Konsili Nicea dan Cara Gereja Katolik Duduk Bersama Menyelesaikan Perbedaan Internal
Konsili Nicea salah satu cara Gereja Katolik menyelesaikan masalah internal. Istimewa.
Oleh Br. Yohanes Krisostomus Marjanto
Konsili Nicea tidak menghapus perbedaan dengan kekerasan. Gereja tidak memilih jalan mayoritas yang membungkam minoritas secara membabi buta, melainkan mengambil keputusan demi kesatuan iman yang dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah tampak wajah Gereja Katolik, tegas dalam ajaran pokok, tetapi menyelesaikan konflik melalui dialog bersama, bukan fragmentasi.
Gereja Katolik lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari sejarah manusia yang penuh perbedaan.
Sejak komunitas Kristen perdana, iman tidak pernah hadir dalam satu warna tafsir. Ada keragaman latar budaya, bahasa, bahkan cara memahami Yesus Kristus. Namun justru di sanalah Gereja belajar bahwa perbedaan bukan musuh iman, melainkan medan pergulatannya.
Pada awal abad ke-4, Kekristenan berada pada persimpangan penting. Setelah berabad-abad mengalami penganiayaan, agama ini memperoleh pengakuan legal melalui Edik Milan (313 M).
Akan tetapi, kebebasan itu membuka ruang konflik internal yang lama terpendam. Salah satu yang paling serius adalah perdebatan tentang siapa Yesus Kristus sebenarnya.
Perbedaan sebagai Kenyataan, Bukan Ancaman
Arius, seorang imam dari Aleksandria, mengajarkan bahwa Yesus bukan Allah sejati, melainkan makhluk ciptaan tertinggi.
Pandangan ini dengan cepat menyebar dan memecah komunitas Kristen. Perdebatan itu tidak berhenti di ruang teologi; ia menjalar ke jemaat, kota, bahkan mengganggu ketertiban sosial.
Dalam situasi inilah Gereja dihadapkan pada pilihan mendasar, membiarkan perpecahan berkembang, atau mencari jalan bersama. Kaisar Konstantinus, meski bukan teolog, menyadari satu hal penting ini: Konflik iman yang dibiarkan akan merusak kesatuan. Maka ia memfasilitasi pertemuan besar para uskup.
Keputusan ini menandai sebuah babak baru dalam sejarah Gereja, perbedaan tidak diselesaikan dengan saling mengutuk dari jauh, melainkan dengan duduk bersama, berbicara, dan mendengarkan. Di sinilah Konsili Nicea menemukan relevansinya yang abadi.
Konsili Nicea, Perdebatan Terbuka dalam Bingkai Persekutuan
Pada tahun 325 Masehi, sekitar 300 uskup dari berbagai wilayah Kekaisaran Romawi berkumpul di Nicea. Mereka membawa luka penganiayaan, perbedaan bahasa Yunani dan Latin, serta tradisi teologis yang tidak selalu sejalan. Namun mereka datang dengan satu kesadaran, Gereja tidak boleh pecah oleh tafsir iman.
Konsili Nicea bukan forum formal yang sunyi. Ia adalah ruang perdebatan keras, kadang emosional. Argumen teologis saling berhadapan. Kitab Suci dibaca, tradisi para rasul ditafsirkan, dan rasio digunakan secara serius. Namun semua itu terjadi dalam kesadaran persekutuan Gereja.
Hasil terpenting Konsili Nicea adalah perumusan Syahadat Nicea, yang menegaskan iman akan Yesus Kristus sebagai “Allah sejati dari Allah sejati, dilahirkan, bukan diciptakan, sehakikat dengan Bapa” (homoousios). Rumusan ini bukan sekadar formula teologis, melainkan buah pergumulan panjang dan kolektif.
Kitab Suci menjadi dasar utama, antara lain Yohanes 1:1,
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Gereja menegaskan bahwa iman tidak boleh direduksi oleh logika kekuasaan atau popularitas ajaran.
Menariknya, Konsili Nicea tidak menghapus perbedaan dengan kekerasan. Gereja tidak memilih jalan mayoritas yang membungkam minoritas secara membabi buta, melainkan mengambil keputusan demi kesatuan iman yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah tampak wajah Gereja Katolik, tegas dalam ajaran pokok, tetapi menyelesaikan konflik melalui dialog bersama, bukan fragmentasi.
Tradisi Katolik, Kesatuan Melalui Dialog dan Sinodalitas
Dari Konsili Nicea, Gereja Katolik mewarisi sebuah prinsip penting yang terus hidup hingga hari ini, kesatuan iman dicapai melalui proses bersama. Gereja tidak berdiri di atas satu individu, melainkan pada persekutuan para gembala dan umat.
Tradisi ini kemudian dikenal sebagai konsiliaritas dan sinodalitas. Konsili Vatikan II menegaskan kembali hal ini dalam Lumen Gentium, Gereja adalah umat Allah yang berjalan bersama, di mana para uskup bersatu dengan Paus dalam tanggung jawab pastoral.
Gereja Katolik memahami bahwa konflik internal tidak selalu tanda kegagalan. Justru konflik bisa menjadi ruang pemurnian. Sepanjang sejarah, Gereja menghadapi perdebatan tentang Kristologi, Trinitas, sakramen, hingga relasi iman dan budaya. Semua itu tidak diselesaikan dengan pemisahan, tetapi dengan konsili dan dialog.
Prinsip ini selaras dengan pesan Injil sendiri. Dalam Kisah Para Rasul 15, ketika Gereja perdana berselisih soal sunat, para rasul tidak bertindak sepihak. Mereka berkumpul di Yerusalem, berdiskusi, dan berkata, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami…” (Kis. 15:28).
Model inilah yang membedakan Gereja Katolik dalam sejarah Kekristenan. Ia memilih jalan panjang dan melelahkan, duduk bersama, mendengarkan suara Roh, dan menerima keputusan bersama, meski tidak selalu memuaskan semua pihak.
Dari Nicea ke Indonesia, Pelajaran bagi Gereja dan Bangsa
Hampir 17 abad setelah Konsili Nicea, Gereja Katolik masih hidup dengan perbedaan internal. Isu liturgi, moral, keadilan sosial, hingga peran awam terus memunculkan perdebatan. Namun Gereja tidak meninggalkan warisan Nicea, menyelesaikan perbedaan dengan dialog, bukan perpecahan.
Paus Fransiskus menegaskan kembali semangat ini melalui sinodalitas. Gereja diajak untuk berjalan bersama, mendengarkan suara pinggiran, dan membuka ruang percakapan. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan kedewasaan iman.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, diwarnai perbedaan agama, suku, dan pandangan, teladan Konsili Nicea menjadi sangat relevan. Gereja Katolik di Indonesia hidup sebagai minoritas yang belajar berdialog, bukan mendominasi. Perbedaan internal pun dikelola dengan semangat musyawarah, selaras dengan nilai kebangsaan.
Konsili Nicea mengajarkan bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk duduk bersama dalam perbedaan. Sebuah pelajaran yang melampaui batas Gereja, dan berbicara kepada dunia yang kian terpolarisasi.
Di tengah zaman yang mudah memutus relasi karena beda pandangan, Gereja Katolik, melalui warisan Nicea, menawarkan satu sikap mendasar, perbedaan tidak harus diselesaikan dengan saling meniadakan, selama ada keberanian untuk mendengar dan berjalan bersama.
Di situlah makna terdalam Konsili Nicea, bukan hanya sebagai peristiwa sejarah Gereja, melainkan sebagai pelajaran universal tentang bagaimana manusia merawat persatuan di tengah perbedaan.