Sola Scriptura tidak Dikenal Gereja Perdana
| Kitab Suci, Tradisi suci, Magisteriun adalah satu kesatuan kehidupan Gereja. Ist. |
Disclamer
Tulisan ini disusun untuk umat awam Katolik. Semua klaim didukung oleh sumber sejarah yang dapat diverifikasi: Kitab Suci, tulisan para Bapa Gereja, dan kajian sejarah Kekristenan. Nomor sitasi dicantumkan di dalam teks dan sumbernya tercantum dalam Daftar Pustaka.
Gereja lahir lebih dahulu daripada Alkitab Perjanjian Baru
Iman Kristen tidak lahir dari sebuah buku, melainkan dari sebuah peristiwa hidup: Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan para rasul yang diutus-Nya ke seluruh dunia.
Jauh sebelum umat Kristen memiliki Alkitab Perjanjian Baru seperti yang kita kenal sekarang, Gereja sudah hidup, mengajar, merayakan Ekaristi, dan mewariskan iman dari generasi ke generasi.
Di sanalah kita menemukan satu kenyataan sejarah yang sering luput disadari: Gereja perdana tidak pernah mengenal prinsip Sola Scriptura.
Sejarah Kekristenan dimulai bukan dengan sebuah buku, tetapi dengan sebuah komunitas iman.
Yesus Kristus tidak menulis kitab. Ia memilih para rasul dan mengutus mereka untuk mewartakan Injil. Salah satu rasul utama adalah Peter the Apostle yang dalam Injil menerima mandat menggembalakan Gereja.
Sesudah kebangkitan Kristus, para rasul memberitakan Injil secara lisan. Jemaat Kristen pertama hidup dari pewartaan para rasul, perayaan Ekaristi, dan kehidupan komunitas.
Pada masa ini Perjanjian Baru belum ada dalam bentuk lengkap. Injil Markus, misalnya, baru ditulis sekitar tahun 65–70 M, sedangkan Injil Yohanes kemungkinan ditulis mendekati akhir abad pertama [1].
Rasul Paul the Apostle bahkan menegaskan bahwa ajaran iman diterima dalam dua bentuk:
“Peganglah teguh tradisi yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun tertulis.” (2 Tesalonika 2:15) [2]
Ayat ini menunjukkan bahwa sejak awal Gereja tidak hanya mengandalkan tulisan, tetapi juga Tradisi Apostolik.
Gereja yang menentukan Kanon Alkitab
Alkitab yang kita kenal sekarang merupakan hasil proses sejarah yang panjang.
Pada abad-abad awal, banyak tulisan beredar di kalangan umat Kristen. Tidak semua tulisan itu berasal dari para rasul. Gereja harus menentukan mana yang benar-benar autentik.
Penetapan daftar kitab suci dilakukan melalui konsili gereja, antara lain:
Konsili tersebut menetapkan daftar kitab yang kemudian menjadi kanon Perjanjian Baru [3].
Sejarawan Alkitab Bruce Metzger menjelaskan bahwa kanon Perjanjian Baru berkembang melalui proses seleksi gereja selama beberapa abad sebelum akhirnya diterima secara luas [4].
Fakta ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting:
Gereja lebih dahulu ada daripada kanon Alkitab.
Para Bapa Gereja dan Tradisi Apostolik
Sesudah zaman para rasul, ajaran iman dijaga oleh para pemimpin gereja yang dikenal sebagai Bapa Gereja.
Salah satu tokoh awal adalah Ignatius of Antioch (sekitar tahun 107 M). Dalam suratnya kepada jemaat Smyrna ia menulis:
“Di mana uskup berada, di situ jemaat berada.” [5]
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesatuan Gereja dijaga melalui kepemimpinan apostolik.
Tokoh lain adalah Irenaeus (±180 M). Dalam karyanya Against Heresies, ia menulis bahwa ajaran yang benar dapat diketahui melalui suksesi para uskup dari para rasul [6].
Bagi Irenaeus, tradisi Gereja yang diwariskan oleh para rasul merupakan jaminan kebenaran ajaran iman.
Kesaksian Bapa Gereja tentang Tradisi
Beberapa Bapa Gereja bahkan secara eksplisit menyebut pentingnya tradisi yang tidak tertulis.
Salah satu contohnya adalah Basil the Great pada abad ke-4. Dalam karyanya On the Holy Spirit, Basil menjelaskan bahwa beberapa praktik gereja berasal dari tradisi para rasul yang diwariskan tanpa tulisan [7].
Hal ini menunjukkan bahwa Gereja awal tidak memahami iman hanya melalui kitab.
Sebaliknya, iman dipelihara melalui:
- Kitab Suci
- Tradisi apostolik
- kehidupan Gereja
Doktrin Besar Dirumuskan oleh Gereja
Beberapa doktrin penting Kekristenan dirumuskan melalui konsili Gereja.
Contoh yang paling terkenal adalah:
Konsili ini menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati dan menolak ajaran yang menyangkal keilahian-Nya.
Istilah teologis seperti Trinitas berkembang melalui refleksi Gereja atas Kitab Suci.
Proses ini menunjukkan bahwa Gereja tidak hanya membaca Alkitab, tetapi juga menafsirkan dan menjaga ajaran iman.
Masalah logika dalam Sola Scriptura
Beberapa teolog juga menunjukkan adanya persoalan logika dalam doktrin Sola Scriptura.
Prinsip ini menyatakan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya otoritas iman.
Namun, muncul pertanyaan mendasar:
Bagaimana seseorang mengetahui kitab mana yang termasuk Kitab Suci?
Daftar kitab tersebut tidak terdapat di dalam Alkitab. Daftar itu berasal dari keputusan Gereja.
Karena itu, beberapa sarjana menyebut logika Sola Scriptura sebagai circular reasoning: Kitab Suci digunakan untuk membuktikan otoritasnya sendiri, padahal daftar kitabnya ditentukan oleh Gereja [8].
Fragmentasi Gereja setelah Reformasi
Prinsip Sola Scriptura muncul dalam konteks: Protestant Reformation. Tokoh penting gerakan ini adalah Martin Luther.
Setelah Reformasi, muncul berbagai interpretasi Alkitab yang berbeda-beda. Sejarawan Kekristenan mencatat bahwa jumlah denominasi Protestan berkembang sangat pesat sejak abad ke-16 [9].
Perbedaan tafsir ini menunjukkan tantangan besar ketika tidak ada otoritas penafsiran yang diakui bersama.
Kitab Suci, Tradisi Apostolik, dan kehidupan Gereja
Sejarah Gereja menunjukkan bahwa sejak awal iman Kristen dipelihara melalui Kitab Suci, Tradisi Apostolik, dan kehidupan Gereja.
Kitab Suci memang sangat penting bagi umat Katolik. Namun Kitab Suci sendiri lahir dari rahim Gereja yang telah hidup lebih dahulu.
Dengan memahami sejarah ini, umat Katolik dapat melihat bahwa iman Gereja bukanlah sesuatu yang baru. Namun, iman Gereja adalah warisan iman yang dijaga sejak zaman para rasul hingga sekarang.
Daftar Pustaka
- Raymond E. Brown. An Introduction to the New Testament. Yale University Press, 1997.
- Alkitab. 2 Tesalonika 2:15.
- Council of Rome; Council of Carthage.
- Bruce Metzger. The Canon of the New Testament. Oxford University Press, 1987.
- Ignatius of Antioch. Letter to the Smyrnaeans.
- Irenaeus. Against Heresies.
- Basil the Great. On the Holy Spirit.
- Keith Mathison. The Shape of Sola Scriptura. Canon Press, 2001.
- Alister McGrath. Christianity's Dangerous Idea: The Protestant Revolution. HarperOne, 2007.