PAUS JOANNA: Meluruskan Halusinasi Sejarah Buatan Loya Latoya
| PAUS JOANNA: Meluruskan Halusinasi Sejarah Buatan Loya Latoya. Ist. |
Oleh P Jack Dambe Cjd
Tulisan ini hadir sebagai "obat sadar" untuk meluruskan klaim-klaim liar dari saudari kita, Loya Latoya. Tampaknya, beliau memiliki hobi unik: memproyeksikan fantasinya sendiri menjadi "fakta sejarah" Gereja Katolik.
Latoya menyajikan narasi seolah-olah dia menemukan harta karun rahasia Vatikan di internet, padahal yang dia temukan hanyalah tumpukan gosip abad pertengahan yang sudah basi dan dibuang ke tong sampah oleh sejarawan serius, bahkan oleh sejarawan Protestan sendiri.
Mari kita kupas narasinya satu per satu dengan akal sehat dan data sejarah yang waras.
1. Legenda "Paus Joan": Drama Korea Abad Pertengahan
Klaim Latoya: Latoya dengan berapi-api menceritakan adanya Paus perempuan bernama Joan yang hamil dan melahirkan saat prosesi. Dia mengklaim ini fakta yang dihapus karena memalukan. Lucunya, Latoya sendiri bingung: di satu paragraf dia bilang kejadiannya tahun 1100, di paragraf lain mengutip sumber tahun 855. Selisih 250 tahun itu bukan salah ketik, itu buta Sejarah untuk Latoya.
Jawab: Latoya, mari kita buka kalender tahun 855 Masehi.
• Paus Leo IV wafat tanggal 17 Juli 855.
• Paus Benediktus III langsung terpilih dan bertahta tanggal 29 September 855.
• Bukti fisiknya ada: koin (denarius) yang dicetak bersama oleh Benediktus III dan Kaisar Lothair I (yang meninggal September 855).
Pertanyaannya: Di mana selipan waktu 2 tahun untuk "Paus Joan" hamil dan berkuasa? Apakah dia Paus part-time di akhir pekan? Secara kronologis, sejarah kepausan di masa itu sangat rapat. Tidak ada celah sehelai rambut pun untuk menyisipkan drama kehamilan ini.
Lalu dari mana asalnya cerita ini? Ini adalah urban legend atau gosip biarawan yang baru muncul 400 tahun kemudian (Abad ke-13).
• Tujuan Awal: Sebagai cerita satir/moral bagi para imam agar tidak "banci" atau lemah.
• Tujuan Akhir: Di kemudian hari, tokoh reformator memungut gosip sampah ini untuk menyerang Vatikan. Jadi, Latoya sebenarnya sedang mengunyah propaganda usang yang bahkan sejarawan Protestan modern (seperti David Blondel) sudah akui sebagai hoaks sejak abad ke-17.
2. Kritik Pedas Terhadap Sumber "Andalan" Latoya
Latoya mencoba terlihat intelektual dengan mencantumkan daftar sumber. Masalahnya, sumber yang dia pakai justru mempermalukan dirinya sendiri.
Mari kita "kuliti" sumbernya:
• Martinus Polonus (Abad ke-13): Latoya menyebutnya "catatan sejarah serius". Faktanya? Martinus adalah penulis kronik yang dikenal sangat ceroboh dan sering memasukkan legenda rakyat ke dalam tulisannya. Menjadikan Martinus sebagai bukti kejadian tahun 855 sama saja dengan menjadikan komik sebagai bukti Perang Dunia II. Jarak 400 tahun itu bukan jarak saksi mata, itu jarak "katanya-katanya".
• Stephen of Bourbon & Jean de Mailly: Keduanya adalah biarawan Dominikan yang menulis cerita ini sebagai bagian dari buku "kumpulan ilustrasi khotbah". Artinya, cerita ini digunakan sebagai cerita fiksi bermoral untuk menasehati jemaat agar menaati aturan, bukan sebagai laporan jurnalistik. Latoya gagal membedakan mana buku sejarah dan mana buku dongeng moralitas.
• Bartholomeo Platina (1479): Latoya mengutipnya seolah Platina mendukung kisah Joan. Padahal, jika Latoya membaca teks aslinya secara utuh, Platina menulis: "Cerita ini tersebar luas, tetapi bersumber dari penulis yang tidak jelas otoritasnya... saya menceritakannya secara singkat agar saya tidak dianggap terlalu lalai." Artinya, Platina mencatatnya hanya karena cerita itu populer, tapi dia sendiri skeptis dan tidak percaya. Latoya melakukan cherry-picking (memotong kutipan) secara licik.
3. Obsesi Latoya pada "Kursi Bolong" (Sedia Stercoraria)
Klaim Latoya: Ada kursi berlubang yang dipakai kardinal untuk meraba testis Paus terpilih sambil memastikan "barangnya" lengkap agar kejadian Joan tidak terulang.
jawab: Imajinasi Latoya ini sungguh liar dan, maaf, agak kotor kepornoan. Kursi itu memang ada di Museum Vatikan. Tapi itu adalah kursi mandi uap atau toilet bangsawan Romawi Kuno yang terbuat dari marmer merah mahal (porfiri). Vatikan menggunakannya kembali karena nilai seninya, bukan lubangnya.
Nama kursinya saja Stercoraria, diambil dari Mazmur 113:7: "Ia menegakkan orang hina dari debu, dan mengangkat orang miskin dari lumpur/kotoran (de stercore)." Paus duduk di situ untuk diingatkan: "Hei, meski kamu sekarang Paus, kamu asalnya dari debu, jadi jangan sombong." Ritualnya adalah tentang kerendahan hati, bukan pornografi. Kalau Latoya melihat kursi berlubang dan langsung terpikir soal raba-raba alat vital, mungkin yang perlu diperiksa bukan sejarah Gereja, tapi isi kepalanya sendiri.
4. Petrus Bukan Paus? (Logika "Cocoklogi")
Klaim Latoya: Petrus tidak pernah jadi Paus karena Paulus tidak menyapanya di Surat Roma Bab 16. Latoya juga memelintir kutipan Irenaeus.
Jawab: Ini adalah logika "Argumentum ex Silentio" (argumen dari kebisuan) yang sangat dungu. Bayangkan logika Latoya: "Saya kirim surat ke Jakarta tapi tidak menyapa Pak Presiden, berarti Presiden tidak ada di Jakarta." Konyol, kan? Paulus tidak menyapa Petrus mungkin karena Petrus sedang melakukan perjalanan misi (dia rasul, bukan patung), atau demi keamanan karena saat itu orang-orang Kristen dikejar-kejar oleh kaisar Nero.
• Soal Irenaeus: Latoya mengutip Adversus Haereses seolah Irenaeus menyangkal Petrus. Padahal Irenaeus dengan jelas menulis: "Gereja Roma didirikan oleh dua rasul paling mulia, Petrus dan Paulus... mereka menyerahkan jabatan episkopat kepada Linus." Linus adalah penerus (Paulus/Petrus adalah pendiri). Petrus adalah Paus pertama dalam arti pemegang mandat kunci surga, Linus adalah orang pertama yang meneruskan jabatan administratifnya setelah Petrus wafat.
• Bukti Arkeologi: Latoya sibuk main cocoklogi ayat, sementara arkeolog sudah menemukan Makam Petrus persis di bawah altar Basilika St. Petrus dengan grafiti kuno "Petros Eni" (Petrus ada di sini). Tulang-belulang pria abad ke-1 itu nyata. Itu fakta keras, bukan asumsi digital Google Books ala Latoya.
Kesimpulan untuk Latoya
- Saudara Latoya, narasi yang Anda bangun adalah contoh sempurna dari pseudo-history (sejarah semu). Anda menuduh Gereja Katolik "memanipulasi sejarah", padahal Andalah yang memotong-motong fakta demi memuaskan nafsu kebencian Anda.
- Gereja Katolik tidak pernah takut pada sejarah kelamnya sendiri. Kami mengakui ada Paus yang korup di masa lalu (seperti Alexander VI). Tapi Gereja menolak mengakui "Paus Joan" bukan karena malu, tapi karena dia memang tokoh fifiksi. Tanpa sadar anda mengakui ini sebagai fiksi dimana dalam narasianda menyebut kata legenda. Menghapus tokoh fiksi dari sejarah bukanlah manipulasi, melainkan akurasi.
- Saran saya: Kurangi membaca blog konspirasi, perbanyak baca buku sejarah yang ditulis sejarawan akademis (bukan sekadar hasil browsing repositori digital tanpa paham konteks). Iman Katolik berdiri di atas fakta sejarah yang teruji, bukan di atas dongeng fantasi yang dipaksakan jadi realita.
Mungkin ada yang tahu, gendernya Loya Latoya ini apa ya? Saya sapa pake kata saudara, takutnya dia saudari, jadi salah sebut.