Bapa Gereja dengan Empat Kriteria yang Menjadi Ukuran Gereja

Bapa Gereja dengan  Empat Kriteria yang Menjadi Ukuran Gereja
Katekismus Gereja Katolik secara eksplisit menyebut para Bapa Gereja sebagai saksi utama Tradisi Apostolik. Ilustrasi: Istimewa.

Oleh Br. Cosmas Damianus

Di tengah banjir opini keagamaan di media sosial dan ruang digital, Gereja Katolik justru semakin menegaskan satu prinsip lama: tidak semua tokoh besar iman layak disebut “Bapa Gereja”. 

Gelar “Bapa Gereja” tidak lahir dari popularitas, viralitas, atau kefasihan retorika, melainkan dari empat kriteria ketat yang telah diuji oleh waktu, sejarah, dan iman Gereja semesta.

Istilah "Bapa Gereja" (Patres Ecclesiae) bukan sekadar sebutan kehormatan. Ia adalah penanda otoritas rohani dan intelektual yang diakui Gereja karena ajaran dan hidup para tokohnya terbukti menopang iman kristiani sejak masa paling awal. 

Di era ketika tafsir iman kerap dipengaruhi selera zaman, keempat kriteria ini menjadi semacam kompas penuntun: apa yang layak diwarisi dan apa yang patut disaring.

Ajaran yang Lurus, Bukan Sekadar Cerdas

Kriteria pertama adalah orthodoxia doctrinae, ajaran yang lurus dan setia pada iman apostolik. Gereja sejak awal menyadari bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Banyak pemikir brilian di abad-abad awal Kekristenan, tetapi tidak semuanya menjaga kemurnian iman.

Para Bapa Gereja justru dikenal karena keberanian mereka melawan ajaran menyimpang yang mengancam fondasi iman. Irenaeus dari Lyon, misalnya, berdiri tegak menghadapi Gnostisisme yang kala itu sangat memikat secara intelektual. Ia menegaskan bahwa iman Kristen bukan rahasia elit, melainkan kabar keselamatan yang diwariskan para rasul secara terbuka.

Prinsip ini kemudian dirumuskan secara klasik oleh Vincentius dari LĂ©rins pada abad ke-5: iman sejati adalah yang diyakini “di mana-mana, selalu, dan oleh semua orang.” Rumusan ini masih relevan hingga hari ini, terutama saat tafsir iman sering disesuaikan dengan tren atau ideologi tertentu.

Kekudusan Hidup sebagai Kesaksian Nyata

Namun Gereja tidak berhenti pada ajaran. Kriteria kedua, sanctitas vitae, menegaskan bahwa kebenaran iman harus tampak dalam cara hidup. Seorang Bapa Gereja bukan hanya penulis teks teologis, melainkan saksi iman.

Banyak dari mereka hidup dalam penderitaan, pengasingan, bahkan kemartiran. Ignatius dari Antiokhia menulis refleksi teologisnya bukan dari ruang kuliah, melainkan dari perjalanan menuju hukuman mati. Dalam konteks hari ini, ketika figur publik mudah jatuh oleh skandal moral, kriteria ini terasa semakin relevan.

Gereja dengan tegas tidak mengangkat sosok yang ajarannya benar tetapi hidupnya bertentangan dengan Injil. Dalam pandangan Gereja, kekudusan bukan tambahan opsional, melainkan bagian dari otoritas rohani itu sendiri.

Diakui Gereja, Bukan Klaim Pribadi

Kriteria ketiga adalah approbatio ecclesiae, pengakuan resmi Gereja. Di sini, Gereja menempatkan dirinya sebagai penjaga tradisi, bukan sekadar penonton sejarah. Tidak cukup seorang tokoh dipuja oleh komunitas tertentu atau dikagumi oleh akademisi.

Pengakuan Gereja tampak dalam penggunaan tulisan para Bapa Gereja dalam liturgi, rujukan magisterium, serta konsili-konsili resmi. Santo Agustinus, misalnya, tidak hanya dikenang sebagai pemikir besar, tetapi juga menjadi rujukan utama dalam pengajaran Gereja tentang rahmat, dosa, dan keselamatan.

Katekismus Gereja Katolik secara eksplisit menyebut para Bapa Gereja sebagai saksi utama Tradisi Apostolik. Artinya, suara mereka bukan sekadar gema masa lalu, melainkan bagian dari suara Gereja hingga kini.

Dekat dengan Para Rasul, Dekat dengan Sumber Iman

Kriteria keempat antiquitas, sering luput diperhatikan, tetapi sangat menentukan. Para Bapa Gereja berasal dari masa awal Kekristenan, umumnya sebelum abad ke-8. Kedekatan mereka dengan zaman para rasul dipandang sebagai jaminan kemurnian iman.

Beberapa di antaranya bahkan memiliki relasi langsung dengan para rasul. Polikarpus dari Smirna, murid Rasul Yohanes, menjadi contoh nyata bagaimana iman diteruskan lewat relasi hidup, bukan sekadar teks.

Setelah periode ini, Gereja tetap melahirkan teolog besar, tetapi mereka ditempatkan dalam kategori lain, seperti doktor Gereja. Pembatasan ini menunjukkan kehati-hatian Gereja dalam menjaga kesinambungan iman apostolik.

Mengapa Empat Kriteria Ini Masih Relevan Hari Ini

Di zaman serba cepat dan penuh suara, keempat kriteria ini berfungsi sebagai filter. Gereja mengingatkan bahwa iman tidak dibangun di atas sensasi sesaat, melainkan di atas kesetiaan panjang: pada ajaran yang benar, hidup yang kudus, pengakuan Gereja, dan akar sejarah yang kuat.

Dengan itulah, gelar “Bapa Gereja” tetap langka, bermakna, dan dihormati. Ia bukan nostalgia masa lampau, melainkan penopang iman Gereja dalam menghadapi tantangan zaman apa pun.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org