Satu Corpus Yesus di Salib, Satu Makna Keselamatan: Teologi Salib dalam Iman Katolik
| Teologi Salib dalam Iman Katolik: Satu corpus Yesus di salib, satu makna keselamatan.Ist. |
Salib kosong mudah tergelincir jatuh menjadi lambang kemenangan tanpa ingatan dan proses. Kosong biasanya tanpa makna. Tetapi salib dengan Corpus Yesus memaksa kita berhenti, mengingat, dan bertanya: Siapakah gerangan yang mengasihi sampai sejauh ini? kecuali Dia, Sang Sabda yang menjadi manusia, dan tinggal di antara kita?
Di Golgota berdiri tiga salib. Injil tidak menyangkalnya. Sejarah pun tidak. Namun sejak awal, Gereja tidak pernah memperlakukan ketiganya secara setara. Dalam iman Katolik, hanya satu salib yang menjadi pusat pandangan: salib dengan Corpus Yesus Kristus.
Pilihan ini bukan soal estetika, apalagi kebiasaan belaka. Ia adalah pengakuan iman.
Gereja hendak mengatakan dengan suara pelan tapi tegas: keselamatan tidak tumbuh dari rasa sakit sebagai gejala tubuh, juga bukan dari tragedi yang dicatat sejarah. Ia lahir dari satu keputusan sunyi, ketika Yang Ilahi memilih untuk tidak menghindar, dan justru tinggal di dalam penderitaan. Di sana, penderitaan tidak dimuliakan, melainkan dilampaui oleh penyerahan diri yang bebas dan penuh kasih.
Hal itu sebagaimana yang ditegaskan Scott Hahn, “The Cross is not simply an instrument of torture; it is the throne from which the King reigns” (Hahn, The Lamb’s Supper).
Salib Katolik, karena itu, tidak pernah kosong; ia menolak dua ekstrem sekaligus, memuja penderitaan dan meniadakan harga penebusan. Corpus Yesus di salib menegaskan bahwa Allah tidak menyelamatkan manusia dari jauh, melainkan masuk ke dalam sejarah luka untuk menebusnya dari dalam.
Tiga Salib, Satu Pusat: Distingsi yang Menyelamatkan
Injil Lukas mencatat dengan tenang namun tajam: “Ada dua orang lain, keduanya penjahat, dibawa bersama-sama dengan Yesus untuk dihukum mati” (Luk 23:32). Tiga salib berdiri sejajar. Namun sejak saat itu pula, iman Gereja membaca perbedaan yang radikal.
Dua penyamun benar-benar menderita. Darah mereka nyata. Teriakan mereka historis. Tetapi penderitaan itu, betapapun tragis, tidak menyelamatkan dunia. Gereja tidak pernah menempatkan corpus pada salib penyamun, sebab penderitaan manusia tanpa kasih yang menyerahkan diri; tidak memiliki daya penebusan universal.
Salib tidak pernah netral. Ia selalu menuntut sikap. Di Golgota berdiri tiga salib, tetapi sejarah iman hanya mengingat satu tubuh. Bukan karena dua yang lain tidak menderita, melainkan karena penderitaan, betapapun perih, tidak otomatis menyelamatkan. Yang menyelamatkan adalah kasih yang memilih untuk tinggal, ketika semua jalan lain meminta lari.
Scott Hahn menegaskan perbedaan ini melalui teologi kurban Perjanjian Lama. Dalam A Father Who Keeps His Promises, ia menunjukkan bahwa kurban yang berkenan kepada Allah bukan sekadar kematian korban, melainkan ketaatan dan penyerahan diri yang menyertainya. Yesus bukan sekadar korban pasif; Ia adalah Imam dan Kurban sekaligus.
Inilah sebabnya satu penyamun diselamatkan. Bukan oleh kayu salib yang ia pikul, bukan pula oleh darah yang ia tumpahkan, melainkan oleh wajah yang ia pandang di tengah. Di sanalah relasi lahir, dan dari relasi itulah Firdaus dibukakan.
Keselamatan tidak mengalir dari penderitaan horizontal, tetapi dari perjumpaan vertikal dengan Kristus.
Corpus dan Kasih Total: Salib sebagai Tindakan, bukan Peristiwa
Gereja menolak pemahaman salib sebagai martirisme kosong. Salib Kristus bukan glorifikasi rasa sakit.
Salib Kristusadalah tindakan kasih yang total, Yang diberikan Sang Penebus Dosa tanpa syarat yang dan dituntaskan sampai akhir.
Ensiklik Deus Caritas Est menegaskan:
“Kasih Allah mencapai kepenuhannya dalam salib, di mana Ia memberikan diri-Nya sepenuhnya” (Benedictus XVI, no. 12).
Corpus Yesus di salib adalah kesaksian bahwa kasih sejati tidak berhenti ketika tubuh hancur dan martabat diinjak. Justru di titik itulah kasih dinyatakan paling radikal.
Scott Hahn menyebut salib sebagai “the wedding altar of the New Covenant” (Hahn, Hail, Holy Queen). Di sana, Kristus mempelai menyerahkan tubuh-Nya bagi mempelai-Nya, Gereja.
Karena itu:
- Sejarah tidak diselamatkan oleh heroisme tragis,
- Dunia tidak ditebus oleh kekerasan yang dibalas kekerasan,
- Manusia tidak ditegakkan oleh penderitaan yang dipuja.
Hanya kasih yang bebas, sadar, dan total yang menebus. Dan kasih itu memiliki wajah: Corpus Yesus.
Salib sebagai Pelunasan, Bukan Pembalasan
Dalam dunia Yunani–Romawi, tetélestai sering ditulis di kuitansi utang. Artinya: lunas, tidak ada yang tersisa. Injil Yohanes menggunakan kata ini bukan untuk membangun metafora ekonomi yang dangkal, melainkan untuk menyatakan bahwa relasi manusia dengan Allah telah dipulihkan secara tuntas.
Salib bukan tempat Allah melampiaskan murka.
Salib adalah tempat Allah menanggung akibat dosa, agar manusia tidak lagi hidup dalam hutang yang tak terbayar.
Karena itu, tetélestai bukan teriakan pembalasan, melainkan pembebasan.
Salib yang Tidak Kosong: Memori, Sakramen, dan Ekaristi
Dalam tradisi Katolik, crucifix bukan sekadar simbol pengingat. Ia adalah memoria salutis yakni ingatan akan karya keselamatan yang sungguh terjadi dan tetap efektif. Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa kurban Kristus “terjadi satu kali untuk selama-lamanya” (KGK 1367), namun dihadirkan kembali dalam Ekaristi.
Scott Hahn, dalam The Lamb’s Supper, menunjukkan bahwa liturgi Gereja adalah partisipasi nyata dalam misteri Golgota. Salib dengan Corpus Yesus mengarahkan umat pada altar, tempat Tubuh yang sama yang tersalib dan bangkit diberikan sebagai santapan hidup.
Salib kosong berisiko menjadi simbol kemenangan tanpa jalan. Sebaliknya, crucifix Katolik menolak amnesia rohani. Ia mengingatkan bahwa kebangkitan tidak memotong Jumat Agung, melainkan melintasinya.
Dokumen Sacrosanctum Concilium menegaskan bahwa liturgi adalah “pelaksanaan karya keselamatan” (no. 2). Maka Corpus di salib bukan nostalgia penderitaan, melainkan jaminan bahwa keselamatan sungguh dibayar, sungguh terjadi, dan sungguh diberikan.
Luka yang Dimuliakan: Kebangkitan dan Teologi Tubuh
Kebangkitan Kristus tidak menghapus luka-luka salib. Injil Yohanes mencatat bahwa Yesus bangkit dengan bekas paku dan tombak (Yoh 20:27). Ini bukan detail kecil. Ini adalah teologi.
Gereja percaya bahwa luka yang dikasihi sampai tuntas tidak dihapus, melainkan dimuliakan. Ensiklik Spe Salvi menegaskan bahwa penderitaan manusia memperoleh makna baru ketika dipersatukan dengan Kristus (Benedictus XVI, no. 37).
Scott Hahn membaca luka-luka kebangkitan sebagai bukti kesinambungan: Pribadi yang bangkit adalah Pribadi yang sama yang tersalib. Karena itu, Corpus di salib tidak berlawanan dengan iman akan kebangkitan. Ia justru menjaganya dari spiritualisasi palsu.
Salib Katolik berkata: Allah tidak menyelamatkan kita dengan melompati tubuh, tetapi dengan menebusnya. Inilah dasar sakramental iman Katolik, bahwa rahmat bekerja melalui materi, sejarah, dan tubuh yang nyata.
Berdiri di Hadapan Salib yang Satu: Pilihan Eksistensial
Setiap kali orang Katolik memandang crucifix, ia sebenarnya diajak kembali ke Golgota. Bukan sebagai penonton sejarah, melainkan sebagai subjek yang harus memilih posisi batin.
- Di kiri: penolakan yang sinis.
- Di kanan: pertobatan yang berserah.
- Di tengah: kasih yang menyerahkan dan memberikan diri sepenuhnya.
Tidak mungkin netral di hadapan salib yang satu. Seperti ditegaskan Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes, misteri manusia hanya sungguh dimengerti dalam terang misteri Kristus (no. 22).
Crucifix menuntut keputusan: apakah kita mau diselamatkan oleh kasih, atau tetap bersandar pada logika kekerasan dan pembenaran diri.
Salib dengan Corpus Yesus adalah undangan untuk percaya bahwa Allah telah lebih dahulu memilih kita. Bahkan ketika pilihan itu harus dibayar dengan tubuh-Nya sendiri.
Satu Corpus, Satu Makna Keselamatan
Karena itu, meskipun ada tiga salib, Gereja hanya memusatkan pandangan pada satu Corpus. Bukan karena dua salib lain tidak nyata, melainkan karena keselamatan tidak lahir dari penderitaan itu sendiri, tetapi dari Pribadi yang mengasihi sampai akhir.
Salib Katolik tidak pernah kosong, sebab kasih tidak pernah abstrak. Ia selalu bertubuh. Ia selalu berkorban. Ia selalu memiliki wajah.
Dan wajah itu adalah Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit dengan jaya serta mulia. Lalu Ia terangkat naik ke surga disaksikan oleh murid dan orang lain di situ (Kisah Para Rasul 1:9–11)
Dafar Pustaka
Kitab Suci Katolik, lengkap dengan Deuterokanonika 2009. Ende: Percetakan Arnoldus.
Alkitab Terjemahan Baru, LAI.
Hahn, Scott. The Lamb’s Supper. New York: Doubleday, 1999.
Hahn, Scott. A Father Who Keeps His Promises. Cincinnati: St. Anthony Messenger Press, 1998.
Hahn, Scott. Hail, Holy Queen. New York: Doubleday, 2001.
Dokumen Gereja Katolik
Katekismus Gereja Katolik.
Konsili Vatikan II. Sacrosanctum Concilium.
Konsili Vatikan II. Gaudium et Spes.
Paus Benediktus XVI. Deus Caritas Est.
Paus Benediktus XVI. Spe Salvi.