Corpus, Satu-satunya Penanda Salib Yesus, Sang Penyelamat: One Savior, One Cross

Corpus, Satu-satunya Penanda Salib Yesus, Sang Penyelamat
Tradisi, sejarah, dan magisterium dari Bapa-bapa Gereja mewariskan makna simbol  termasuk corpus Yesus pada salib Katolik. One savior, one cross.  Ist.

OLeh Br. Cosmas Damianus Prasojo

Tradisi, sejarah, dan magisterium Gereja Katolik berjalan pelan. Seperti doa yang diulang-ulang dalam kesunyian. Dari sana, Bapa-bapa Gereja mewariskan bahasa simbol, bukan sebagai hiasan, melainkan sebagai pintu masuk ke misteri. Salib tidak sekadar kayu, dan corpus Yesus bukan tubuh yang dipakukan semata-mata. Di sanalah iman belajar berlutut. Satu Juruselamat, satu salib. Bukan karena dunia kekurangan pilihan, melainkan karena cinta, dalam keyakinan Gereja, hanya membutuhkan satu penyerahan yang sungguh-sungguh.

Bukit itu tidak istimewa. Tanahnya kering, berbatu, dan tak menjanjikan apa pun selain kematian. Namun pada hari itu, tiga salib ditegakkan. Sejak saat itu sejarah manusia terbelah. 

Bukan karena kayunya, bukan karena paku besinya, melainkan karena siapa yang tergantung di tengah.

Tiga Salib di Bukit, Dunia yang Terbelah

Dua salib lain memuat tubuh manusia biasa. Tubuh yang bersalah, tubuh yang dihukum, tubuh yang sedang menuai akibat dari hidupnya sendiri. Tetapi salib di tengah memuat sesuatu yang lain. Tubuh itu juga berdarah, juga terluka, juga sekarat, namun ia memikul beban yang tidak berasal dari dirinya sendiri.

Di situlah letak paradoks iman Kristen: yang paling tak bersalah justru menanggung yang paling berat. Dunia terbiasa menghitung dosa dan hukuman secara proporsional. Namun salib di tengah meruntuhkan logika itu. Ia tidak menimbang siapa paling layak dihukum, melainkan siapa paling sanggup mengasihi sampai akhir.

Tiga salib berdiri sejajar. Tetapi maknanya tidak pernah setara.

Dua Penyamun, Dua Jalan Batin Manusia

Kedua penyamun itu mengalami penderitaan yang sama. Paku yang sama menembus daging mereka. Nafas yang sama beratnya harus mereka hirup. Matahari yang sama membakar luka mereka. Namun yang membedakan bukan penderitaan, melainkan sikap batin.

Yang satu menatap Yesus dengan kemarahan. Dalam kepedihan, ia tetap menggenggam egonya. Ia menuntut keselamatan tanpa pertobatan, pembebasan tanpa pengakuan, mukjizat tanpa penyerahan diri. Salib baginya hanyalah ketidakadilan terakhir.

Yang lain menatap Yesus dengan kesadaran sunyi. Ia tidak membela diri. Ia tidak menawar hukuman. Ia hanya mengakui kebenaran tentang dirinya sendiri, dan melihat pada Yesus sesuatu yang melampaui kayu dan paku: sebuah kerajaan yang tidak dibangun dengan kekuasaan.

Di antara teriakan dan darah, ia berkata lirih, “Ingatlah aku.”

Di situlah Gereja melihat wajah manusia sepanjang zaman. Selalu ada dua kemungkinan sikap di hadapan penderitaan: menutup diri dalam penolakan, atau membuka diri dalam penyerahan. Salib tidak memaksa orang untuk percaya. Salib hanya menyingkapkan siapa kita sebenarnya.

Satu Corpus, Satu Makna Keselamatan

Karena itu, meskipun ada tiga salib, Gereja hanya memusatkan pandangan pada satu Corpus. Bukan karena dua salib lain tidak nyata, melainkan karena keselamatan tidak lahir dari penderitaan itu sendiri, tetapi dari Pribadi yang menyerahkan diri di tengah penderitaan.

Gereja tidak pernah menempatkan corpus pada salib penyamun. Sebab penderitaan manusia, betapapun tragisnya, tidak menyelamatkan dunia. Hanya kasih yang total, yang diberikan tanpa syarat, yang mampu menebus.

Corpus Yesus di salib adalah pengakuan iman bahwa:

  1. Sejarah tidak diselamatkan oleh martirisme kosong,
  2. Dunia tidak ditebus oleh kekerasan yang dibalas kekerasan,
  3. Manusia tidak ditegakkan oleh penderitaan yang dipuja.

Salib dengan Corpus Yesus adalah pengakuan bahwa Allah sendiri masuk ke dalam penderitaan, bukan untuk memuliakan sakit, melainkan untuk mengubahnya menjadi jalan kasih.

Karena itu salib Katolik tidak pernah kosong. Ia tidak ingin melupakan jalan, sekaligus harga dari keselamatan. 

Kebangkitan tidak pernah dipahami sebagai penghapusan luka, melainkan sebagai pemuliaan luka yang telah dikasihi sampai tuntas.

Berdiri di Hadapan Salib yang Satu

Setiap kali orang Katolik memandang crucifix, ia sebenarnya sedang diajak berdiri kembali di Golgota. Bukan sebagai penonton sejarah, melainkan sebagai subjek yang harus memilih posisi batin: di kiri, di kanan, atau di tengah?

Ia tidak mungkin berada di tengah, sebab salib itu sudah ditempati. Tetapi ia selalu berdiri di antara dua sikap: menolak atau menyerahkan diri. Crucifix tidak mengancam, tidak memaksa, tidak berteriak. Ia hanya diam, dengan tubuh tergantung, dan dari diam itu lahir pertanyaan yang tak bisa dihindari:

Apakah penderitaanku akan menjadi tembok, atau pintu?

Apakah lukaku akan menjadi kutukan, atau doa?

Di hadapan salib yang satu itu, Gereja terus mengulang pengakuannya:

salib ada banyak, penderitaan ada di mana-mana, tetapi hanya satu salib yang mengubah dunia, karena hanya satu tubuh yang menyerahkan diri sepenuhnya.

Dan dari tubuh itulah, keselamatan mengalir, pelan, tanpa kekerasan, tetapi tak terbendung.

Liturgi Gereja: Ketentuan Crucifix dari Roman Missal dan GIRM

Keharusan Crucifix dalam Liturgi Misa

Dalam liturgi Gereja Romawi, norma liturgis (General Instruction of the Roman Missal — GIRM) secara jelas mewajibkan adanya crucifix dengan corpus dekat atau di altar setiap kali Misa dirayakan sehingga umat melihatnya dengan jelas.

GIRM No. 308 menyatakan:

“...hendaknya ada salib dengan sosok Kristus yang tersalib di atas atau di dekat altar, agar mudah dilihat oleh semua umat. Salib seperti itu akan mengingatkan umat beriman akan sengsara Tuhan yang menyelamatkan.”

Artinya, keberadaan tubuh Yesus yang tergantung di salib bukan sekedar tradisi artistik, melainkan bagian dari tata liturgi yang diatur secara resmi untuk mengingatkan umat akan misteri keselamatan yang diwujudkan di altar setiap Misa.

Penerapan Praktis dalam Gereja

Karena itu di gereja-gereja Katolik (khususnya Gereja Latin), crucifix terletak di tempat tertinggi atau paling menonjol di depan altar, dan bahkan dalam umat beriman, crucifix sering hadir di rumah, sekolah, dan ruang doa.

Bahkan tata cara liturgi mencantumkan panduan letak crucifix agar tidak menghalangi pandangan umat, tetapi tetap menjadi tanda kehadiran misteri keselamatan yang sedang diperingati dalam Misa.

Dua Penyamun dan Keunikan Satu Salib

Injil dengan jelas menyatakan bahwa Yesus tidak disalibkan sendirian. Ia wafat di tengah-tengah dua orang penyamun: satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri-Nya (bdk. Luk. 23:32–43). Keduanya mengalami penderitaan fisik yang sama, tergantung pada salib yang sama kejamnya. Namun, respon batin mereka terhadap Kristus sangat berbeda.

Yang satu menghujat, menolak, dan mati dalam penolakan. Yang lain mengakui kesalahannya, memandang Yesus bukan sekadar sesama terhukum, melainkan Raja yang datang dengan Kerajaan-Nya, dan berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kepadanya Yesus menjawab: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di Firdaus.” (Luk. 23:42–43).

Gereja membaca peristiwa ini bukan sekadar sebagai catatan historis, tetapi sebagai ikon keselamatan

Dua penyamun itu melambangkan dua kemungkinan sikap manusia di hadapan salib Kristus: penolakan atau pertobatan. Namun pusat peristiwa itu bukan dua penyamun, melainkan tubuh Yesus sendiri, sebagai daging dan manusia.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org