.

Kehadiran relawan memang menjadi penting dalam WMSS untuk menyemangati dan mengawal para peziarah, baik sebagai penunjuk jalan, pengamanan, pendamping, sweeper, penyambut di Check Point (CP), tim medis, maupun motoris—bertugas mengevakuasi peziarah yang cedera atau tak sanggup meneruskan ziarah berjalan kaki.

Pekik “Semangat Ibu, Bapak!” silih berganti dilontarkan oleh para relawan setiap kali melintas di barisan peziarah. Pun, antar-peserta juga saling menguatkan, menyemangati, dan berbagi sepanjang perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengalami transformasi spiritual. Boleh dibilang, inilah ujian kedua bagi para peziarah, meletakkan solidaritas pada sesama di atas ego personal.

 

Melangkah ziarah di bawah guyuran air hujan

Melangkah ziarah di bawah guyuran air hujan. (dok. KMZ)

 

Nulla tenaci invia est via, tidak ada jalan yang mustahil bagi orang yang gigih. Rute yang dilalui tak melulu jalan provinsi. Selepas menyusur jalur selokan Mataram sepanjang 10 kilometer, dilanjutkan dengan areal perkampungan dan persawahan. Hujan yang deras tercurah, tak pelak menjadikan jalanan tanah yang dilalui menjadi licin dan berlumpur, perlu ekstra kehati-hatian untuk melaluinya.

Perjalanan WMSS bukanlah perkara siapa cepat, siapa lambat; siapa kuat, siapa lemah. Ibarat perjalanan hidup, adakalanya kita harus rehat sejenak, menarik napas, atau bahkan sekadar menoleh ke belakang mensyukuri kesulitan-kesulitan yang telah dilewati. Pun kehadiran teman-teman sepeziarahan menjadi semacam penguatan betapa manusia tidak hidup sendiri di dunia.

“Asli, tadinya saya sudah mau menyerah karena hujan gak berhenti, karena kaki saya sempat cedera kram. Mlampah Ziarah kali ini sangat berat buat saya,” cerita salah seorang peserta.

Wajah-wajah bahagia, haru, dan lega terpancar penuh saat para peziarah satu per satu sampai di titik akhir: Gua Maria Sendangsono. 

Membangun Interaksi Sosial

Sepanjang perjalanan ziarah, interaksi tak hanya terbangun di antara peserta—yang rerata tampak Bahagia dan sukacita menemukan teman-teman baru. Interaksi sosial juga terbentuk bersama penduduk sekitar, terutama saat memasuki jalan pedesaan. Sejumlah peziarah terpanggil untuk ikut menggerakkan ekonomi rakyat dengan membeli jajajan atau hasil bumi yang digelar oleh penduduk setempat. Bahkan, warung makan sederhana di pinggir jalan, tetiba saja hari itu dipenuhi peziarah yang mampir untuk sarapan atau pun makan siang. Sebaliknya, tak sedikit penduduk yang dengan penuh keramahan menyapa, menyalami, bahkan menawarkan kamar mandi (toilet) rumahnya, sekira ada peserta yang membutuhkan. Pun, di penghujung kegiatan, komunitas bekerja sama antara lain dengan karang taruna setempat untuk menyediakan kendaraan shuttle guna mengantar para peziarah kembali ke titik berangkat, yang biayanya ditanggung bersama oleh peserta.

WMSS agaknya bertansformasi menjadi jalan rahmat bagi semua. Langkah yang semula hanya diayun seorang Roni Romel, berbuah menjadi hujan berkat bagi banyak orang.

Mlampah Ziarah WMSS#6 menjadi penuh makna karena bertepatan dengan peristiwa 121 tahun silam ketika Romo Van Lith SJ pada 14 Desember 1904 membaptis 171 warga setempat dengan air yang bersumber di bawah kedua pohon sono. Tempat itulah yang dikenal dengan sendangsono—sendang (mata air) yang muncul di antara dua pohon sono.  Dan, bagi 410 peserta WMSS#6,  tiba di Gua Maria Sendangsono seolah membilas semua aral dan rintang yang dialami sepanjang perjalanan, bak perantau yang kembali ke rumah Ibu.

Kegembiraan dan sukacita berlanjut. Komunitas Mlampah Ziarah melakukan aksi Natal berupa hiburan dan pemberian bingkisan kepada 150 anak PIA (Pendampingan Iman Anak) dan PIUD (Pendampingan Iman Usia Dini) dari Gereja Santa Perawan Maria Lourdes, Promasan, Kulonprogo, DIY, sebelum akhirnya ditutup dengan misa syukur.

Hiburan dan pemberian bingkisan kepada 150 anak PIA dan PIUD

Hiburan dan pemberian bingkisan kepada 150 anak PIA dan PIUD. (dok. KMZ)

 

Sebagian peserta WMSS#6 sesaat seusai misa syukur.

Sebagian peserta WMSS#6 sesaat seusai misa syukur. (dok. KMZ)

 Mlampah Ziarah kini tak lagi menjadi agenda personal, tetapi telah menjadi kebutuhan komunal yang terus berpendar. Ia akan terus ada dari bulan ke bulan. Energi budaya berziarah dengan berjalan kaki mewujud kembali, tak hanya ke Gua Maria Sendangsono tetapi juga menular ke sejumlah Gua Maria yang tersebar di berbagai daerah. Umumnya, langkah-langkah itu diinisiasi oleh para alumni dengan tetap berkoordinasi ke Komunitas Mlampah Ziarah.

Boleh jadi, inilah cara Bunda Maria memanggil kembali anak-anaknya untuk menemukan keheningan, ketenangan batin, dan berpengharapan, dengan melakukan peziarahan iman di tengah situasi dunia yang semakin riuh, sesak, individualis, dan penuh ketidakpastian.

20 Desember 2025

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org