Pertapaan Karmel Ngadireso: Merawat Perjumpaan
| Gua Maria sebagai ruang perjumpaan dalam permenungan dan ketenangan batin. (dok. MZ Chapter Malang). |
Pertapaan Karmel Ngadireso dikenal sebagai salah satu tempat ziarah Bunda Maria di Jawa Timur. Gua Maria yang berada di kawasan ini menjadi tujuan umat untuk berdoa, berziarah, dan mencari ketenangan batin.
Tempat ini terletak di lereng yang sejuk dan tenang di wilayah Tumpang, Kabupaten Malang sehingga menghadirkan suasana hening yang mendukung doa dan permenungan.
Baca Gua Maria di Indonesia yang Wajib Kamu Ketahui dan Kunjungi
Bagi umat Katolik, penghormatan kepada Bunda Maria sering diwujudkan dalam tradisi ziarah ke Gua Maria. Di tempat tersebut umat berdoa baik secara personal maupun bersama, bersimpuh menumpahkan intensi dan ungkapan syukur.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk devosi pribadi, tetapi juga mencerminkan kedekatan emosional dan spiritual umat dengan Bunda Maria sebagai Ibu yang penuh kasih, Ibu yang mengantar doa semua orang kepada Putera-Nya, Yesus Kristus.
Gua Maria kemudian menjadi ruang perjumpaan dalam permenungan dan ketenangan batin, tempat umat mencari penghiburan, harapan, serta memperdalam iman di tengah berbagai pergumulan hidup di dunia.
Di Pertapaan Karmel Ngadireso, Gua Maria berada tak jauh setelah pintu masuk area pertapaan. Tempatnya luas, teduh, dan hening dengan tempat duduk berjenjang layaknya sebuah amphiteater, istilah ini berasal dari bahasa Yunani amphi (di sekeliling) dan theatron (tempat menonton).
Hidup Seorang Diri
Pertapaan Karmel Ngadireso mulai berkembang pada akhir dekade 1970-an sebagai tempat hidup doa dan kontemplasi. Diprakarsai oleh Romo Yohanes Indrakusuma, seorang imam karmelit (Ordo Fratrum Beatissimae Marie de Monte Carmelo/O.Carm). Ia memilih menjalani kehidupan pertapaan seorang diri di kawasan Ngadireso yang tenang dan jauh dari keramaian.
Baca Kitab Suci Katolik
Bermula dari sebuah pondok kecil di tengah lingkungan pedesaan sunyi, pertapaan ini resmi diberkati dan diresmikan pada 8 Desember 1979 oleh Romo Provinsial JCD Poespowardojo, O.Carm. Cara hidup Romo Yohanes kemudian menginspirasi banyak orang—baik para tamu yang mohon didoakan maupun mereka yang di kemudian hari menjadi Kongregasi Suster Putri Karmel (P.Karm), Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE), dan Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM).
Spiritualitas yang dikembangkan memadukan tradisi kontemplatif Ordo Karmel dengan pembinaan rohani yang dekat dengan kehidupan umat sehari-hari. Pertapaan Karmel Ngadireso pun menjadi tempat umat mengalami perjumpaan dengan Allah baik melalui retret, doa penyembuhan, maupun ziarah rohani.
Ziarah Berjalan Kaki
Salah satu komunitas ziarah yang rutin mengadakan ziarah ke Pertapaan Karmel Ngadireso adalah Komunitas Mlampah Ziarah chapter Malang. Setidaknya, komunitas ini telah tiga kali mengadakan kegiatan tersebut dengan berjalan kaki sepanjang 23 kilometer dari pusat kota Malang. Kegiatan ketiga (Minggu, 24 Mei 2026) diikuti oleh peserta dari berbagai kota, antara lain Malang, Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, Yogyakarta, hingga Bandung.
Usia mereka beragam, dari belia hingga lansia, namun medan yang ditaklukan seragam. Untuk mencapai Pertapaan Karmel Ngadireso, peserta berjalan melewati jalan raya dengan elevasi yang bervariasi, menyusur perkampungan, melewati area makam dengan jalan sempit licin dan sedikit curam, dan menerobos pasar yang padat.
Baca Homo Viator nan tak Kenal Lelah
Di area publik inilah perjumpaan demi perjumpaan antara peserta dan masyarakat setempat menjadi kaya makna, baik dalam bentuk sapaan kecil, obrolan singkat, hingga melarisi jajanan setempat. Ujud pribadi pun terselip dalam tiap langkah kaki menuju Pertapaan Karmel.
Puncak Refleksi Peziarah
Medan yang mengaduk emosi peserta kali ini adalah areal perkebunan dan persawahan dengan berjalan di atas jalan makadam. Meski hanya sekitar 2 kilometer, berjalan di atas jalan makadam mampu membuat telapak kaki menjerit. Pedih, panas, mencabik emosi mereka yang kelelahan.
Berjalan di atasnya telapak kaki terstimulasi oleh permukaan batuan yang tidak beraturan. Untuk mengimbanginya, perlu pengendalian emosi serta keprigelan menjaga keseimbangan tubuh agar langkah tidak mudah tergelincir yang konsekuensinya menguras tenaga dan memperlambat tempo perjalanan.
Baca Allegro, Jack Dambe, dan Hero Dhae: Apologet Katolik di Arena Digital
Konstruksi jalan makadam berupa perkerasan menggunakan susunan batu pecah dan pasir yang dipadatkan, biasa dimanfaatkan di daerah pedesaan. Sebutan makadam (macadam) diambil dari nama penemunya, John Loudon McAdam, seorang insinyur sipil dan penemu berkebangsaan Skotlandia.
| Jalan makadam yang sulit dilupakan oleh peserta mlampah ziarah (dok. Anna Theodora Ang) |
Dalam sesi sharing, tak sedikit peziarah yang mengaku emosinya sempat terpancing, marah, lelah, putus asa, dan ingin secepatnya menuntaskan perjalanan.
“Saya tidak tahan berjalan lambat, rasanya ingin jalan cepat, tetapi ada seorang ibu yang berjalan lambat dan selalu minta saya temani. Di sini saya mengakui bahwa saya kurang peka,” sharing dari Suster Desi, MISC (Kongregasi Suster Misericordia).
Menanggapi sharing peserta, Romo Irtikandik Darmawan, O.Carm merangkum bahwa perjalanan ziarah menyimbolkan betapa dalam peziarahan hidup setiap ada turunan, pasti akan ada tanjakan, pun sebaliknya. “Apa yang kita lihat dalam situasi saat kita lelah? Diri sendiri. Maka, harus bisa menahan ego. Tidak boleh sombong, jumawa, atau takabur. Jangan gunakan ukuran orang lain, jangan pula paksakan ukuran kita pada orang lain,” pesan Romo Andik.
Di saat-saat seperti itu, lanjut romo pembina komunitas Mlampah Ziarah chapter Malang ini, perjumpaan dengan orang lain, sapaan semangat, dan banyak hal kecil lainnya justru akan berdampak besar pada diri kita dan menyadarkan betapa kita telah melewatkan banyak hal ketika kita terbuai mengikuti ritme dunia yang sangat cepat saat ini.
Pertanyaan reflektifnya, sekembalinya ke rutinitas masing-masing, masihkah kita sanggup merawat dan menularkan semangat perjumpaan tersebut, ataukah membiarkannya pelan-pelan redup, menghilang, dan kembali larut dalam dunia yang terus berlari.
Homo homini socius, manusia adalah sahabat (teman) bagi sesama manusia.
Penulis: A. Ariobimo Nusantara