Misiologi Katolik: Dialog Budaya hingga Peta Jalan Gereja

Salah satu buku terkait topik Misiologi terbaik abad ini
Salah satu buku terkait topik Misiologi terbaik abad ini. Dokpen.

Oleh Rangkaya Bada

Misi sering kali dipahami secara sederhana sebagai kegiatan “mengutus” atau “menginjili”. Namun, dalam tradisi Gereja Katolik, misi adalah realitas yang jauh lebih dalam, kompleks, dan sarat makna teologis.

Misi bukan sekadar aktivitas Gereja ke luar, melainkan cermin dari cara Allah sendiri bekerja di dalam sejarah manusia. 

Dari akar katanya, dari sikapnya terhadap kebudayaan, hingga refleksi akademik mutakhir, misiologi Katolik memperlihatkan wajah iman yang dialogis, rendah hati, sekaligus teguh.

Akar Kata dan Kedalaman Makna Misiologi

Secara etimologis, kata “misi” berasal dari bahasa Latin missio, yang diturunkan dari kata kerja mittere, berarti mengutus atau mengirim. 

Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, gagasan ini sepadan dengan kata apostellō, yang melahirkan istilah apostolos atau rasul, yakni mereka yang diutus dengan mandat tertentu. Dari sini tampak bahwa misi sejak awal berkaitan erat dengan pengutusan dan tanggung jawab.

Namun, Gereja Katolik tidak memahami misi hanya sebagai tindakan manusia. Secara teologis, misi berakar pada inisiatif Allah sendiri. Allah Bapa mengutus Putra ke dunia, Putra mengutus Roh Kudus, dan oleh kuasa Roh Kudus, Gereja diutus ke tengah sejarah manusia. Pemahaman inilah yang dikenal sebagai Missio Dei. Dengan kata lain, misi bukan proyek Gereja semata, melainkan partisipasi Gereja dalam karya Allah yang sedang dan terus berlangsung.

Di sinilah misiologi mengambil tempat sebagai disiplin teologi. Ia bukan ilmu strategi penyebaran agama, melainkan refleksi kritis atas cara Allah hadir, bekerja, dan menyelamatkan dalam konteks konkret kehidupan manusia. 

Misiologi memadukan Kitab Suci, Tradisi Gereja, sejarah, teologi sistematik, serta realitas sosial-budaya. Karena itu, ia selalu bersifat kontekstual, terbuka terhadap perubahan zaman, namun berakar pada iman yang sama.

Injil dan Budaya: Menghormati, Bukan Meniadakan

Salah satu ciri paling khas dari misi Katolik adalah sikap hormat terhadap kebudayaan setempat. Gereja tidak melihat budaya sebagai ruang kosong yang harus digantikan, melainkan sebagai medan hidup tempat Allah sudah lebih dahulu bekerja. Prinsip ini sejalan dengan sabda Yesus sendiri: Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya.

Dalam terang Injil, nilai-nilai luhur dalam adat, tradisi, dan kearifan lokal tidak serta-merta dianggap bertentangan dengan iman Kristen. Gereja meyakini adanya *semina Verbi*, benih-benih Sabda, yang telah ditanam Allah dalam setiap kebudayaan. Misi kemudian dipahami sebagai proses menemukan, memurnikan, dan menyempurnakan benih-benih tersebut, bukan memusnahkannya.

Dari sinilah lahir konsep inkulturasi, sebuah pendekatan misi yang dialogis. Iman Kristen diungkapkan melalui simbol, bahasa, dan struktur makna yang akrab bagi budaya setempat, tanpa kehilangan inti Injilnya. Inkulturasi bukan kompromi murahan, melainkan kerja teologis yang menuntut kepekaan, kesabaran, dan kerendahan hati. Gereja bukan hanya mengajar, tetapi juga belajar.

Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia, pendekatan ini menjadi sangat relevan. Misi tidak lagi dimaknai sebagai perlombaan jumlah pengikut, melainkan sebagai kesaksian hidup, dialog antariman, dan keterlibatan nyata dalam persoalan kemanusiaan. Gereja hadir bukan untuk meniadakan yang lain, melainkan untuk berjalan bersama, membela martabat manusia, dan merawat kehidupan bersama.

Bevans dan Schroeder: Misiologi yang Komplet dan Terpercaya

Refleksi mendalam tentang misi Gereja di era modern mendapatkan salah satu rumusannya yang paling matang dalam karya Stephen B. Bevans dan Roger P. Schroeder. Buku mereka, Constants in Context: A Theology of Mission for Today, diterbitkan oleh Orbis Books, Maryknoll, New York, Amerika Serikat, pada tahun 2004, telah menjadi rujukan penting dalam dunia teologi misi. 

Dengan ketebalan 488 halaman, buku ini digunakan secara luas sebagai buku pegangan utama dalam perkuliahan Misiologi di berbagai perguruan tinggi teologi.

Kekuatan utama karya ini terletak pada keseimbangan antara keteguhan iman dan kepekaan terhadap konteks. Bevans dan Schroeder menolak dua ekstrem yang kerap muncul dalam praksis misi: di satu sisi, misi yang ahistoris dan kaku; di sisi lain, misi yang larut tanpa batas dalam relativisme budaya. Mereka menawarkan pendekatan yang matang dengan menegaskan adanya “konstanta” dalam misi Kristus, Gereja, dan Roh Kudus yang selalu sama, namun selalu dihayati dalam konteks yang berubah.

Diterbitkan oleh Orbis Books, penerbit yang dikenal luas dalam bidang teologi misi dan keadilan global, buku ini berdiri di atas tradisi refleksi yang serius dan bertanggung jawab. Argumentasinya ditopang oleh Kitab Suci, ajaran Konsili, dokumen magisterium, serta refleksi teologis lintas benua. Tak mengherankan jika karya ini dinilai tepercaya dan tetap relevan, bahkan dua dekade setelah penerbitannya.

Tujuh Tahapan Misi: Membaca Kisah Para Rasul sebagai Peta

Salah satu kontribusi paling bernas dari Bevans dan Schroeder adalah pemetaan misi Gereja dalam tujuh tahapan besar. Kerangka ini membantu pembaca memahami misi bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai proses historis yang dinamis dan bertahap.

Tahapan pertama dimulai sebelum Pentakosta, ketika Yesus sendiri menjadi pusat dan subjek misi. Pewartaan Kerajaan Allah, pembelaan terhadap kaum kecil, serta penyembuhan orang sakit menjadi inti misi-Nya. Gereja belum terbentuk, tetapi misi sudah berlangsung. Pentakosta kemudian menjadi titik balik, ketika Roh Kudus mengubah komunitas murid yang tertutup dan takut menjadi Gereja yang berani bersaksi.

Tahapan-tahapan berikutnya, yang ditelusuri melalui Kisah Para Rasul, khususnya pasal 12–28, menggambarkan perluasan misi dari Yerusalem menuju Yudea, Samaria, hingga bangsa-bangsa lain. Perjalanan Paulus menjadi simbol perubahan paradigma misi: dari eksklusivitas etnis menuju universalitas Injil. Proses ini tidak bebas konflik. Pergumulan tentang hukum Taurat, identitas, dan penerimaan terhadap bangsa-bangsa lain justru menjadi bagian dari dinamika misi itu sendiri.

Melalui tujuh tahapan ini, misi tampak sebagai perjalanan iman yang dipimpin Roh Kudus di tengah sejarah manusia. Misi bukan jalur lurus tanpa hambatan, melainkan ziarah panjang yang menuntut keberanian untuk setia dan kesediaan untuk berubah.

Misiologi Katolik mengingatkan Gereja bahwa tugas perutusannya tidak pernah selesai. Dalam dunia yang ditandai pluralitas, migrasi, dan krisis kemanusiaan, misi tidak lagi dapat dipahami sebagai proyek satu arah. Ia adalah dialog kehidupan, kesaksian iman, dan keterlibatan nyata dalam luka serta harapan manusia. 

Seperti ditegaskan Bevans dan Schroeder, Gereja dipanggil untuk terus ambil bagian dalam karya Allah yang telah dimulai jauh sebelum Gereja menyadarinya, dan yang akan terus berlangsung melampaui batas-batas yang dapat dibayangkan manusia.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org