 |
| Paus Leo XIV memaklumkan Tahun Yubileum Fransiskan. Istimewa. |
Oleh Sr. Felicia Tesalonika
Ketika Paus Leo XIV memaklumkan Tahun Yubileum Fransiskan, Gereja sejatinya sedang diajak pulang. Pulang ke jantung Injil.
Pulang ke iman yang sederhana, jujur, dan bersahaja. Di tengah dunia yang terluka oleh konflik, keserakahan, dan kerusakan lingkungan,
Yubileum ini hadir bukan sebagai pesta besar, melainkan sebagai ajakan sunyi: berhenti sejenak, lalu bertanya dengan jujur: sudahkah kita sungguh hidup seperti yang diajarkan Yesus?
Dalam tradisi Kitab Suci, Yubileum selalu berkaitan dengan pembebasan dan pemulihan. “Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh dan memaklumkan pembebasan di negeri itu bagi semua penduduknya” (Imamat 25:10).
Tahun Yubileum Fransiskan bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Gereja, melainkan panggilan untuk pembaruan hati.
Tahun istimewa ini mengajak umat Katolik, termasuk di Indonesia, menanggalkan beban yang menjauhkan Gereja dari wajah Kristus yang miskin, lemah lembut, dan penuh belas kasih.
Belajar dari St. Fransiskus dan Sabda Yesus
Spiritualitas Fransiskan berakar kuat pada Injil.
St. Fransiskus menjadikan kata-kata Yesus sebagai pedoman hidupnya: “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu” (
Matius 10:9). Kesederhanaan bukan sekadar pilihan asketis, tetapi bentuk ketaatan radikal kepada Kristus yang miskin dan rendah hati.
Yesus sendiri menegaskan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (
Matius 5:3). Inilah
kemiskinan roh yang ditekankan Pope Leo XIV: sikap batin yang tidak menggantungkan diri pada kekuatan duniawi, melainkan pada Allah semata.
Dalam konteks
Gereja Indonesia, semangat ini menantang kecenderungan untuk mengukur keberhasilan pastoral dari besarnya bangunan, ramainya acara, atau kuatnya posisi sosial.
Tahun Yubileum Fransiskan mengajak Gereja kembali pada kesaksian hidup: Injil yang terlihat dalam kesederhanaan para gembala dan umat, dalam pelayanan yang tulus, serta dalam keberpihakan kepada yang kecil dan lemah.
Pertobatan yang Nyata: Perdamaian, Kepedulian Ciptaan, dan Kaum Miskin
Tahun Yubileum Fransiskan menekankan bahwa pertobatan sejati selalu berdampak sosial. Pertobatan bukan hanya urusan pribadi, melainkan menyentuh cara Gereja hadir di tengah dunia.
Rasul Paulus mengingatkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu” (
Roma 12:2).
Di Indonesia, pesan ini sangat relevan di tengah potensi konflik sosial, polarisasi politik, dan luka-luka sejarah antar kelompok. Gereja dipanggil menjadi jembatan, bukan tembok; ruang dialog, bukan arena pertentangan.
Kepedulian terhadap ciptaan
Kepedulian terhadap ciptaan juga menjadi panggilan iman.
Kitab Kejadian mengingatkan bahwa manusia ditempatkan di taman untuk mengusahakan dan memeliharanya (
Kejadian 2:15).
Demikian pula cinta kepada kaum miskin. Yesus berkata, “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (
Matius 25:40).
Gereja di Indonesia dipanggil tidak hanya memberi bantuan karitatif, tetapi juga memperjuangkan martabat dan keadilan bagi mereka yang terpinggirkan.