 |
| Penampakan pusat paroki Jangkang saat ini di Balai Sebut. Mesin lama yang subur panggilan imamnya. Dok. rmsp. |
Oleh Herys Maliki
Paroki Jangkang bukan sekadar satuan administratif Gereja. Ia adalah ruang sejarah, tempat iman dirawat lintas generasi. Jika dirunut ke asalnya, Jangkang berasal dari Paroki Sanggau.
Paroki tua inilah yang menjadi rahim awal pewartaan dan pengorganisasian Gereja Katolik di wilayah pedalaman, termasuk Jangkang dan kampung-kampung di sekitarnya.
Asalnya Sanggau: Kunjungan Pastor Fridolinus dan Fondasi Awal (1934–1937)
Catatan sejarah menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya Jangkang dikunjungi oleh Pastor Fridolinus pada bulan Oktober 1934. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka tournée pastoral dari Paroki Sanggau (Boelaars, hlm. 24).
Pada masa itu, Jangkang belum berdiri sebagai paroki tersendiri. Buku status animarum Jangkang masih menjadi satu dengan Paroki Sanggau, menandakan bahwa secara pastoral dan administratif wilayah ini sepenuhnya berada dalam lingkup pelayanan paroki induk.
Sejak tahun 1937, kunjungan ke Jangkang dilakukan secara lebih teratur. Pastor-pastor yang tercatat mengunjungi dan melayani umat di wilayah ini adalah Pastor Fridolinus, Pastor Christianus, Pastor Ewald, dan Pastor Kanisius.
Kunjungan-kunjungan tersebut bukan sekadar agenda rutin, melainkan proses peneguhan iman umat. Dari perjumpaan demi perjumpaan itulah benih Gereja lokal ditanam, dirawat, dan dikuatkan dalam kesederhanaan hidup kampung.
Berdiri Mandiri: Paroki Jangkang, 1951, dan Dinamika Pusat Pelayanan
Paroki Jangkang resmi berdiri pada tahun 1951 dengan pusat pelayanan di Jangkang. Momentum ini menandai fase kemandirian pastoral, ketika Gereja mulai menata kehidupan umat secara lebih terstruktur dan dekat dengan realitas setempat. Pelayanan sakramental, pembinaan iman, dan pengorganisasian umat dijalankan dengan semangat merangkul kampung-kampung yang tersebar.
Namun sejarah Gereja selalu bergerak mengikuti dinamika zaman. Pada dekade 1980-an, sesuai kebijakan penataan wilayah dan demi efektivitas pelayanan, pusat paroki dipindahkan ke pusat kecamatan, yakni Balai Sebut. Perpindahan ini bukan pemutusan dari akar sejarah, melainkan penyesuaian strategis agar Gereja tetap hadir di pusat denyut kehidupan umat.
Tanah Rahim Panggilan: Dari Jongkakng Lahir Para Imam
Dalam lintasan sejarah itulah Paroki Jongkakng bertumbuh sebagai tanah rahim panggilan. Dari kampung-kampung yang sunyi, dari doa-doa sederhana umat, lahirlah para imam yang kemudian diutus ke pelbagai penjuru ladang Tuhan.
Nama-nama mereka bukan sekadar daftar, melainkan kesaksian tentang kesetiaan yang tumbuh perlahan, dalam diam, namun teguh.
Dari Serambai, P. Donatus Segalong OFMCap menapaki jalan pelayanan dengan semangat Fransiskan yang bersahaja. Dari Jongkakng sendiri muncul figur-figur imam yang mengakar kuat pada tanah asalnya: P. Benediktus Bitus CP, P. Fidelis Sabin Ninsa OFMCap, P. Yohanes Hamdi OFMCap, dan P. Pius Biono CP. Mereka adalah anak-anak kampung yang kembali dan pergi silih berganti, membawa Injil ke mana pun mereka diutus.
Semombat melahirkan panggilan melalui P. Benediktus Likoy OFMCap dan P. Damian Doraman OFMCap. Dari Landau hadir P. Barnabas Meriko OFMCap. Ketori mempersembahkan P. Heribertus Samuel OFMCap dan P. Suarman Pr. Kobang mencatat P. Maternus Korman CP dan P. Mateus Sanding CP. Tanggung mengutus P. Yohanes Pranoto Pr dan P. Thomas Romeo CP. Dari Empiyang hadir P. Albert Yance Pr. Lalang memberi P. Apolonius Jumbing OFMCap. Jambu mempersembahkan P. William Kwere OFMCap. Dan dari Pisang, P. Lorenzo Helli OFMCap melengkapi mozaik panggilan itu.
Mereka datang dari kampung-kampung yang mungkin kecil di peta, tetapi besar dalam doa. Paroki Jangkang yang asalnya dari Paroki Sanggau, diteguhkan oleh kunjungan pastoral sejak 1934, dan dimatangkan melalui pelayanan para pastor perintis menjadi bukti bahwa Gereja bertumbuh dari kesetiaan umat yang dirawat hari demi hari.
Dari tanah ini, panggilan tidak lahir dengan gegap gempita, melainkan melalui ketekunan. Dan justru karena itulah, ia bertahan.
Senarai pastor produksi paroki Jangkang
Senarai pastor produksi Paroki Jangkang berikut ini mencerminkan kesuburan iman dan ketekunan pembinaan panggilan yang tumbuh dari kampung-kampung sederhana, lalu berbuah pelayanan Gereja lintas tarekat dan wilayah.
1. P. Donatus Segalong OFMCap (Serambai)
2. P. Benediktus Bitus CP (Jongkakng)
3. P. Benediktus Likoy OFMCap (Semombat)
4. P. Fidelis Sabin Ninsa OFMCap (Jongkakng)
5. P. Damian Doraman OFMCap (Semombat)
6. P. Yohanes Hamdi OFMCap (Jongkakng)
7. P. Barnabas Meriko OFMCap (Landau)
8. P. Heribertus Samuel OFMCap (Ketori)
9. P. Maternus Korman CP (Kobang)
10. P. Yohanes Pranoto Pr (Tanggung)
11. P. Mateus Sanding, CP(Kobang)
12. P. Pius Biono, CP (Jongkakng)
13. P. Thomas Romeo, CP (Tanggung)
14. P. Albert Yance Pr (Empiyang)
15. P. Suarman Pr (Ketori)
16. P. Apolonius Jumbing OFMCap (Lalang)
17. P. William Kwere, OFM Cap. (Jambu)
18. P. Lorenzo Helli, OFM Cap. (Pisang)
Jumlah umat Katolik terkini
Menurut informasi dari pastor paroki, Selpinus Ala, saat ini jumlah umat Katolik di Paroki Jangkang mencapai sekitar
25.000 jiwa.
Angka ini menunjukkan dinamika pertumbuhan umat yang signifikan, sekaligus menandakan kuatnya daya hidup Gereja di wilayah pedalaman. Di tengah tantangan geografis, keterbatasan akses, dan perubahan sosial yang terus berlangsung, komunitas umat tetap bertahan dan berkembang sebagai persekutuan iman yang hidup.
Jumlah umat yang besar ini juga mencerminkan hasil dari karya pastoral yang berlangsung lintas generasi.
Pelayanan para pastor,
katekis, dan pengurus umat yang bekerja dalam kesunyian kampung-kampung telah membentuk fondasi Gereja yang kokoh.
Paroki Jangkang hari ini bukan hanya pewaris sejarah panjang sejak masa Paroki Sanggau, tetapi juga komunitas iman yang terus bergerak, menata diri, dan menyiapkan masa depan Gereja dengan penuh harapan.
Paroki Jangkang: Tuaian melimpah, pekerja sedikit
Paroki Jangkang, yang kini berada dalam wilayah Gerejani Keuskupan Sanggau, Kalimantan Barat, adalah sebuah kisah tentang iman yang tidak beku oleh waktu.
Paroki Jangkang bergerak. Ia bernapas. Gereja lokal di tanah Dayak Bidayuh ini menempuh sejarahnya sendiri. Dari satu masa ke masa lain, paroki ini tidak sekadar ada, melainkan bertumbuh, berakar, dan menemukan bentuknya.
Paroki Jangkang menjadi gereja yang mandiri, bukan hanya karena mampu bertahan, tetapi karena sanggup hidup bersama denyut adat dan budaya setempat yang telah lebih dahulu mengajarkan cara merawat kehidupan.
Di tanah ini, iman tidak jatuh dari langit dalam rupa bangunan megah. Ia datang sebagai benih kecil, nyaris tak terlihat. Biji sesawi itu ditaburkan oleh para misionaris hampir seabad silam, dengan segala keterbatasan dan keberanian. Hari ini, benih itu telah menjelma menjadi pohon yang rindang. Akarnya menghunjam ke tanah Jangkang, menyerap kearifan lokal, menyatu dengan bahasa, ritme hidup, dan nilai-nilai komunal masyarakatnya. Gereja tidak berdiri di atas adat, tetapi bertumbuh di dalamnya.
Namun sejarah iman tidak pernah selesai hanya dengan kisah keberhasilan. Selalu ada tantangan yang menyertai pertumbuhan. Sabda Kitab Suci mengingatkan dengan jujur dan lugas: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Matius 9:37). Kalimat ini bukan sekadar kutipan, melainkan cermin kenyataan pastoral. Umat bertambah, ladang pelayanan meluas, tetapi tangan yang siap diutus sering kali belum seimbang dengan besarnya kebutuhan.
Di sinilah Paroki Jangkang diuji bukan hanya dalam kesetiaan, tetapi juga dalam keberanian melahirkan panggilan. Dari rahim paroki inilah diharapkan lahir para imam, gembala, dan pelayan yang memahami medan pelayanan karena berasal dari tanah yang sama. Para pastor asal Paroki Jangkang bukan sekadar putra daerah, melainkan penanda bahwa iman telah berinkarnasi, berakar dalam kehidupan konkret umatnya.
Maka dukungan terhadap panggilan bukanlah pekerjaan sampingan, melainkan tanggung jawab bersama. Sembari terus bekerja, kita juga berdoa, memohon kepada Sang Empunya Ladang agar berkenan mengirimkan lebih banyak penuai. Sebab iman yang hidup adalah iman yang bergerak, yang melahirkan pelayan, dan yang berani menatap masa depan tanpa tercerabut dari akar sejarah dan budayanya.
Paroki Jangkang sedang menapaki jalan itu, pelan namun pasti.