Tanah Tempat Yesus Lahir dan Berkarya Saja Dihormati, Mengapa Maria Tidak?
Oleh Br. Cosmas DamianusHyperdulia atau penghormatan istimewa kepada Maria karena ia mengandung Yesus, bukan penyembahan. Ist.
Tanah yang disentuh kaki Yesus saja dihormati, mengapa Maria, rahim yang mengandung Dia selama sembilan bulan, justru dipersoalkan ketika dihormati? Logikanya terputus jika Inkarnasi diakui, tetapi konsekuensi Inkarnasi ditolak.
Tidak ada seorang Kristen pun yang menyangkal bahwa Tanah Suci memiliki kedudukan istimewa. Yerusalem, Betlehem, Nazaret, Kapernaum, dan Golgota dihormati, dikunjungi, bahkan dipelihara lintas abad.
Gereja Katolik menegaskan bahwa penghormatan terhadap tempat-tempat itu bukan penyembahan geografis, melainkan penghormatan atas peristiwa keselamatan yang sungguh terjadi dalam ruang dan waktu (Katekimus Gereja Katolik [KGK], art. 1160).
Tanah yang Diberkati dan Logika Inkarnasi
Yesus Kristus tidak hadir sebagai ide abstrak. Ia lahir, bertumbuh, berjalan, mengajar, menderita, wafat, dan bangkit di lokasi konkret. Inkarnasi adalah inti iman Kristiani: “Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yoh. 1:14).
Karena itu, Gereja memahami bahwa ruang yang disentuh oleh misteri keselamatan memiliki nilai sakramental, bukan magis, tetapi historis dan teologis.
Namun di titik inilah muncul pertanyaan mendasar yang sering dihindari: jika tanah yang disentuh kaki Yesus saja dihormati, mengapa Maria, rahim yang mengandung Dia selama sembilan bulan, justru dipersoalkan ketika dihormati? Logikanya terputus jika Inkarnasi diakui, tetapi konsekuensi Inkarnasi ditolak.
Gereja Katolik memandang Maria bukan sebagai alternatif Kristus, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari ekonomi keselamatan Allah.
Konsep dasar, atau teologi fundamental relasi Kristus Yesus-Maria ini kerap gagal dipahami oleh Non-Katolik. Maria tidak berdiri sendiri, tetapi ia adalah bunda Tuhan, teotokos.
Penghormatan kepada Maria berdiri di atas logika yang sama dengan penghormatan terhadap Tanah Suci: Allah sungguh bekerja melalui sarana manusiawi (KGK, art. 490).
Konsili Vatikan II menegaskan:
“Penghormatan kepada para kudus tidak mengurangi kemuliaan Allah, melainkan justru menampakkannya” (Lumen Gentium, art. 49).
Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru dalam Tradisi Gereja
Dalam Kitab Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian adalah benda paling kudus. Ia menyimpan loh hukum Taurat, manna, dan tongkat Harun (Ibr. 9:4). Tabut itu bukan Allah, tetapi kehadiran Allah menyertainya. Karena itu, ia dihormati dengan penuh hormat, bahkan disentuh sembarangan pun berakibat fatal (2Sam. 6:6–7).
Tradisi Gereja sejak awal membaca Maria dalam terang tipologi ini. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Maria “mengandung Putra Allah dalam rahimnya, bukan oleh kehendak manusia, melainkan oleh kuasa Roh Kudus” (Lumen Gentium, art. 53). Jika Tabut Lama mengandung tanda-tanda perjanjian, Maria mengandung Sang Perjanjian itu sendiri.
Kesepadanan ini bukan spekulasi devosional belaka. Injil Lukas menyusun narasi Maria dengan struktur yang paralel dengan kisah Tabut dalam 2 Samuel 6. Maria “berangkat dan pergi dengan segera ke daerah pegunungan” (Luk. 1:39), seperti Tabut yang dibawa ke pegunungan Yehuda.
Elisabet berseru dengan suara nyaring, sebagaimana Daud berseru di hadapan Tabut. Yohanes melonjak dalam rahim Elisabet, sebagaimana Daud menari di hadapan Tabut (Luk. 1:41–44; 2Sam. 6:14).
Gereja membaca ini sebagai kesaksian Kitab Suci bahwa Maria adalah Tabut Perjanjian Baru. Maka, penghormatan kepadanya bukan inovasi abad pertengahan, melainkan kelanjutan logis dari iman alkitabiah yang utuh (KGK, art. 2676).
Antara Penyembahan dan Penghormatan: Distingsi yang Kerap Gagal Paham
Keberatan paling umum terhadap penghormatan kepada Maria biasanya bertumpu pada satu asumsi: bahwa menghormati Maria berarti menyamakan dia dengan Allah. Di sinilah Gereja Katolik justru sangat ketat membedakan tingkatan relasi iman.
Penyembahan (latria) hanya diberikan kepada Allah Tritunggal. Penghormatan kepada orang kudus disebut dulia. Kepada Maria, Gereja memberikan penghormatan khusus yang disebut hyperdulia, karena perannya yang unik dalam sejarah keselamatan (KGK, art. 971). Ini bukan permainan istilah, melainkan kerangka teologis yang telah mapan sejak abad-abad awal.
Konsili Efesus (431) menegaskan Maria sebagai Theotokos, Bunda Allah, bukan untuk meninggikan Maria, melainkan untuk melindungi iman akan keilahian Kristus. Jika Maria bukan Bunda Allah, maka Yesus bukan sungguh Allah yang menjelma (DS 251).
Dengan demikian, menolak penghormatan kepada Maria atas nama “kemurnian iman” justru berisiko mereduksi misteri Inkarnasi itu sendiri. Gereja Katolik melihat bahwa meremehkan Maria sering kali beriringan dengan pandangan yang tidak sepenuhnya konsisten tentang siapa Yesus itu sebenarnya: sungguh Allah dan sungguh manusia.
Konsistensi Iman: Menghormati Karya Allah dalam Tubuh Manusia
Logika iman Katolik berpijak pada satu prinsip sederhana: Allah memilih bekerja melalui yang manusiawi. Ia memilih tanah, tubuh, waktu, sejarah, dan relasi. Sakramen-sakramen Gereja berdiri di atas prinsip ini. Air baptisan dihormati, roti dan anggur dimuliakan, minyak pengurapan diberkati.
Dalam kerangka ini, Maria tidak berdiri sebagai pengecualian, melainkan sebagai puncak. Ia adalah manusia biasa yang dipilih Allah secara bebas dan penuh rahmat (KGK, art. 490–493). Gereja tidak memuji Maria karena dirinya sendiri, melainkan karena apa yang Allah kerjakan di dalam dirinya.
Maka pertanyaan “mengapa Maria dihormati?” sejatinya berbalik menjadi pertanyaan lain: jika Allah tidak ragu memakai rahim seorang perempuan untuk memasuki dunia, mengapa manusia ragu menghormati pilihan Allah itu? Jika tempat kelahiran Yesus dirawat dan dijaga, mengapa pribadi yang mengandung-Nya justru dipersoalkan?
Penghormatan kepada Maria adalah ujian konsistensi iman Inkarnasional. Ia tidak pernah mengalihkan pandangan dari Kristus, melainkan selalu berkata seperti di Kana:
“Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu” (Yoh. 2:5). Gereja melihat di dalam Maria cermin Gereja sendiri: menerima Sabda, mengandungnya, dan menghadirkannya bagi dunia (Lumen Gentium, art. 63).
Pada akhirnya, logika iman Katolik tidak bertanya apakah Maria “terlalu dihormati”, melainkan apakah misteri Inkarnasi sungguh dipercaya. Sebab jika Allah sungguh menjadi manusia, maka segala yang disentuh-Nya dalam sejarah keselamatan layak dihormati, bukan sebagai ilah, tetapi sebagai tanda kasih karunia yang bekerja nyata di dunia.
Daftar Pustaka
Alkitab. Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Katekimus Gereja Katolik. Jakarta: Obor, 1997.
Konsili Vatikan II. Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja).
Konsili Efesus (431). Definitio contra Nestorium.
Kongregasi Ajaran Iman. Dokumen-dokumen tentang Maria dalam Misteri Kristus dan Gereja.