Malaikat Mengawal Tabut Perjanjian dalam Perjanjian Lama dan Malaikat di Tabernakel

Malaikat di Tabernakel

Malaikat di Tabernakel gereja St. Agustinus, Sungai Raya, Pontianak: Jembatan antara Kitab Suci, Teologi, dan Semiotika. Dok. Don Jensi.

Oleh Dr. Cand. Masri Sareb Putra, M.A.

Dalam tradisi Perjanjian Lama, gambaran malaikat yang mengawal atau menaungi Tabut Perjanjian (Ark of the Covenant) bukanlah hasil imajinasi belaka, melainkan bersumber langsung dari perintah ilahi. 

Kitab yang paling eksplisit menyebutkannya adalah Kitab Keluaran, khususnya Keluaran 25:18–22. Di sana Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat dua kerub dari emas:

“Haruslah kau buat dua kerub dari emas; dari emas tempaan haruslah kau membuatnya pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung yang satu dan satu kerub pada ujung yang lain. Kerub-kerub itu haruslah mengembangkan sayapnya ke atas, menaungi tutup pendamaian dengan sayapnya…”

Kerub (Ibrani: kerubim) dipahami sebagai makhluk surgawi, bagian dari bala tentara Allah. Mereka ditempatkan di atas kapporet (tutup pendamaian), bagian paling suci dari Tabut. Di antara kedua kerub itulah Tuhan berfirman kepada Musa. Artinya, kerub bukan sekadar ornamen dekoratif, melainkan tanda kehadiran ilahi.

Motif ini juga ditegaskan dalam Kitab Ibrani 9:5 yang mengingat kembali tradisi Tabut dan menyebut “kerub-kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian.” Walau Kitab Ibrani termasuk Perjanjian Baru, ia menjadi saksi bagaimana Gereja perdana membaca simbol Perjanjian Lama secara tipologis.

Selain dalam Keluaran, gambaran makhluk surgawi yang menaungi hadirat Allah juga muncul dalam Kitab Yehezkiel pasal 1 dan 10. Nabi Yehezkiel melihat makhluk bersayap yang berhubungan erat dengan kemuliaan Tuhan (Shekinah). Walau tidak identik secara teknis dengan Tabut Musa, visi Yehezkiel memperkaya pemahaman bahwa malaikat atau kerub adalah pengawal kemuliaan ilahi.

Dengan demikian, secara alkitabiah, ada dasar kuat bahwa malaikat, khususnya kerub, berkaitan dengan tempat kediaman Allah. Tabut adalah pusat kehadiran Allah dalam Perjanjian Lama; kerub adalah penanda sekaligus pengawal simbolis kehadiran tersebut.

Tabut Perjanjian dan Tabernakel: Tipologi Teologis

Dalam teologi Katolik, Perjanjian Lama tidak dipandang terputus dari Perjanjian Baru, melainkan sebagai bayangan (typos) yang digenapi dalam Kristus. Tabut Perjanjian menyimpan loh batu hukum, manna, dan tongkat Harun. Semua itu dipahami sebagai lambang Kristus: Sabda yang menjadi daging, roti hidup, dan Imam Agung sejati.

Dalam tradisi Gereja, terutama dalam ajaran resmi Gereja Katolik, Tabernakel di dalam gereja adalah tempat menyimpan Sakramen Mahakudus, yaitu Ekaristi. Jika Tabut Perjanjian dahulu menyimpan tanda perjanjian Allah dengan Israel, maka Tabernakel menyimpan Kristus sendiri dalam rupa roti yang telah dikonsekrasi.

Di sinilah tipologi bekerja:

  1. Tabut menjadi gambaran Tabernakel.
  2. Manna menunjuk kepada Ekaristi.
  3. Kerub penjaga berpadanan dengan malaikat adorasi.

Maka ketika di gereja Katolik terdapat gambar atau patung malaikat di sekitar Tabernakel, itu bukan sekadar estetika, melainkan kesinambungan simbolik dengan Perjanjian Lama. Kerub menaungi Tabut; malaikat digambarkan mengawal atau menyembah Sakramen Mahakudus.

Teologinya jelas. Jika dalam Perjanjian Lama Allah hadir secara simbolik di atas Tabut, maka dalam Ekaristi Allah hadir secara nyata dan substansial menurut iman Katolik. Kehadiran malaikat dalam ikonografi Tabernakel menyatakan bahwa liturgi di bumi bersatu dengan liturgi surgawi. Ini selaras dengan gambaran dalam Kitab Wahyu, khususnya pasal 4 sampai 5, di mana para makhluk surgawi dan tua-tua menyembah Anak Domba.

Dengan demikian, secara teologis, malaikat pada Tabernakel bukan tambahan aksidental, melainkan ekspresi iman akan kehadiran Kristus dan partisipasi Gereja dalam ibadat surgawi.

Katolik sebagai Tradisi Simbolik: Signifier, Sign, dan Signification

Untuk memahami mengapa simbol malaikat begitu penting, kita dapat memakai pendekatan semiotika. Dalam teori klasik semiotika yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure, sebuah tanda terdiri dari signifier (penanda) dan signified (petanda). Sementara dalam pendekatan Charles Sanders Peirce, tanda mencakup representamen, objek, dan interpretant.

Dalam konteks Gereja Katolik:

  1. Signifier (penanda): patung atau gambar malaikat di Tabernakel.
  2. Signified (petanda): realitas rohani bahwa malaikat sungguh menyembah dan menjaga hadirat Allah.
  3. Signification (pemaknaan): kesadaran umat bahwa mereka tidak sendirian dalam ibadat; liturgi mereka adalah bagian dari liturgi surgawi.

Katolik adalah tradisi yang sangat sakramental. Artinya, realitas ilahi dihadirkan melalui tanda-tanda kelihatan. Air baptis, roti dan anggur, minyak krisma, dupa, lilin, warna liturgi, semuanya adalah sistem tanda yang terstruktur.

Dalam semiotika Peirce, tanda dapat berupa ikon, indeks, atau simbol. Patung malaikat di Tabernakel terutama bersifat simbol dan ikon sekaligus. Ia ikon karena menyerupai gambaran makhluk bersayap. Ia simbol karena secara konvensional dalam tradisi iman menunjuk pada realitas rohani tertentu.

Malaikat pada Tabernakel tidak dimaksudkan untuk disembah. Ia adalah penunjuk arah. Ia mengarahkan perhatian umat kepada Sakramen Mahakudus. Dalam hal ini, ia berfungsi seperti jari yang menunjuk bulan; yang penting bukan jarinya, melainkan bulan yang ditunjuk.

Semiotika membantu kita memahami bahwa simbol religius bukan pengganti realitas, melainkan jembatan menuju realitas yang lebih dalam. Dalam liturgi Katolik, simbol bukan sekadar tanda arbitrer, melainkan partisipasi dalam misteri.

Malaikat di Tabernakel: Jembatan antara Kitab Suci, Teologi, dan Semiotika

Jika kita kembali pada pertanyaan awal, apa kaitan malaikat di Tabernakel dengan Alkitab dan teologi?

Pertama, secara alkitabiah, ada kesinambungan langsung dengan kerub di atas Tabut Perjanjian. Tradisi ini bukan inovasi abad pertengahan, melainkan berakar dalam wahyu Perjanjian Lama.

Kedua, secara teologis, Gereja percaya bahwa Ekaristi adalah kehadiran nyata Kristus. Jika dalam Perjanjian Lama kemuliaan Allah dijaga oleh kerub, maka secara simbolik kehadiran Kristus dalam Tabernakel layak dikawal oleh malaikat. Ini menyatakan iman akan kesucian dan keagungan Sakramen.

Ketiga, secara liturgis, doa-doa Misa sendiri menyebut kehadiran malaikat. Dalam Prefasi Kudus, umat berseru: “Bersama para malaikat dan seluruh bala tentara surga…” Artinya, simbol malaikat di Tabernakel menegaskan apa yang sudah diucapkan dalam doa.

Keempat, secara semiotik, malaikat adalah tanda yang memperluas makna ruang sakral. Gereja bukan sekadar bangunan; ia adalah ruang simbolik. Tabernakel bukan sekadar kotak logam; ia adalah locus theologicus, tempat teologi menjadi nyata. Malaikat memperkuat pesan visual bahwa ini adalah ruang perjumpaan langit dan bumi.

Simbol bekerja melalui repetisi dan pembiasaan. Setiap kali umat melihat malaikat berlutut di sisi Tabernakel, mereka menerima pesan implisit:

  1. Di sini ada Yang Kudus.
  2. Di sini hadir Misteri.
  3. Di sini surga menyentuh bumi.

Dalam dunia modern yang cenderung rasionalistik dan minimalis, simbol bisa dianggap berlebihan. Namun dalam tradisi Katolik, simbol justru adalah bahasa iman. Tanpa simbol, iman menjadi abstrak dan kering. Dengan simbol, iman menjadi inkarnasional, mengambil rupa, bentuk, warna, dan ruang.

Malaikat di Tabernakel adalah pertemuan tiga dimensi:

1. Wahyu, yaitu kerub dalam Perjanjian Lama.

2. Dogma, yaitu kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi.

3. Semiotika, yaitu tanda yang mengantar pada makna.

Ketiganya menyatu dalam praktik liturgi Gereja Katolik. Maka, keberadaan malaikat di sekitar Tabernakel bukan sekadar ornamen artistik, melainkan teologi yang diwujudkan dalam bentuk visual. Ia adalah tafsir iman dalam bahasa simbol.

Sebagaimana kerub di atas Tabut dahulu menaungi misteri perjanjian. Demikian pula malaikat dalam ikonografi Katolik menaungi Misteri yang lebih agung: Allah yang hadir dan tinggal di tengah umat-Nya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org