Dosa Melawan Roh Kudus: Perspektif dan Ajaran Katolik
| Penulis merenungkan, dan menuliskan "Dosa Melawan Roh Kudus" dalam Perspektif dan Ajaran Katolik. Dokpri. |
Oleh Jack Dambe, CJD
Dalam iman Katolik, ada satu dosa yang kerap disebut dengan suara bergetar. Bukan karena Allah menjadi kejam. Bukan pula karena kasih-Nya mengering. Melainkan karena manusia menutup pintu dari dalam.
Dosa melawan Roh Kudus bukan kisah tentang Allah yang menolak manusia. Ia adalah kisah manusia yang menolak Allah.
Yesus pernah mengucapkannya dengan nada yang tajam dan sunyi sekaligus: segala dosa akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni: baik sekarang, maupun kelak.
Kata-kata itu tercatat dalam Injil, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyibakkan kenyataan paling tragis dalam hidup manusia: ketika ia tidak lagi mau diselamatkan.
Ungkapan itu langsung merujuk pada ajaran Yesus tentang “dosa melawan Roh Kudus”, yang dalam Kitab Suci Katolik tercatat jelas di Injil-injil Sinoptik.
Berikut ayat-ayatnya, dengan rujukan dan kutipan yang relevan.
1. Injil Markus 3:28–29 (TB Katolik / LAI)
“Aku berkata kepadamu: sesungguhnya semua dosa anak-anak manusia akan diampuni, demikian juga semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi siapa saja yang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.”
Ini adalah formulasi paling tajam. Markus menekankan dimensi “selama-lamanya”, yang sejalan dengan kalimat “baik sekarang, maupun kelak.”
2. Injil Matius 12:31–32
“Sebab itu Aku berkata kepadamu: segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seorang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi apabila ia mengatakan sesuatu melawan Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan tidak pula di dunia yang akan datang.”
Frasa “di dunia ini tidak, dan tidak pula di dunia yang akan datang” persis menegaskan dimensi kini dan kelak.
3. Injil Lukas 12:10
“Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.”
Lukas lebih singkat, namun tegas. Tanpa ancaman panjang, hanya pernyataan faktual.
Dalam tradisi Katolik, Gereja tidak menafsirkan ayat ini sebagai Allah yang menolak mengampuni, melainkan sebagai manusia yang menutup diri terhadap pengampunan.
Katekismus Gereja Katolik (KGK 1864) menegaskan:
“Tidak ada dosa yang tidak dapat diampuni oleh Allah, tetapi siapa pun yang dengan sengaja menolak belas kasih Allah, menolak pengampunan dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus.”
Di sinilah kalimat sangat tepat dan bernas:
“…bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyibakkan kenyataan paling tragis dalam hidup manusia: ketika ia tidak lagi mau diselamatkan.”
Roh Kudus adalah napas pertobatan. Ia yang membisikkan penyesalan. Ia yang menggugah air mata. Ia yang menuntun manusia pulang. Maka ketika Roh itu ditolak, sesungguhnya yang diputus bukan relasi dengan Allah semata, melainkan jalan pulang itu sendiri. Bukan karena Allah berhenti mengampuni, tetapi karena tidak ada lagi tangan yang mau menerima ampunan.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan
Katekismus Gereja Katolik menyatakan dengan tenang namun tegas: kerahiman Allah tidak berbatas. Tetapi manusia bisa menolak untuk bertobat. Dan penolakan itu, jika dipelihara, dirawat, dan dipertahankan; menjadi dosa yang tak terampuni. Seperti orang sakit yang menolak obat, bukan karena obat itu gagal, melainkan karena ia dibuang.
Tradisi Gereja mengenali dosa ini bukan sebagai satu tindakan tunggal, melainkan sebagai sikap batin yang membatu. Ia hadir dalam rupa-rupa wajah.
Ada wajah keputusasaan. Ketika seseorang merasa dosanya terlalu besar, terlalu kotor, terlalu gelap, sehingga Allah pun dianggap tak sanggup mengampuni. Ia berhenti berdoa. Berhenti berharap. Ia mengira neraka sudah ditandatangani atas namanya sendiri. Dalam keputusasaan itu, ia tidak percaya pada kasih Allah dan justru itulah dosanya.
Ada pula wajah kesembronoan rohani. Merasa aman tanpa bertobat. Menganggap pengampunan sebagai cadangan darurat yang bisa dipakai kapan saja. Hidup dalam dosa sambil berkata: nanti saja. Tuhan kan baik.
Dalam sikap itu, rahmat diremehkan. Sakramen dijadikan alat. Allah diperlakukan seolah-olah bisa ditipu.
Wajah penolakan kebenaran
Ada wajah penolakan kebenaran. Ketika terang sudah jelas, tetapi sengaja dipadamkan. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena kebenaran itu mengganggu kenyamanan, kekuasaan, atau ambisi. Dalam penolakan ini, manusia tidak sekadar salah. Ia memilih gelap, walau tahu terang itu nyata.
Ada pula iri hati terhadap rahmat orang lain. Melihat sesama bertobat, lalu merasa terganggu. Melihat orang menjadi baik, lalu ingin menjatuhkannya kembali. Kesucian orang lain terasa seperti ancaman. Maka pekerjaan Roh Kudus justru dibenci.
Dan ada wajah yang paling sunyi sekaligus paling keras: ketegaran hati. Ketika suara nurani berulang kali mengetuk, tetapi pintu tidak dibuka. Teguran dianggap gangguan. Nasihat dianggap ancaman. Tuhan dianggap pengganggu kebebasan. Dalam ketegaran ini, Roh Kudus dibungkam secara sadar.
Penolakan terakhir
Puncaknya adalah penolakan terakhir. Menolak bertobat sampai akhir hayat. Menutup diri bahkan di ambang kematian. Bukan karena tidak sempat, tetapi karena tidak mau. Di sana, manusia melangkah ke keabadian sambil tetap menggenggam penolakannya sendiri.
Namun ada satu tanda yang perlu dicatat dengan lembut. Jika seseorang masih gelisah. Masih takut. Masih bertanya: apakah aku telah melakukan dosa ini? Maka justru di situlah harapan bersembunyi. Kegelisahan itu adalah bisikan Roh Kudus. Rasa sesal itu adalah tanda bahwa pintu belum sepenuhnya tertutup.
Mazmur berkata: hati yang remuk tidak akan Kaupandang hina. Dan Santo Agustinus mengingatkan: selama manusia masih hidup, harapan belum pernah mati. Roh Kudus tidak pernah berhenti memanggil kecuali manusia berhenti mendengar.
Dosa melawan Roh Kudus menjadi abadi hanya jika manusia mengabadikannya sendiri. Maka penghalang menuju surga bukanlah besarnya dosa, melainkan kerasnya hati untuk berlutut.
Selama masih ada kerendahan hati, samudera kerahiman Allah tetap terbuka. Dan di sanalah Roh Kudus menunggu. Bukan untuk menghukum, melainkan untuk memeluk.
Russia, akhir Januari 2026.