Alergi Abu Karena Produk Budaya : Tanggapan untuk Pendeta John Lodowik David

Abu: Tanda dan yang ditandakan
Abu sebagai tanda liturgis (signum visibile) menunjuk dan sekaligus mengantar umat pada realitas pertobatan (metanoia) sebagai pembaruan hidup oleh rahmat Allah. Ist.
Halo Pak Pendeta Lodowik. Nampaknya Anda sedang galau antara menjadi Teolog atau Kurator budaya. 

Anda mempersoalkan pengolesan abu di dahi dalam Gereja Katolik sebagai bukan perintah Injili yang berpijak pada ajaran para rasul karena  tak ada satu ayat pun yang menyebutkan praktek tersebut di dalam kitab suci

Anda mengatakan praktek itu lahir dari budaya yang dikristenkan. Kemudian anda mengutip Injil Matius 6:16-18, yang menjadi dasar supaya praktik lahiriah tidak dijadikan tontonan religius. Lalu anda menutup argumen dengan pernyataan  “pertobatan tidak pernah ditentukan oleh apa yang ditempel di dahi, melainkan oleh apa yang diubahkan di hati.

 Hmm….menarik mari kita bedah!!!

Masalah "Mana Ayatnya?": Sola Scriptura atau Sola Robot?

Anda bilang tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan ritual pengolesan abu tahunan. Pertanyaan saya sederhana: Memangnya iman Kristen itu manual perakitan furnitur IKEA yang setiap bautnya harus tertulis di buku petunjuk?

  1.  Logika Anda: Jika tidak ada perintah eksplisit "Oleskan abu di hari Rabu", maka itu sesat.
  2.  Kenyataan Alkitabiah: Alkitab justru penuh dengan abu sebagai bahasa pertobatan (Ayub, Daniel, Yunus). Gereja hanya memberikan wadah liturgis agar umat bisa mempraktikkan "bahasa Alkitab" tersebut secara bersama-sama.
  3. Tentang Matius 6:16-18: Anda salah alamat mengutip ayat ini. Yesus mengkritik orang yang pamer kesucian. Tanda abu di dahi itu justru pamer KEBUSUKAN. Kita berteriak pada dunia: "Saya ini debu, saya pendosa!" Orang gila mana yang mau menjadikan "pengakuan sebagai sampah" sebagai tontonan religius untuk kesombongan?

Jika iman hanya sebatas apa yang tertulis eksplisit di kertas (Sola Scriptura garis keras yang cenderung kaku), maka Bung Lodowik seharusnya menjadi robot yang tidak bisa bergerak tanpa perintah kode script. 

Gereja Katolik bukan organisasi yang baru lahir kemarin sore dari hasil penafsiran mandiri di kamar mandi. 

Gereja Katolik adalah organisme hidup yang memiliki Otoritas Apostolik. Kristus memberikan kunci kerajaan surga kepada Petrus, bukan kepada "Buku Manual". Tradisi adalah cara Gereja bernapas. Menolak tradisi hanya karena "tidak ada ayatnya" adalah bentuk kesombongan intelektual yang membuat iman Anda jadi sekering kerupuk kaleng.

2. "Baptisan Budaya": Karena Tuhan Tidak Anti-Sosial

Anda menuduh Rabu Abu adalah "budaya lama yang dilabeli Kristen". Well, selamat datang di dunia nyata! Kekristenan memang agama yang menginkarnasi (menguduskan) budaya, bukan membuangnya ke tempat sampah.

Jika Anda anti-budaya karena itu "bukan perintah langsung Tuhan", mari kita konsisten:

  1. Pakaian dan Jas: Memakai jas dan dasi saat khotbah itu produk budaya Barat. Tidak ada perintah Yesus untuk pakai dasi. Semoga saja bung Lodowik tidak termasuk pendeta yang memakainya ketika berkotbah bagi jemaat. 
  2. Musik dan Alat Musik: Piano, gitar, dan organ itu ciptaan manusia, sering digunakan di bar atau gedung pertunjukan. Lalu oleh banyak Gereja denominasi "membaptisnya" jadi alat musik gereja? Semoga saja di dalam Gereja Pendeta Lodowik tidak ada alat musik ini, karena itu produk tidak injili, tapi lahir dari budaya.
  3. Gedung Gereja: Yesus tidak pernah memerintahkan bangun gedung dengan AC dan sound system. Hehe kalo ini konsekuen diterapkan, wah bubar tuh jemaatnya pak pendeta, tanpa Gereja sebagai produk budaya. 

Kalau Bung Lodowik benar-benar ingin murni "Alkitabiah tanpa budaya", mestinya besok Minggu Anda naik ke mimbar dalam keadaan telanjang bulat. Itulah kondisi asli Adam dan Hawa di Taman Eden, sangat alkitabiah, sangat orisinal, tanpa "embel-embel budaya" berupa kain. Bayangkan jemaat Anda melihat "kejujuran teologis yang sangat alkitabiah" Anda di atas mimbar tanpa sehelai benang pun. Berani??? 

3. Rabu Abu: Bukan Sakramen, Tapi "Alarm" Iman

Kami setuju satu hal: Rabu Abu bukan Sakramen. Itu adalah sakramentali/tradisi gerejawi. Tapi, apa yang salah dengan tradisi yang mengarahkan hati pada Tuhan?

  1. • Fungsi Simbol: Anda bilang pertobatan itu dari hati. Betul! Tapi manusia itu makhluk sensorik. Kita butuh bahasa simbol.
  2. • Contoh: Anda memberikan cincin saat menikah. Apakah logam di jari itu cinta? Bukan. Tapi cincin itu menggugah ingatan akan janji cinta. Begitu juga abu; ia adalah alarm fisik yang mengguncang hati yang mulai mati rasa agar ingat: "Eh, kamu itu cuma debu, jangan sombong!"

4. Protestantisme dan "Simbol Budaya" yang Terlupakan

Janganlah munafik, Bung. Di dalam Protestantisme, Anda juga mengadopsi banyak hal budaya yang diberi makna rohani belakangan:

  1. Pohon Natal: Tradisi Jerman kuno yang "dibaptis" dan dipakai dalam Gereje 
  2. Jas dan Toga Pendeta: Budaya akademis/formal yang diadopsi tidak ada ayatnya di dalam kitab suci
  3. Liturgi Modern: Yang seringkali lebih mirip konser rock daripada ibadah para rasul, sudah pasti tidak ada ayatnya. 

Gereja Katolik hanya lebih jujur dalam menghargai sejarah. Kami mengambil simbol debu yang sudah ribuan tahun digunakan manusia untuk menunjukkan duka, dan kami bawa ke hadapan Kristus. Itu namanya Penebusan Budaya, bukan sinkretisme murahan.

Kesimpulan dan Saran untuk Bapa Pendeta John Lodowik David:

Saya sangat sepakat pertobatan itu terkait dengan masalah hati, tapi hati manusia itu seringkali "bebal". 

Abu di dahi adalah cara Gereja membantu hati yang bebal itu untuk sadar melalui sentuhan fisik yang nyata yakni dengan mengoleskan abu, symbol kesadaran diri yang tak berharga, dan siapa-siapa di hadapan Tuhan

Jadi, daripada sibuk menguliti tradisi orang lain, mungkin Bung Lodowik bisa mulai mencicil memesan "baju Adam" (baca: tidak pakai baju) untuk khotbah minggu depan, agar Anda tetap konsisten menjadi orang Kristen yang "Anti-Budaya, namun alkitabiah". Wkwkwk...

NB: untuk teman-teman Katolik, kalau anda berkomentar, tolong komentar sewajarnya ya, jangan mencaci maki, kita fokus pada argumen.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org