Pengadilan Privat, Publik, dan Kebangkitan Badan

Pengadilan Privat, Publik, dan Kebangkitan Badan
Pengadilan Privat, Publik, dan Kebangkitan Badan dalam Gereja Katolik. Ist.

Oleh P Jack Dambe Cjd

Pernahkah Anda membayangkan apa yang terjadi satu detik setelah napas terakhir Anda berhembus?

 Saat keluarga di bumi mungkin sedang sibuk memilih desain peti mati, berdebat soal menu katering untuk para pelayat, atau diam-diam memikirkan pembagian warisan, Anda di alam sana justru sedang berdiri di sebuah "ruang interogasi" paling mutakhir sejagat raya.

Selamat datang di dunia pasca-kematian versi Katolik, sebuah realitas yang jauh lebih epik dari film fiksi ilmiah mana pun dan jelas lebih menegangkan daripada panggilan mendadak dari kantor pajak. Dalam iman Katolik, kematian bukanlah tombol log out permanen menuju tidur panjang yang damai tanpa mimpi, melainkan gerbang menuju sebuah "audit" spiritual yang sangat komprehensif, tajam, dan presisi.

​Begitu jiwa Anda "pindah server" dari dunia ini, jangan harap ada ruang tunggu VIP. Anda akan langsung berhadapan dengan Pengadilan Pribadi. Ini adalah momen tatap muka paling intim sekaligus paling menakutkan dengan Kristus. Tidak ada pengacara kondang yang bisa disewa untuk membela Anda, tidak ada tombol delete history untuk menghapus jejak digital masa lalu, dan topeng kesalehan yang sering kita pakai  di dunia seperti di media sosial otomatis luntur tak tersisa. 

Diputuskan secara instan tanpa jeda

Di pengadilan ini, nasib kekal Anda langsung diputuskan secara instan tanpa jeda: langsung masuk Surga karena jiwa sudah sepenuhnya suci, terjun bebas ke Neraka karena menolak Tuhan secara sadar hingga detik terakhir, atau mampir dulu ke "ruang cuci" bernama Purgatorium. Purgatorium ini diperuntukkan bagi mereka yang jiwanya selamat, namun masih bau asap dosa duniawi yang venial (ringan) dan belum membayar lunas denda dosa tersebut selama hidup di bumi. 

Pendasaran untuk sesi "one-on-one" ini bisa Anda temukan dalam perikop tentang penghakiman setelah kematian pada Ibrani 9:27-28, serta momen saat Yesus menjanjikan Firdaus "hari ini juga" kepada penjahat yang bertobat pada Lukas 23:39-43

Secara resmi, Gereja menegaskan ajaran ini dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1021-1022, yang menyatakan bahwa setiap manusia menerima ganjaran abadi pada saat kematiannya dalam sebuah pengadilan khusus.

​Lalu, Anda mungkin mulai bertanya, "Kalau sudah divonis secara pribadi dan final, buat apa ada Pengadilan Umum di akhir zaman? Bukankah itu seperti pemborosan waktu Tuhan?" Tentu tidak. Jika Pengadilan Pribadi adalah ujian lisan di ruang tertutup, maka Pengadilan Umum adalah siaran langsung di stadion utama alam semesta. Mengapa demikian? Karena setiap tindakan kita punya butterfly effect atau efek domino yang panjang. Mungkin donasi rahasia Anda yang hanya lima puluh ribu rupiah telah menyelamatkan nyawa seseorang yang kelak melahirkan tokoh besar pambawa damai. Atau sebaliknya, gosip "kecil" yang Anda sebarkan di grup obrolan menghancurkan mental seseorang hingga keturunannya ikut merana. 

Di Pengadilan Umum

Di Pengadilan Umum, semua keterkaitan sejarah umat manusia ini dibongkar tuntas di hadapan seluruh ciptaan. Keadilan Tuhan dipamerkan secara publik agar semua melihat bahwa tidak ada satupun kebaikan yang sia-sia dan tidak ada kejahatan yang lolos dari hitungan. Anda bisa mengecek perikop tentang Penghakiman Terakhir atau pemisahan domba dan kambing pada Matius 25:31-46, serta penghakiman takhta putih yang besar pada Wahyu 20:11-15. Dokumen Gereja pada KGK 1038-1040 juga menegaskan bahwa kebangkitan semua orang mati akan mendahului Pengadilan Terakhir ini, di mana segala sesuatu yang tersembunyi akan disingkapkan secara terang benderang.

​Berkaitan dengan akhir zaman ini, ada satu bagian paling unik yang sering bikin orang mengernyitkan dahi: Kebangkitan Badan. Katolik tidak percaya bahwa kita akan menjadi hantu penasaran atau sekadar energi kosmik tak berbentuk selamanya. Manusia adalah paket komplit "Jiwa + Raga". Maka, pada akhir zaman, Tuhan akan melakukan pemanggilan kembali (recall) terhadap "hardware" kita ini agar kembali bersatu dengan "software" (jiwa) kita. Dogma ini berdasar kuat pada perikop kebangkitan tubuh di 1 Korintus 15:35-58, dan ajaran Yesus tentang kebangkitan untuk hidup atau dihukum pada Yohanes 5:25-29, yang juga ditegaskan secara gamblang dalam KGK 988-990 dan 1038.

​Namun, kualitas tubuh kebangkitan ini sangat bergantung pada "alamat terakhir" Anda. Bagi mereka yang berada di Surga, Anda akan mendapat upgrade versi ultimate yang disebut Tubuh Mulia. Tubuh ini anti-penuaan, anti-sakit, tidak butuh filter kamera, tidak terikat ruang dan waktu, serta bersinar memantulkan kemuliaan jiwa yang telah bersatu dengan Allah. 

Purgatorium sekali lagi

Bagi mereka yang berada di Purgatorium, Anda tidak perlu khawatir. Purgatorium hanyalah fasilitas cuci sementara. Saat kiamat tiba, tempat ini tutup buku. Semua penghuninya otomatis "lulus" ke Surga dan tentu saja mendapatkan Tubuh Mulia yang sama indahnya. Sebaliknya, bagi mereka yang berada di Neraka, kabar buruknya adalah mereka juga dibangkitkan. 

Akan tetapi, tubuh mereka dibangkitkan bukan untuk kemuliaan, melainkan agar penderitaan mereka menjadi utuh. Karena mereka menolak kasih Tuhan secara total dengan jiwa dan raga saat di dunia, maka raga itu dikembalikan layaknya penjara abadi untuk menanggung konsekuensi kekekalan yang pahit dan gelap tanpa Allah.

Baca PURGATORIUM, Membedah Logika Protestantisme

​Kematian dan akhir zaman pada akhirnya adalah pengingat tajam bahwa hidup ini bukan sekadar ajang numpang lewat atau trial version. Tubuh Anda hari ini bukanlah "casing" murahan yang bisa dipakai sembarangan lalu dibuang begitu saja. Apa yang Anda lakukan dengan mata, tangan, dan dompet Anda sekarang memiliki gema yang menembus hingga kekekalan. Berhentilah hidup seolah-olah Anda adalah karakter figuran di bumi ini. 

Hiduplah sebagai calon penghuni Surga yang sedang serius merawat jiwa dan raga untuk reuni akbar kelak. 

Pertanyaannya bukan lagi "Kapan saya mati?", tapi "Saat tubuh ini dikembalikan kepada saya di akhir zaman, apakah saya akan bangga memakainya saat berdiri di hadapan Sang Pencipta?"

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org