Anatema dan Ekskomunikasi : Cara Gereja Katolik Menjaga Kemurnian Ajaran

Anathema Sit!

 

Anatema dan Ekskomunikasi dalam Gereja Katolik: Obat dan bagian dari sayang seorang ibu pada anaknya. Ist.

Oleh P Jack Dambe Cjd

Gereja Katolik itu seperti sebuah klub yang sangat besar, sangat tua, dan memiliki aturan keanggotaan yang jauh lebih rumit daripada syarat pendaftaran gim daring mana pun. Di dalam klub ini, ada dua istilah yang sering bikin bulu kuduk berdiri: ekskomunikasi dan anatema

Banyak orang menyangka ini adalah cara Gereja "memecat" anggotanya dengan penuh kebencian. 

Padahal sejatinya, ini lebih mirip dengan "kartu merah" dalam sepak bola atau "muting" dalam grup WhatsApp keluarga agar suasana tidak semakin kacau. 

Baca Johann Eck dan Fondasi Teologisnya dalam Melawan Martin Luther

Ekskomunikasi, dalam bahasa yang lebih santai, adalah sebuah "skorsing rohani." Status sebagai orang Katolik tidak akan pernah hilang karena meterai baptis itu sifatnya permanen, seperti tato di jiwa yang tidak bisa dihapus meski pakai laser tapi seseorang dilarang ikut merayakan "pesta" sakramen

Anda tidak boleh terima komuni. Tidak boleh jadi wali baptis. Dan dilarang memegang jabatan struktural. 

Tujuan ekskomunikasi dan anatema 

Apa tujuan ekskomunikasi dan anatema

Bukan untuk menghukum agar Anda menderita, melainkan sebagai obat atau medicinal penalty. Gereja ingin Anda merasa "kangen" dan sadar bahwa perilaku Anda entah itu mengajarkan ajaran sesat atau melakukan tindakan kriminal berat tertentu, telah merusak persekutuan. 

Jadi, ekskomunikasi adalah cara Gereja bilang, "Kami sayang kamu, tapi tolong menjauh dulu sampai kamu sadar dan mau minta maaf."

​Lalu, apa bedanya dengan anatema? Jika ekskomunikasi adalah teguran keras, maka anatema di masa lalu adalah "level bos" dari segala pengucilan. 

Sepatah kata ini berasal dari bahasa Yunani yang secara harfiah berarti "dikhususkan untuk kehancuran." 

Baca Mengenal sosok Post Truth terkait Gereja Katolik di Indonesia

Secara historis, anatema adalah bentuk ekskomunikasi yang paling khidmat, paling teatrikal, dan paling menyeramkan. 

Bayangkan sebuah ruangan gelap. Ada dua belas imam memegang lilin. Seorang uskup membaca kutukan. Lalu lilin-lilin itu dilempar ke lantai sampai padam. Itu adalah simbol bahwa orang tersebut benar-benar dianggap "mati" secara spiritual di mata komunitas karena dia telah menyerang fondasi iman yang paling mendasar. 

Anatema biasanya dipukulkan kepada para nabi palsu atau tokoh-tokoh yang ngotot menyebarkan ajaran yang bisa menghancurkan gereja dari dalam. 

Namun, perlu diingat, sejak Hukum Kanonik tahun 1983 diterbitkan, Gereja sudah pensiun dari istilah anatema ini. Gereja modern merasa ritual "lempar lilin" dan kutukan itu terlalu dramatis untuk zaman sekarang. 

Sekarang, semuanya disederhanakan menjadi "ekskomunikasi" saja. Hal itu karena pada akhirnya, Gereja lebih ingin menjadi rumah sakit bagi pendosa daripada menjadi ruang pengadilan yang dingin.

​Alasan di balik semua "drama" hukum ini sebenarnya sangat logis jika kita melihatnya dari sudut pandang perlindungan komunitas. 

Gereja Katolik melakukan ini untuk menjaga kemurnian ajaran 

Gereja melakukan ini untuk menjaga kemurnian ajaran dan melindungi umat lain agar tidak bingung. 

Baca Exsurge Domine

Jika ada seseorang yang mengaku Katolik tapi terang-terangan bilang bahwa "bumi itu datar dan surga itu hanya ada di mal," Gereja harus memberikan batasan tegas agar umat lain tidak ikut-ikutan tersesat. 

Ini soal menjaga integritas "brand" rohani. Selain itu, tujuannya adalah pertobatan pribadi. Ekskomunikasi adalah upaya terakhir ketika nasehat baik-baik sudah tidak mempan. Ini adalah bentuk cinta yang tegas, atau tough love

Gereja memandang bahwa terkadang seseorang perlu merasakan gelapnya "luar pagar" agar dia menghargai hangatnya cahaya di dalam rumah.

Hari ini, Gereja memandang ekskomunikasi 

​Hari ini, Gereja memandang ekskomunikasi dengan kacamata yang jauh lebih pastoral dan penuh empati, meski tetap tegas. Tidak ada lagi suasana abad pertengahan yang penuh kemarahan. Ekskomunikasi dipandang sebagai undangan untuk rekonsiliasi. 

Gereja menyadari bahwa di dunia yang serba permisif ini, batasan tetap diperlukan agar kita tahu di mana kita berdiri. 

Jika sebuah komunitas tidak berani memberikan sanksi pada kesalahan yang fatal, maka komunitas itu sebenarnya tidak memiliki nilai apa pun untuk diperjuangkan. 

Dengan tetap mempertahankan hukum ekskomunikasi (meski membuang istilah anatema), Gereja ingin mengingatkan kita bahwa menjadi bagian dari sesuatu yang suci itu ada tanggung jawabnya. 

Anda tidak bisa mengklaim diri sebagai bagian dari tubuh, tapi bertindak sebagai racun bagi sel-sel lainnya. 

Jadi, jika suatu saat Anda mendengar kata "ekskomunikasi" Jangan bayangkan wajah pastor yang marah-marah. Bayangkanlah seorang ibu yang mengunci pintu kamar anaknya agar si anak berhenti mengamuk dan mulai merenung. 

Dengan harapan ketika pintu dibuka nanti, pelukan hangat sudah menunggu.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org