𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 𝗦𝗮𝗺𝗮 d𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵?
Oleh P Jack Dambe Cjd
Membaca pertanyaan "𝗠𝗮𝗿𝗶𝗮 𝗦𝗮𝗺𝗮 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵?" (di laman FB) saya menangkap sebuah kegelisahan iman yang sangat jujur, namun sekaligus menyiratkan sebuah jejak historis yang panjang. Pertanyaan ini, sesungguhnya, bukanlah murni milikmu (orang Katolik).
Tanpa kamu sadari, akal budimu sedang menggemakan kembali kerangka berpikir dan asumsi teologis dari para tokoh Reformasi abad ke-16, khususnya Yohanes Calvin dan Ulrich Zwingli, yang mewariskan sebuah cara pandang tertentu kepada saudara-saudari Protestan kita hingga hari ini.
Pertanyaanmu berbunyi: "Jika Maria mampu mendengar, berarti ia sama dengan Allah (Maha Pendengar). Jika tidak, dari mana ia tahu?"
Di balik kalimat itu, bersembunyi dua kesesatan logika (logical fallacy) fundamental khas Protestantisme klasik yang harus dibongkar dan kritisi secara radikal.
Mari kita bedah satu per satu berpijak pada fondasi kokoh iman Gereja Katolik.
Menggugat Logika "Zero-Sum Game" Protestantisme
Kesesatan logika pertama yang mendasari pertanyaanmu adalah teologi "Zero-Sum Game" (permainan menang-kalah mutlak). Reformator seperti Calvin dalam Institutio Christianae Religionis terjebak pada pemikiran bahwa: untuk mengagungkan Allah, kita harus menihilkan ciptaan-Nya. Logika mereka berkata bahwa setiap penghormatan atau peran yang diberikan kepada makhluk ciptaan (seperti Maria atau para kudus) secara otomatis akan "merampok" atau mengurangi kemuliaan Allah. Ini adalah logika yang sangat kerdil dan merendahkan kebesaran Tuhan itu sendiri!
Gereja Katolik, yang dibangun di atas pilar pemikiran Bapa Gereja dan Skolastika, tidak pernah melihat relasi Allah dan ciptaan-Nya sebagai sebuah kompetisi. Mengutip pandangan Santo Thomas Aquinas, rahmat tidak menghancurkan kodrat, melainkan menyempurnakannya (gratia non tollit naturam, sed perficit).
Kebesaran seorang Maestro tidak terlihat dari kemampuannya melukis sendirian, tetapi justru ketika ia memampukan kuas dan kanvas yang fana untuk menghasilkan mahakarya. Ketika Bunda Maria diberi karunia untuk mendengar doa-doa kita, itu sama sekali tidak menyaingi status Allah sebagai "Maha Pendengar". Mengapa? Karena kemampuan Maria bukanlah berasal dari Natura (kodrat ilahi) dirinya sendiri, melainkan sepenuhnya berasal dari Participatio (partisipasi) dalam Rahmat Allah. Menghormati mahakarya (Maria) adalah bentuk pujian tertinggi kepada Sang Seniman Agung (Allah).
Membongkar Materialisme Spiritual: Memenjarakan Surga dalam Hukum Fisika
Kesesatan logika kedua terletak pada kalimatmu: "Padahal ia sudah tidak di dunia lagi." Ini adalah argumen yang paling sering dipakai, namun secara teologis sangat rapuh. Logika ini secara tidak sadar mengadopsi pandangan materialistik. Berpikir bahwa kematian fisik atau keterpisahan dimensi ruang-waktu memutus komunikasi antar anggota Tubuh Kristus adalah sebuah penghinaan terhadap daya selamat dari Salib Kristus! Jika kematian bisa memisahkan kita dari doa dan kasih para kudus di surga, lalu apa artinya kemenangan Kristus atas maut? Rasul Paulus dengan lantang berseru dalam Roma 8:38-39 bahwa kematian sekalipun tidak dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus.
Saudaraku, Gereja sejak abad-abad pertama mengimani Communio Sanctorum (Persekutuan Para Kudus). Gereja yang berjuang di bumi (Ecclesia Militans), Gereja yang memurnikan diri di Purgatorium (Ecclesia Penitens), dan Gereja yang jaya di Surga (Ecclesia Triumphans) adalah Satu Tubuh Kristus. Dan di dalam satu tubuh biologis sekalipun, jika kaki menginjak duri, apakah kepala tidak mengetahuinya? Apalagi dalam Tubuh Mistik Kristus! Bunda Maria dan para kudus bukannya "sudah tidak ada", mereka justru jauh lebih hidup daripada kita yang masih terbelenggu dalam kefanaan dunia ini.
Visio Beatifica: Menjawab Tuduhan "Maha Pendengar"
Lalu, bagaimana Maria bisa mendengar jutaan doa tanpa menjadi Allah yang Omnisains (Maha Tahu)? Inilah pukulan telak teologi Katolik yang gagal dipahami oleh para reformator.
Zwingli menolak perantaraan para kudus karena rasionalitasnya tidak bisa membayangkan bagaimana orang mati mendengarkan jutaan orang hidup secara bersamaan. Ia membayangkan Maria memiliki "telinga fisik raksasa" yang kewalahan menerima sinyal suara dari bumi. Ini konyol.
Santo Thomas Aquinas dalam Summa Theologica memberikan jawaban yang luar biasa elegan: Visio Beatifica (Visi Membahagiakan). Di surga, para kudus tidak melihat dunia dengan mata jasmani atau mendengar dengan telinga fisik. Mereka melihat Allah dari muka ke muka. Allah adalah Terang yang Tak Terhampiri, dan di dalam Terang itu, para kudus melihat segala sesuatu in Verbo (di dalam Sang Sabda).
Bayangkan Allah sebagai sebuah cermin kosmik yang maha luas, yang memantulkan seluruh peristiwa di alam semesta.
Bunda Maria tidak perlu menunduk menatap bumi untuk mendengarkan jutaan doamu. Maria selalu menatap Allah, dan di dalam Allah-lah, Allah mengizinkan Maria melihat dan mengetahui setiap doa yang anak-anaknya panjatkan kepadanya. Ia tidak "Maha Pendengar" secara mandiri, tetapi ia dimampukan untuk mendengar oleh Dia yang Maha Pendengar. Allah yang menjadi fasilitatornya. Jika teknologi manusia saja bisa membuat server yang memproses miliaran data pesan WhatsApp per detik, betapa naifnya kita jika menganggap Allah pencipta alam semesta tidak mampu membagikan "data doa" umat-Nya kepada Bunda Putra-Nya?
Pendasaran Alkitabiah dan Tradisi: Suara yang Tak Terbantahkan
Bagi mereka yang berteriak "Sola Scriptura" (Hanya Kitab Suci), tanyakan pada mereka: Bacalah Kitab Wahyu 5:8 dan Wahyu 8:3-4 (dalam teks Yunani: hai proseuchai tōn hagiōn - doa-doa para kudus). Di sana digambarkan secara eksplisit bahwa para dua puluh empat tua-tua dan para malaikat mempersembahkan cawan emas berisi kemenyan, yang adalah doa-doa umat kudus di bumi, ke hadapan anak Domba.
Pertanyaannya sangat logis: Bagaimana para makhluk surga ini bisa mempersembahkan doa orang-orang di bumi jika mereka tidak mampu mendengar atau mengetahui doa tersebut?
Ketika Protestanisme lahir di abad ke-16 dan mencoba membuang tradisi ini, mereka sebenarnya sedang melawan sejarah kekristenan itu sendiri!
Santo Hieronimus pada abad ke-4, saat menghancurkan argumen sesat Vigilantius (yang pola pikirnya mirip dengan pertanyaanmu), menulis dengan tajam: "Jika para Rasul dan Martir ketika masih mengenakan tubuh yang fana dan masih harus mengurus keselamatan mereka sendiri saja bisa mendoakan orang lain, apalagi sekarang setelah mereka menang, bermahkotakan kemuliaan, dan bersama Kristus? Apakah kuasa mereka menjadi mandul setelah mereka berada di surga?"
Jangan Merampas Cinta Seorang Ibu
Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium (LG 62) dengan sangat presisi menjaga keseimbangan ini. Gereja menegaskan bahwa gelar Maria sebagai Mediatrix (Pengantara) sama sekali tidak mereduksi martabat Kristus sebagai satu-satunya Pengantara. Peran Maria berada di bawah dan di dalam perantaraan Kristus. Kita memberikan penghormatan khusus (Hyperdulia), bukan penyembahan (Latria) yang menjadi hak tunggal Allah.
Saudara, berhentilah mengukur misteri surga dengan penggaris dunia yang patah!
Logika Protestanisme yang menyusup dalam pikiranmu mencoba memisahkan apa yang telah disatukan Allah. Maria tidak merampas takhta Allah. ,Maria justru berlutut di hadapan takhta itu untuk membisikkan namamu. Jangan biarkan argumentasi rasionalistik yang dingin merampas keindahan memiliki seorang Ibu Rohani. Doamu kepadanya tidak pernah salah alamat, karena alamat utama yang dituju Maria selalu bermuara pada hati Putranya yang Maha Kudus.
Tuhan Yesus memberkatimu. Dan biarlah Sang Theotokos senantiasa mendekap kegelisahanmu dalam jubah doanya.
Satu pertanyaan untuk merenungkan lebih lanjut: Jika kamu adalah seorang anak yang memiliki ayah seorang Raja yang Maha Kuasa dan Maha Baik, apakah sang Ayah akan marah jika kamu meminta ibumu untuk turut membantumu memohon sesuatu kepadanya? Ataukah sang Ayah justru tersenyum melihat keintiman keluarga kerajaannya?