Mlampah Ziarah: Mewujudnya Kembali Budaya Ziarah dengan Berjalan Kaki
Oleh Ariobimo Nusantara
Bagi umat Katolik yang pernah tinggal di kota Yogyakarta
pada era 80-90an, tentu tidaklah asing dengan kegiatan berziarah ke Gua Maria
Sendangsono, Kalibawang, Kulonprogo, DIY dengan berjalan kaki dari kota
Yogyakarta—terutama pada bulan Mei dan Oktober. Sebuah laku prihatin demi
menaikkan permohonan-permohonan pribadi melalui perantaraan Bunda Maria, baik
yang berjalan sendiri maupun yang kelompok.
Gua Maria Sendangsono berjarak kurang lebih 29 kilometer
dari pusat kota Yogyakarta, tersembunyi di area perbukitan Menoreh yang sejuk
dan tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Namun, untuk mencapainya, para
peziarah (kala itu) harus melewati jalan tanah yang berkelok, menanjak, dan
menurun—bahkan menjadi lumpur tanah liat saat turun hujan. Tak pelak, segala
peluh dan lelah yang menggelayut di sepanjang perjalanan spiritual sirna begitu
bersimpuh di depan Gua Maria.
Roni Romel,
inisiator dan ketua Komunitas Mlampah Ziarah. (dok. KMZ)
Gelombang peserta terus menggulung dari bulan ke bulan, dan
mencapai puncak tertingginya di penghujung 2025 dengan 410 peserta pada WMSS
bilangan keenam (WMSS#6). Sebuah capaian yang tak pernah disangka oleh Roni. Bahkan,
meski pendaftaran telah purna, antusiasme umat Katolik untuk mengikuti WMSS#6 begitu
meruah, tak hanya berasal dari Yogyakarta dan sekitar, tetapi dari berbagai
daerah di Indonesia. Ibarat ticket war sebuah konser, peminat
harus berburu dengan tenggat untuk bisa beroleh kuota.
Wajah ceria peserta
WMSS#6 sesaat sebelum berangkat ziarah. (dok. KMZ)
Nulla
Tenaci Invia Est Via
Fenomena Mlampah Ziarah laiknya sebuah bentuk
kebangkitan hidup spiritual umat Katolik. Merajut ulang budaya lawas dalam
berziarah, sekaligus mengenalkannya pada generasi berikutnya, menempakan ujian
fisik dan iman.
Pagi itu, 14 Desember 2025, selepas menyanyikan lagu
Indonesia Raya, bendera start WMSS#6 dikibarkan di Tugu Yogyakarta pada pukul
05:00. Meski, diiringi rintik hujan, hal itu tak lantas menyurutkan semangat para
peziarah. Bahkan, ketika curah hujan semakin menggila, tak satu pun yang meragu
untuk terus melangkah. Hujan seolah menjadi ujian pertama, mengingat dalam sepekan terakhir tak setetes pun air hujan
tertumpah di Kota Pelajar ini. Beruntunglah, penyelenggara telah mengantisipasinya dan meminta peserta
untuk bersiap diri sehingga buka-tutup pelindung hujan menjadi pemandangan lumrah
di sepanjang perjalanan.
“Cuaca hujan menurut saya lebih baik. Waktu cuaca panas,
saya sampai harus menghabiskan enam botol air mineral,” cerita seorang relawan
menyemangati peziarah.
Kehadiran relawan memang menjadi penting dalam WMSS untuk
menyemangati dan mengawal para peziarah, baik sebagai penunjuk jalan, pengamanan,
pendamping, sweeper, penyambut di Check Point (CP), tim medis,
maupun motoris—bertugas mengevakuasi peziarah yang cedera atau tak sanggup
meneruskan ziarah berjalan kaki.
Pekik “Semangat Ibu, Bapak!” silih berganti dilontarkan oleh
para relawan setiap kali melintas di barisan peziarah. Pun, antar-peserta juga
saling menguatkan, menyemangati, dan berbagi sepanjang perjalanan untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengalami transformasi spiritual. Boleh
dibilang, inilah ujian kedua bagi para peziarah, meletakkan solidaritas pada
sesama di atas ego personal.
Melangkah
ziarah di bawah guyuran air hujan. (dok. KMZ)
Nulla tenaci invia est via, tidak ada jalan yang
mustahil bagi orang yang gigih. Rute yang dilalui tak melulu jalan provinsi. Selepas
menyusur jalur selokan Mataram sepanjang 10 kilometer, dilanjutkan dengan areal
perkampungan dan persawahan. Hujan yang deras tercurah, tak pelak menjadikan
jalanan tanah yang dilalui menjadi licin dan berlumpur, perlu ekstra
kehati-hatian untuk melaluinya.
Perjalanan WMSS bukanlah perkara siapa cepat, siapa lambat;
siapa kuat, siapa lemah. Ibarat perjalanan hidup, adakalanya kita harus rehat
sejenak, menarik napas, atau bahkan sekadar menoleh ke belakang mensyukuri
kesulitan-kesulitan yang telah dilewati. Pun kehadiran teman-teman sepeziarahan
menjadi semacam penguatan betapa manusia tidak hidup sendiri di dunia.
“Asli, tadinya saya sudah mau menyerah karena hujan gak
berhenti, karena kaki saya sempat cedera kram. Mlampah Ziarah kali ini
sangat berat buat saya,” cerita salah seorang peserta.
Wajah-wajah bahagia, haru, dan lega terpancar penuh saat
para peziarah satu per satu sampai di titik akhir: Gua Maria Sendangsono.
Membangun
Interaksi Sosial
Sepanjang perjalanan ziarah, interaksi tak hanya terbangun
di antara peserta—yang rerata tampak Bahagia dan sukacita menemukan teman-teman
baru. Interaksi sosial juga terbentuk bersama penduduk sekitar, terutama saat memasuki
jalan pedesaan. Sejumlah peziarah terpanggil untuk ikut menggerakkan ekonomi
rakyat dengan membeli jajajan atau hasil bumi yang digelar oleh penduduk
setempat. Bahkan, warung makan sederhana di pinggir jalan, tetiba saja hari itu
dipenuhi peziarah yang mampir untuk sarapan atau pun makan siang. Sebaliknya, tak
sedikit penduduk yang dengan penuh keramahan menyapa, menyalami, bahkan menawarkan
kamar mandi (toilet) rumahnya, sekira ada peserta yang membutuhkan. Pun, di
penghujung kegiatan, komunitas bekerja sama antara lain dengan karang taruna
setempat untuk menyediakan kendaraan shuttle guna mengantar para
peziarah kembali ke titik berangkat, yang biayanya ditanggung bersama oleh
peserta.
WMSS agaknya bertansformasi menjadi jalan rahmat bagi semua.
Langkah yang semula hanya diayun seorang Roni Romel, berbuah menjadi hujan
berkat bagi banyak orang.
Mlampah Ziarah WMSS#6 menjadi penuh makna karena bertepatan
dengan peristiwa 121 tahun silam ketika Romo Van Lith SJ pada 14 Desember 1904
membaptis 171 warga setempat dengan air yang bersumber di bawah kedua pohon
sono. Tempat itulah yang dikenal dengan sendangsono—sendang (mata air) yang
muncul di antara dua pohon sono. Dan,
bagi 410 peserta WMSS#6, tiba di Gua
Maria Sendangsono seolah membilas semua aral dan rintang yang dialami sepanjang
perjalanan, bak perantau yang kembali ke rumah Ibu.
Kegembiraan dan sukacita berlanjut. Komunitas Mlampah
Ziarah melakukan aksi Natal berupa hiburan dan pemberian bingkisan kepada
150 anak PIA (Pendampingan Iman Anak) dan PIUD (Pendampingan Iman
Usia Dini) dari Gereja Santa Perawan Maria Lourdes, Promasan, Kulonprogo,
DIY, sebelum akhirnya ditutup dengan misa syukur.
Hiburan
dan pemberian bingkisan kepada 150 anak PIA dan PIUD. (dok. KMZ)
Sebagian
peserta WMSS#6 sesaat seusai misa syukur. (dok. KMZ)
Boleh jadi, inilah cara Bunda Maria memanggil kembali anak-anaknya
untuk menemukan keheningan, ketenangan batin, dan berpengharapan, dengan
melakukan peziarahan iman di tengah situasi dunia yang semakin riuh, sesak, individualis,
dan penuh ketidakpastian.
20 Desember 2025