Menjadi Seperti Orang Galilea
Nabi Yesaya 65:17-21 di masa lampau pernah melukiskan sebuah janji yang sangat memukau dari Allah: penciptaan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana suara tangis dan jeritan kepahitan tidak akan terdengar lagi, dan kehidupan dipulihkan dalam sorak-sorai abadi.
Kedengarannya seperti akhir dari sebuah kisah dongeng pengantar tidur yang indah, bukan? Namun, janji ini bukanlah sekadar ilusi manis di penghujung zaman.
Kehabisan "tempat duduk" di hati umat-Nya sendiri
Realitas itu sesungguhnya mulai bernapas dan berdenyut tatkala Sang Sabda itu sendiri turun menjumpai manusia.
Akan tetapi, di sinilah letak ironinya yang mungkin sering membuat kita tersenyum getir: Sang Pembawa langit dan bumi baru ini justru kerap kali kehabisan "tempat duduk" di hati umat-Nya sendiri.
Injil Yohanes hari ini 4:43-54 menyajikan kontras yang begitu tajam tentang penerimaan dan penolakan, seolah menepuk pundak kita pelan sambil bertanya dengan nada usil namun serius: di manakah sebenarnya posisi hati kita saat Kristus mampir di tengah kesibukan kita?
Mari kita bernostalgia sejenak ke masa lalu, berjalan-jalan ke wilayah utara Palestina yang bernama Galilea.
Secara geografis, ini adalah kawasan perbukitan yang amat subur, dikelilingi oleh bangsa-bangsa non-Yahudi, dan dilewati oleh jalur perdagangan internasional yang sibuk layaknya jalan tol antarkota di zaman sekarang.
Berada di persimpangan dunia membuat Galilea menjadi tempat meleburnya berbagai budaya. Namun, bagi para elite agama di Yudea dan Yerusalem yang merasa diri paling suci dan berbudaya, Galilea ini ibarat daerah pinggiran yang "kampungan".
Penduduknya dianggap kurang murni secara spiritual, kaum kelas dua yang jauh dari gemerlap religius Bait Allah. Tapi sungguh mengejutkan, justru di tanah pinggiran inilah Yesus disuguhi karpet merah penyambutan yang paling hangat.
Orang-orang Galilea menerima-Nya dengan mata berbinar-binar karena mereka telah melihat karya-Nya di Yerusalem. Keterbukaan mereka lahir dari keluguan hati yang tidak tersandera oleh keangkuhan status.
Lalu, mengapa Yesus justru melontarkan sebuah sindiran halus namun sangat menohok: "Seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri"?
Mengapa Yesus bisa begitu leluasa membuat mukjizat di Galilea, sementara di tempat asal-Nya sendiri Ia seolah kehabisan daya? Jawabannya ada pada sebuah penyakit kronis yang bernama "kebutaan karena keakraban".
Orang-orang di kampung-Nya merasa sudah terlalu mengenal Dia. Ah, Dia kan cuma anak tukang kayu tetangga sebelah.
Jujur pada diri sendiri
Mari kita jujur pada diri sendiri, bukankah penyakit yang sama juga sering menjangkiti kita di masa kini?
Saking akrabnya kita dengan Gereja, kita mungkin tahu persis merek kopi kesukaan Pastor Paroki, hafal seluk-beluk dinamika dan sedikit gosip umat dari barisan depan sampai ujung koridor, dan gelar "aktivis paroki" sudah menempel layaknya nama belakang kita.
Kita tahu di mana letak sapu cadangan, kapan mikrofon gereja mulai berdengung, dan siapa yang langganan datang terlambat saat Misa.
Kita begitu sibuk dan piawai menjadi "tuan rumah" di lingkungan gereja, sampai-sampai kehidupan iman kita yang paling pokok justru perlahan menjadi hambar, seperti sayur yang lupa diberi garam. Kita merasa sudah terlalu paham dan bisa menaruh Tuhan di dalam saku kemeja kita, sehingga kita kehilangan rasa takjub.
Hati kita mungkin terlalu bising mengurus rapat kepanitiaan dan proposal kegiatan, hingga kita lupa bagaimana rasanya sungguh-sungguh bergetar ketika menyambut Tubuh Kristus.
Belajar dari seorang pegawai istana di Kapernaum
Di sinilah kita perlu belajar dari seorang pegawai istana di Kapernaum, seorang Galilea yang datang menjumpai Yesus dengan iman yang telanjang dan tidak banyak gaya. Ia tidak sok tahu. Ia tidak menuntut Yesus datang dengan pawai meriah ke rumahnya.
Di tengah ketidakberdayaannya, ia hanya menggantungkan harapannya pada satu kalimat sederhana dari Yesus:
"Pergilah, anakmu hidup!" Iman yang lahir dari kepasrahan total dan hilangnya ego inilah yang akhirnya membuka pintu bagi terjadinya mukjizat, menggenapi janji Yesaya akan kehidupan yang berhasil mengalahkan maut.
Pesan penyambutan Yesus di Galilea ini menjadi undangan yang manis sekaligus tamparan yang melegakan bagi kita. Menjadi seperti orang Galilea berarti kita ditantang untuk berani menanggalkan jubah kebanggaan sebagai "umat paling rajin", apalagi jika rutinitas itu justru membuat kita kebal terhadap sentuhan rahmat-Nya.
Kita diajak kembali merengkuh kerapuhan diri. Kita menjadi umat yang rendah hati. Kita memikul salib tanggung jawab paroki. Namun hati tetap lapar akan Tuhan. Hati berdebar oleh kasih-Nya. Dan selalu terkejut oleh cinta Tuhan.
Jangan hanya sibuk menghafal jadwal kegiatan. Jangan tenggelam dalam rutinitas pelayanan. Kita perlu memberi ruang bagi Sabda. Sabda itu hidup dan bekerja. Ia menyentuh batin yang paling sunyi.
Di dalam batin itulah Tuhan berkarya. Ia mencipta langit yang baru. Ia membentuk bumi yang baru. Perubahan lahir dari dalam hati. Dari hati yang diam namun hidup.