Roman Collar: Tanda Pengenal Imam di Tengah Masyarakat
| Roman collar yang dikenakan pastor Katolik, Jack Dambe. |
Oleh Apen Panlelugen
Roman collar adalah kerah khas yang dikenakan imam dalam Gereja Katolik.
Bentuk Roman collar sangat sederhana. Hanya sepotong kecil berwarna putih di bagian depan leher yang dipasang pada kemeja hitam. Namun justru dari kesederhanaan itu lahir sebuah identitas yang kuat.
Di banyak tempat di dunia, orang dapat langsung mengenali seorang imam dari kerah kecil ini. Tanpa perlu diperkenalkan. Tanpa perlu tanda tambahan. Ketika seorang imam berjalan di rumah sakit, sekolah, kantor, atau ruang publik, Roman collar menjadi penanda kehadiran seorang pelayan rohani.
Dalam praktiknya terdapat beberapa bentuk Roman collar. Yang paling sering dijumpai sekarang adalah tab collar. Pada model ini, kemeja hitam memiliki celah kecil di bagian leher. Di dalam celah itu diselipkan potongan plastik putih. Model ini praktis dan mudah dipakai, sehingga banyak digunakan dalam pelayanan sehari-hari.
Selain itu ada full Roman collar, yaitu kerah putih yang melingkar penuh di leher. Model ini lebih klasik dan sering dipakai dalam acara resmi atau kesempatan tertentu. Ada pula kemeja rohaniwan yang memang dirancang secara khusus dengan kerah Romawi di bagian depan. Semua bentuk tersebut memiliki fungsi yang sama, yakni menandai identitas seorang imam di tengah masyarakat.
Asal-Usul Roman Collar dalam Sejarah Gereja
Roman collar tidak berasal dari masa Gereja perdana. Pada zaman para rasul, para pemimpin gereja tidak memiliki pakaian khusus yang membedakan mereka secara mencolok dari masyarakat umum. Mereka hidup dan berpakaian seperti orang lain pada zamannya.
Perkembangan pakaian rohaniwan muncul jauh kemudian, terutama di Eropa. Pada abad ke-17 dan ke-18, para imam umumnya mengenakan pakaian formal yang juga dipakai oleh kalangan terpelajar. Belum ada model kerah khusus seperti yang dikenal sekarang.
Perubahan mulai terjadi pada abad ke-19. Pada masa itu muncul kebutuhan praktis agar rohaniwan dapat dikenali dengan mudah di ruang publik. Kehidupan kota yang semakin ramai membuat identitas rohaniwan perlu terlihat secara jelas.
Sekitar tahun 1827, seorang pendeta Presbiterian dari Skotlandia, Donald McLeod, memperkenalkan model kerah putih yang dapat dilepas dari kemeja.
Desain ini sederhana, praktis, dan mudah digunakan. Karena kepraktisannya, model ini dengan cepat menyebar.
Dalam perkembangannya, kerah tersebut diadopsi oleh berbagai tradisi gereja. Termasuk oleh para imam dalam Gereja Katolik. Karena pusat kepemimpinan Gereja Katolik berada di Roma, kerah ini kemudian populer dengan nama Roman collar.
Makna Simbolik di Balik Kerah Putih
Seiring waktu, Roman collar tidak lagi sekadar bagian dari pakaian rohaniwan. Ia berkembang menjadi simbol pelayanan seorang imam. Masyarakat dapat mengenali kehadiran imam di tengah kehidupan sehari-hari melalui tanda kecil ini.
Kombinasi warna pada pakaian imam juga memiliki makna simbolik. Warna putih pada kerah sering dimaknai sebagai lambang kemurnian hati dan kesiapsediaan untuk melayani. Sementara warna hitam pada pakaian melambangkan kesederhanaan hidup serta sikap melepaskan diri dari kemewahan duniawi.
Makna ini penting karena menegaskan peran seorang imam di tengah masyarakat. Ketika seorang imam mengenakan Roman collar dan hadir di ruang publik, ia tidak tampil sebagai pejabat atau penguasa.
Sebaliknya, pakaian itu menegaskan identitasnya sebagai pelayan rohani. Seorang yang dipanggil untuk berjalan bersama umat, mendengarkan pergumulan mereka, dan menggembalakan kehidupan iman di tengah dunia. ✝️