Loya Latoya dan John Lodowyk David: Mengenal sosok Post Truth terkait Gereja Katolik di Indonesia
| Mengenali post truth Gerreja Katolik di Indonesia. Ist. |
Loya Latoya dan John Lodowyk David kerap muncul sebagai figur yang mengomentari tradisi dan sejarah Gereja Katolik, khususnya dalam bentuk kritik yang beredar luas di media sosial dan kanal digital.
Tokoh dalam pola komunikasi post-truth
Kedua orang itu dapat dipahami sebagai contoh tokoh dalam pola komunikasi post-truth. Sosok yang aktif bahkan gencar sekali membangun narasi, opini, dan interpretasi sejarah Gereja yang bersifat persuasif dan emosional, tetapi tidak selalu ditopang oleh metodologi sejarah yang ketat atau rujukan akademik yang terverifikasi.
Perlu ditegaskan secara akademik bahwa berdasarkan penelusuran dalam literatur teologi, historiografi Gereja, dan jurnal ilmiah yang diakui, nama “Loya Latoya” dan “John Lodowyk David” tidak tercatat sebagai teolog, sejarawan Gereja, atau akademisi yang memiliki publikasi ilmiah terindeks atau karya penelitian yang diakui secara luas.
Nama-nama tersebut lebih sering ditemukan dalam ruang opini digital, diskusi media sosial, atau konten polemis daring, bukan dalam publikasi akademik yang melalui proses peer review atau penelitian arsip.
Ciri post-truth
Dalam konteks post-truth, figur seperti ini biasanya memiliki beberapa ciri:
- Mengangkat isu sejarah Gereja dengan gaya retoris yang kuat dan emosional.
- Menggunakan potongan fakta tanpa konteks historis yang utuh.
- Mengandalkan daya viralitas dan resonansi emosional audiens dibandingkan verifikasi sumber primer.
Fenomena ini sejalan dengan pengertian post-truth sebagaimana dipopulerkan oleh Oxford Dictionaries pada 2016, yakni situasi ketika opini publik lebih dipengaruhi oleh emosi dan keyakinan pribadi daripada fakta objektif.
Karena itu, pembahasan mengenai kedua figur tersebut lebih relevan ditempatkan dalam kerangka analisis fenomena post-truth, bukan dalam kajian teologi akademik.
Hal yang menjadi perhatian bukan sekadar siapa tokohnya, melainkan bagaimana narasi tentang tradisi dan sejarah Gereja Katolik diproduksi, disebarkan, dan diterima dalam budaya digital.
Opini digital vs. kritik historis
Dengan memahami pola ini, umat dapat membedakan antara:
- kritik historis yang berbasis metodologi ilmiah, dan
- opini digital yang dikemas secara persuasif namun minim verifikasi.
Pendekatan semacam ini justru membantu memurnikan cara beriman: tidak anti-kritik. Sebaliknya juga tidak mudah terseret oleh narasi yang kuat secara emosional namun lemah secara akademik.