Kardinal Suharyo dan Seruan dari Altar: Waspada dan Bijaksanalah Menghadapi Post-Truth!

Kardinal Suharyo dan Seruan dari Altar: Waspada dan Bijaksanalah Menghadapi Post-Truth!
Kardinal Suharyo ingatkan umat Katolik awas dan bijaksana menghadapi dan merespons post truth. Dokpri.
Oleh Apen Panlelugen
Tiap zaman memiliki gelombangnya sendiri. Ada masa penganiayaan di era Nero, ada badai perpecahan pada abad Reformasi yang dipelopori Martin Luther, dan ada pula zaman modern ketika rasionalisme menggugat iman. Namun sepanjang lintasan sejarah itu, Gereja Katolik tidak pernah benar-benar tumbang. Ia diguncang, tetapi tidak roboh; diuji, tetapi tidak kehilangan arah.

Minggu siang, 8 Februari 2026. Pukul 13.00 WIB. Di tengah perayaan Hari Perkawinan Sedunia, suasana di Paroki Santa Ana, Duren Sawit, Jakarta Timur, terasa khidmat. 

Baca Ignasius Kardinal Suharyo: Perkawinan Katolik adalah Jalan menuju Kekudusan

Di hadapan umat yang memenuhi gereja, Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menyampaikan homili yang tidak hanya menyentuh keluarga-keluarga Katolik, tetapi juga menggugah kesadaran intelektual dan rohani umat.

Kardinal: Waspada dan bijaksana menghadapi post-truth

Pesannya tegas dan jernih: “Waspada dan bijaksana menghadapi post-truth!”

Seruan itu bukan retorika kosong. Ia lahir dari keprihatinan pastoral yang membaca tanda-tanda zaman. 

Dunia digital hari ini bergerak cepat, nyaris tanpa rem. Informasi berseliweran, opini bersahut-sahutan, narasi diproduksi tanpa henti. 

Di tengah derasnya arus itu, kebenaran kerap kali bukan lagi soal fakta, melainkan soal persepsi. Yang penting bukan benar atau tidak, tetapi viral atau tidak. Bukan akurat atau tidak, tetapi menyentuh emosi atau tidak.

Baca Pendidikan Iman Katolik Masa Kini: Antara Tradisi, Akal Budi, dan Tantangan Digital

Dalam konteks itulah peringatan Kardinal menemukan relevansinya. Ia berbicara pada keluarga-keluarga, pada pasangan suami-istri yang dipanggil membangun rumah tangga dalam kesetiaan. Namun, sesungguhnya, ia sedang berbicara kepada seluruh Gereja: tentang iman yang diuji oleh zaman.

Di era ketika setiap orang dapat menjadi “pewartaan” melalui media sosial, tidak semua yang viral adalah benar, dan tidak semua yang keras bersuara membawa terang. Zaman boleh berubah, medium boleh berganti, tetapi panggilan Gereja tetap sama: merawat kebenaran, memelihara kesatuan, dan menuntun umat agar tidak kehilangan arah di tengah kebisingan dunia digital. Maka post-truth bukan akhir dari iman. Ia adalah ujian. Dan seperti emas dalam perapian, iman yang dimurnikan justru akan semakin bercahaya.

Post-truth bukan sekadar istilah akademik. Ia adalah gejala budaya. Sebuah keadaan ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih menentukan sikap daripada fakta objektif. Dalam ruang publik, termasuk ruang religius, kebenaran bisa direkayasa, dipelintir, atau dipilih sesuai selera.

Kardinal tidak mengajak umat panik. Ia mengajak umat waspada dan bijaksana. Waspada artinya sadar bahwa ancaman itu nyata. Bijaksana artinya tidak reaktif, tidak emosional, tetapi teguh dalam peneguhan iman.

Di situlah Gereja diuji.

Iman Dua Ribu Tahun: Diuji, Bukan Diruntuhkan

Dalam homilinya, Kardinal Suharyo mengingatkan sebuah kenyataan historis yang tak terbantahkan: Iman Katolik telah berdiri kokoh selama dua ribu tahun. Dari zaman penganiayaan Romawi, pergolakan abad pertengahan, reformasi, pencerahan, modernisme, hingga era digital, Gereja tetap ada.

Kardinal berkata, kurang lebih hal yang demikian ini: 

Iman Katolik telah teruji selama dua milenium. Namun post-truth dan bidat selalu ada bersama, ko-eksistensi. Alih-alih meruntuhkan iman, justru mengujinya, bagai emas dimurnikan dalam perapian.

Pernyataan ini bukan romantisme sejarah. Ia adalah kesadaran eklesiologis. Gereja tidak pernah hidup dalam ruang steril. 

Sejak awal, ia hidup dalam ketegangan. Sejak Konsili Nicea hingga berbagai konsili berikutnya, Gereja bergulat dengan ajaran-ajaran yang menyimpang. Dalam sejarah, nama-nama seperti Arius, Nestorius, dan berbagai aliran lain muncul silih berganti. Mereka tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya berubah wajah.

Hari ini Gereja menghadapi post-truth

Hari ini, wajah itu bernama post-truth.

Jika dahulu bidat lahir dalam diskursus teologis yang serius dan panjang, kini ia lahir dalam potongan video pendek, dalam status media sosial, dalam kanal digital yang diproduksi dengan teknik persuasif dan emosional. Argumen diringkas, sejarah disederhanakan, dan Gereja diposisikan seolah-olah selalu salah.

Baca Pendidikan Iman Katolik Masa Kini: Antara Tradisi, Akal Budi, dan Tantangan Digital

Namun di situlah paradoksnya. Justru dalam serangan, iman menemukan pemurniannya. Emas tidak dimurnikan di ruang nyaman. Ia dimurnikan dalam api. Demikian pula iman. Ia tidak menjadi dewasa dalam ketenangan semu, tetapi dalam pergulatan.

Ko-eksistensi antara iman dan tantangan bukanlah tanda kelemahan Gereja. Ia adalah bagian dari misteri peziarahan Gereja di dunia.

Esensi Post-Truth dalam Gereja: Soal Itu-Itu Saja

Jika dicermati dengan jernih, topik yang diangkat oleh narasi post-truth tentang Gereja Katolik sebenarnya berulang. Soalnya itu-itu saja.

Baca Loya Latoya dan John Lodowyk David: Mengenal sosok Post Truth terkait Gereja Katolik di Indonesia

  1. Pertama, soal otoritas. Siapa yang berhak menafsirkan Kitab Suci? Apakah setiap orang bebas menafsirkan menurut selera pribadi? Ataukah ada otoritas yang diberi mandat untuk menjaga kemurnian ajaran?
  2. Kedua, soal Magisterium. Banyak yang mempertanyakan peran ajaran resmi Gereja. Seolah-olah Magisterium adalah alat kekuasaan, bukan pelayanan kebenaran.
  3. Ketiga, soal kanon Kitab Suci. Mengapa kitab tertentu masuk, yang lain tidak? Siapa yang menentukan? Tuduhan manipulasi sejarah sering muncul tanpa membaca proses panjang discernment Gereja perdana.
  4. Keempat, soal Trinitas. Misteri Allah Tritunggal kerap disederhanakan, bahkan diserang, seolah-olah itu adalah konstruksi belaka.
  5. Kelima, soal Bunda Maria. Devosi kepada Maria dituduh berlebihan, bahkan dianggap menyimpang, tanpa memahami perbedaan antara adorasi dan penghormatan.

Topik-topik ini bukan baru. Ia telah dibahas berabad-abad. Jawabannya pun tersedia dalam khazanah teologi Gereja yang kaya.

 Namun dalam era post-truth, kompleksitas itu diringkas menjadi slogan. 

Sejarah panjang diringkas menjadi satu kalimat provokatif. Dan umat yang tidak terbiasa membaca sumber primer mudah terombang-ambing.

Baca Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik: Tentang Kesatuan, Kebenaran, dan Tanggung Jawab Sejarah

Di sinilah tantangan literasi iman menjadi mendesak. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang tampak logis itu tepat. Tidak semua yang emosional itu autentik.

Gereja tidak takut pada pertanyaan. Tetapi Gereja mengajak bertanya dengan kerendahan hati intelektual.

Ketaatan pada Kesatuan: Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium

Dalam homilinya, Kardinal Suharyo menekankan sesuatu yang sangat mendasar: ketaatan. Namun ketaatan yang dimaksud bukanlah ketaatan buta pada figur atau struktur. Ia bukan pertama-tama ketaatan pada otoritas Gereja sebagai institusi, melainkan pada pokok-pokok iman Gereja yang dijaga dalam satu kesatuan: 

  1. Kitab Suci, 
  2. Tradisi, dan 
  3. Magisterium.

Tiga pilar ini tidak dapat dipisahkan. Satu kesatuan yang menopang. Sekaligus menjaga Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik sesuai dengan Credo.

Kitab Suci adalah Sabda Allah yang tertulis. Tradisi adalah Sabda Allah yang dihidupi dan diwariskan dalam kehidupan Gereja. Magisterium adalah pelayanan ajaran yang menjaga agar Sabda itu tetap murni dan utuh.

Jika satu dilepaskan dari yang lain, keseimbangan runtuh. Kitab Suci tanpa Tradisi dan Magisterium berisiko ditafsirkan secara liar. Tradisi tanpa Kitab Suci kehilangan akarnya. Magisterium tanpa keduanya kehilangan legitimasi rohaninya.

Kesatuan ini bukan konstruksi kekuasaan. Ia adalah hasil pengalaman iman Gereja selama dua ribu tahun. Sebuah kesadaran bahwa kebenaran iman tidak berdiri di atas opini individual, tetapi di atas persekutuan.

Dalam dunia yang menonjolkan otonomi absolut individu, gagasan tentang ketaatan sering disalahpahami. Ketaatan dianggap mengekang kebebasan. Padahal dalam iman, ketaatan adalah jalan menuju kebebasan sejati. Bukan kebebasan untuk mengatakan apa saja, tetapi kebebasan untuk tinggal dalam kebenaran.

Post-truth bekerja dengan memisahkan. Ia memisahkan fakta dari konteks, sejarah dari proses, teks dari tradisi. Sebaliknya, iman Katolik bekerja dengan menyatukan.

Di situlah perbedaan mendasarnya.

Ujian Zaman dan Kedewasaan Iman

Seruan Kardinal Suharyo pada Hari Perkawinan Sedunia bukanlah pesan sesaat. Ia adalah refleksi pastoral atas situasi zaman. Keluarga-keluarga Katolik hidup dalam dunia yang sama dengan dunia digital yang riuh. Anak-anak tumbuh dengan gawai di tangan. Informasi masuk tanpa saringan.

Jika orangtua tidak memiliki kedewasaan iman, bagaimana mereka akan menuntun anak-anaknya?

Karena itu, waspada dan bijaksana bukan sekadar sikap defensif. Ia adalah panggilan untuk mendewasakan iman. Membaca, belajar, berdialog, dan berakar pada ajaran Gereja.

Iman yang dewasa tidak mudah tersinggung. Ia juga tidak mudah terprovokasi. Ia tenang karena berakar. Ia teguh karena mengenal tradisinya. Ia kritis tanpa menjadi sinis.

Tiap zaman punya tantangannya, tapi Gereja Katolik terbukti berhasil menjawabnya

Sejarah Gereja menunjukkan bahwa tiap zaman punya tantangannya sendiri. Namun satu hal tetap: Kristus adalah pusatnya. Gereja bukan berdiri di atas kecerdasan manusia semata, tetapi di atas janji penyertaan ilahi.

Tiap zaman memiliki gelombangnya sendiri. Ada masa penganiayaan di era Nero, ada badai perpecahan pada abad Reformasi yang dipelopori Martin Luther, dan ada pula zaman modern ketika rasionalisme menggugat iman. Namun sepanjang lintasan sejarah itu, Gereja Katolik tidak pernah benar-benar tumbang. Ia diguncang, tetapi tidak roboh; diuji, tetapi tidak kehilangan arah.

Kini tantangannya berbeda wajah. Bukan lagi pedang dan penjara, melainkan derasnya arus disrupsi informasi. Kebenaran dipelintir oleh opini, emosi mengalahkan verifikasi, dan narasi post-truth menyusup lewat layar-layar kecil di genggaman. 

Di tengah suasana riuh rendah itu, ketaatan pada ajaran kerap ditawar dengan tafsir pribadi. Otoritas dipersoalkan, tradisi dipertanyakan, dan iman diuji bukan oleh kekerasan fisik, melainkan oleh kebisingan digital.

Dalam konteks Indonesia, Ignasius Kardinal Suharyo menjelaskan bahwa tantangan umat Katolik pada ketika ini bukan semata tekanan dari luar, melainkan juga kerapuhan dari dalam: melemahnya literasi iman, rendahnya disiplin rohani, serta mudahnya umat terombang-ambing oleh informasi yang belum terverifikasi. 

Di era ketika setiap orang dapat menjadi “pewartaan” melalui media sosial, tidak semua yang viral adalah benar, dan tidak semua yang keras bersuara membawa terang.

Zaman boleh berubah, medium boleh berganti, tetapi panggilan Gereja tetap sama: merawat kebenaran, memelihara kesatuan, dan menuntun umat agar tidak kehilangan arah di tengah kebisingan dunia digital.

Maka post-truth bukan akhir dari iman. Ia adalah ujian. Dan seperti emas dalam perapian, iman yang dimurnikan justru akan semakin bercahaya.

Di Paroki Santa Ana, siang itu. Pesan itu menggema ke seantero Nusantara. Bukan hanya untuk pasangan suami-istri yang merayakan kesetiaan mereka, tetapi untuk seluruh Gereja yang sedang berjalan dalam zaman yang kompleks.

Waspadalah. Dan juga bijaksana!

Karena iman dua ribu tahun tidak runtuh oleh badai opini. Ia justru diteguhkan olehnya.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org