Suksesi dalam Gereja Katolik: Sejarah, Tradisi, dan Praktik hingga Kini

Suksesi dalam Gereja Katolik: jelas dan berkelanjutan.
Suksesi dalam Gereja Katolik: jelas, berkelanjutan, dan historis. Ist.

Oleh Br. Cosmas Damianus Baptista

Suksesi apostolik dalam Gereja Katolik memastikan iman, ajaran, dan sakramen yang diwariskan oleh para rasul tetap hidup dan utuh hingga kini. Melalui tradisi, tahbisan uskup, dan kepemimpinan Paus sebagai penerus Santo Petrus, Gereja menjaga kesatuan dan kesinambungan spiritual umat di seluruh dunia.

Sering kali umat Katolik mendengar istilah Gereja yang apostolik, tetapi tidak semua sungguh memahami apa maknanya. Apostolik bukan sebatas kata indah dalam Syahadat, melainkan identitas yang hidup. 

Gereja Katolik percaya bahwa imannya hari ini bersumber langsung dari Yesus Kristus dan para rasul, lalu diteruskan tanpa putus sampai sekarang. Cara Gereja menjaga kesinambungan iman inilah yang disebut suksesi apostolik.

Suksesi apostolik membantu kita memahami mengapa Gereja Katolik begitu menekankan peran para uskup, mengapa Sakramen Tahbisan begitu penting, dan mengapa Paus memiliki peran khusus dalam Gereja. Semua ini bukan soal kekuasaan, melainkan soal kesetiaan pada amanat Kristus.

Baca 267 Paus Resmi Gereja Katolik dari St. Petrus hingga Paus Leo XIV

Sejarah: Dari Yesus kepada Para Rasul

Yesus tidak hanya mengajar dan melakukan mukjizat. Ia juga membentuk sebuah komunitas. Ia memilih dua belas rasul, hidup bersama mereka, mendidik mereka, dan mempercayakan misi besar kepada mereka. Setelah kebangkitan-Nya, Yesus mengutus para rasul untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa.

Gereja menyadari sejak dini bahwa misi ini tidak boleh berhenti ketika para rasul wafat. Injil harus terus diwartakan, dan umat harus tetap dipimpin. Karena itu, para rasul menunjuk penerus. Kisah pemilihan Matias untuk menggantikan Yudas menunjukkan bahwa sejak awal Gereja memahami pentingnya kesinambungan pelayanan.

Pada abad-abad pertama, para pemimpin Gereja setempat disebut uskup. Mereka dipandang sebagai penerus para rasul di wilayah masing-masing. Para Bapa Gereja menegaskan bahwa umat Kristiani yang ingin tetap setia pada ajaran Yesus harus bersatu dengan uskup mereka. Dengan cara inilah iman para rasul tetap hidup dari generasi ke generasi.

Gereja Roma mendapat perhatian khusus karena dikaitkan dengan Rasul Petrus. Petrus dipandang sebagai rasul yang diberi tanggung jawab khusus oleh Yesus untuk meneguhkan iman saudara-saudaranya. Para penerus Petrus di Roma kemudian dikenal sebagai Paus.

Tradisi: Iman yang Diteruskan, Bukan Diciptakan Ulang

Gereja Katolik percaya bahwa iman bukan sesuatu yang diciptakan ulang setiap zaman. Iman diterima, dihidupi, dan diwariskan. Inilah yang disebut Tradisi Suci. Tradisi bukan sekadar kebiasaan lama, tetapi kehidupan iman yang terus mengalir sejak zaman para rasul.

Para rasul tidak hanya meninggalkan tulisan, tetapi juga cara berdoa, cara merayakan Ekaristi, cara memimpin umat, dan cara memahami Yesus Kristus. Semua ini diwariskan kepada para penerus mereka, yaitu para uskup. Karena itu, suksesi apostolik tidak hanya soal jabatan, tetapi juga soal kesetiaan pada iman yang sama.

Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa para uskup adalah penjaga Tradisi ini. Bersama Paus, mereka membentuk Magisterium Gereja, yaitu otoritas pengajaran resmi Gereja. Tugas mereka bukan menciptakan ajaran baru, melainkan menjaga agar iman para rasul tetap murni dan utuh.

Baca Ambrosius dari Milan: Gembala yang Menegakkan Martabat Gereja

Melalui Tradisi, Gereja tetap menjadi Gereja yang sama, meskipun hidup di zaman yang berbeda. Dunia berubah, budaya berubah, tetapi iman yang diterima dari para rasul tetap sama.

Praktik Suksesi Apostolik Dihidupi

Suksesi apostolik tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihidupi. Wujud paling nyata dari suksesi ini adalah Sakramen Tahbisan, khususnya tahbisan uskup. Setiap uskup ditahbiskan oleh uskup lain yang telah lebih dahulu berada dalam garis suksesi apostolik. Dengan cara ini, rantai penerusan tidak pernah terputus.

Dalam tahbisan, terdapat penumpangan tangan dan doa. Gereja percaya bahwa melalui tindakan ini, Roh Kudus bekerja dan memberikan rahmat khusus kepada yang ditahbiskan. Seorang uskup kemudian memiliki tugas untuk mengajar iman, memimpin umat, dan merayakan sakramen.

Paus, sebagai Uskup Roma, memiliki peran istimewa. Ia dipandang sebagai penerus Rasul Petrus. Tugas utamanya bukan memerintah secara duniawi, melainkan menjaga kesatuan Gereja. Paus menjadi tanda bahwa Gereja Katolik di seluruh dunia tetap satu, meskipun hidup di berbagai bangsa dan budaya.

Suksesi apostolik juga berkaitan dengan kehidupan sakramental umat. Ekaristi dirayakan oleh imam yang ditahbiskan secara sah oleh uskup. 

Dengan demikian, setiap Misa atau perayaan Ekaristi Suci yang dirayakan hari ini terhubung dengan Ekaristi yang dirayakan oleh para rasul dahulu. Ini memberi makna mendalam bagi kehidupan iman umat Katolik.

Mengapa Suksesi Apostolik Penting bagi Umat

Bagi umat Katolik, suksesi apostolik bukan sekadar teori teologi. Ia adalah jaminan bahwa Gereja yang kita hidupi hari ini adalah Gereja yang sama yang didirikan oleh Yesus Kristus. Melalui suksesi apostolik, iman para rasul tetap hidup, sakramen-sakramen tetap sah, dan Gereja tetap bersatu.

Baca Yesus Bukan Saja Pantas Diikuti, Tapi Juga Garansi karena Datang dan Kembali ke Surga

Suksesi apostolik mengingatkan kita bahwa iman Katolik bukan iman pribadi semata, tetapi iman Gereja. Kita tidak berjalan sendiri, melainkan bersama umat beriman sepanjang sejarah. Dari para rasul, para uskup, hingga umat biasa, semuanya terhubung dalam satu tubuh Kristus.

Dengan memahami suksesi apostolik secara sederhana, umat Katolik diajak untuk semakin menghargai Gereja, para gembalanya, dan sakramen-sakramen yang menghidupi iman sehari-hari. Inilah warisan iman yang tidak hanya dijaga, tetapi juga dihidupi dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org