Menguliti Romantisme Sejarah Sang "Kantong Ulat" : Tanggapan balik untuk Tante Loya dan Tuan Lodowik
| Menepuk air di dulang: Romantisme Sejarah Sang "Kantong Ulat", tanggapan balik untuk Tante Loya dan Tuan Lodowik. Ilustrasi: Dokpri. |
Oleh P Jack Dambe Cjd
Tante Loya dan pendeta Lodowik. Saya terkesan dengan diksi Anda yang meluap-luap. Metafora "kantong ulat" yang tante Loya banggakan memang sangat puitis, sebuah pengakuan dosa yang dibungkus dengan estetika melankolis.
Namun, masalah utama dari seekor ulat adalah pandangannya yang hanya sebatas permukaan daun yang sedang ia kunyah. Pada intinya, ia gagal melihat keseluruhan pohon sejarah yang menopangnya.
Baca juga Sola Scriptura ketika Menjadi Sola Ego Interpretation
Argumen bantahan tante loya bahwa saya "halu", sama sekali tidak tidak make sense.
Halu demi menutupi borok para bapak pendiri institusi tante Loya
Mari saya perlihatkan siapa yang sebenarnya sedang memakai kacamata kuda dan halu demi menutupi borok para bapak pendiri institusi tante Loya.
Di hadapan data, retorika Anda yang laksana istana di atas pasir itu akan segera terlihat seperti gubuk bambu yang diterjang badai fakta.
Agustinus Sang Pelindung vs. Arsitek Kebencian Reformasi
Tante mengutip City of God dan Jeremy Cohen untuk menuduh Doktrin Saksi Agustinus sebagai "eksploitasi". Sungguh sebuah pembacaan sejarah yang sangat anakronistik. Anda menghakimi abad ke-4 dengan standar hak asasi manusia abad ke-21 yang lahir dari kenyamanan kursi empuk.
Pada masa di mana kelompok pagan dan bidaah ditumpas secara fisik oleh pedang kekaisaran, teologi Agustinus (Sicut Judaeis) adalah perisai teologis absolut. Agustinus memberikan basis intelektual mengapa orang Yahudi tidak boleh disentuh, tidak boleh dipaksa pindah agama, dan harus dibiarkan menjalankan ritus mereka. Sejarawan sekuler ternama, Yosef Hayim Yerushalmi, dalam karyanya Zakhor: Jewish History and Jewish Memory, mencatat bahwa doktrin Agustinus inilah yang secara unik memungkinkan eksistensi Yahudi berlanjut di Eropa Barat ketika komunitas non-Kristen lainnya disapu bersih. Dengan kata lain, doktrin dari Agustinus ini tidak pernah memprovokasi untuk berbuat jahat kepada orang Yahudi.
"Kantong ulat" kebanggaan Loya dan Lodowik
Sebaliknya, mari kita lihat "kantong ulat" kebanggaan Anda. Anda menyebut tulisan antisemit Luther sebagai "luapan emosi pria tua" dan "noda personal". Tante Loya, ini bukan sekadar "bad mood" seorang kakek-kakek di sore hari. Ini adalah doktrin yang destruktif.
- Martin Luther: Dalam On the Jews and Their Lies (1543), Luther memberikan 7 instruksi sistematis: membakar sinagoga, menghancurkan rumah, menyita kitab suci, dan memaksa mereka kerja paksa. Sejarawan sekuler William L. Shirer dalam bukunya yang monumental, The Rise and Fall of the Third Reich, secara eksplisit menyatakan bahwa garis lurus dapat ditarik dari antisemitisme Luther menuju kebijakan Nazi. Shirer mencatat bahwa pada Kristallnacht tahun 1938, Nazi dengan bangga menyatakan bahwa mereka hanya melaksanakan apa yang diperintahkan oleh "Doktor Martin Luther".
- Yohanes Calvin: Jangan lupakan Bung Calvin. Dalam Komentar terhadap Kitab Daniel, ia menyebut orang Yahudi sebagai "anjing profan" yang keras kepala. Sejarawan Diarmid MacCulloch dalam Reformation: A History mencatat bahwa teologi Calvin menciptakan pemisahan radikal yang membuat umatnya merasa memiliki "pilihan eksklusif" yang lebih superior secara rasial dan spiritual dibandingkan Israel.
- Meskipun Huldrych Zwingli tidak se-vulgar Luther dalam caci maki, ia meletakkan dasar Supersesionisme radikal yang berbahaya. Dalam karyanya, Ad illustrissimum principem Philippum Hassiae (1530), Zwingli menegaskan bahwa umat Kristen telah menggantikan sepenuhnya posisi Israel sebagai bangsa pilihan, yang ia sebut sebagai "Israel Baru". Implikasinya tragis: di Zurich, ia mendukung kebijakan yang membatasi hak sipil Yahudi dan memperkuat stigma bahwa mereka adalah entitas yang "dikutuk" secara teologis. Doktrinnya menciptakan legitimasi bagi segregasi sosial di Swiss selama berabad-abad, membuktikan bahwa "kantong ulat" Reformasi pun memiliki racun yang sistematis.
Agustinus membiarkan mereka hidup untuk bersaksi, Luther menyuruh pengikutnya membakar rumah mereka. Masih berani bicara soal siapa yang "menghina"?
Vulgata: Antara Aksesibilitas dan Fitnah Toulouse
Anda mengutip Council of Toulouse (1229) sebagai bukti Gereja membakar orang karena menerjemahkan Alkitab. Bung Lodowik, argumen Anda ini sudah sangat usang, sering didaur ulang oleh mereka yang alergi terhadap konteks.
Konsili Toulouse adalah konsili lokal, bukan universal. Ia diadakan khusus di Prancis Selatan untuk menangani bidaah Katarisme. Kaum Katar memanipulasi terjemahan Alkitab untuk mengajarkan bahwa tubuh manusia adalah ciptaan iblis dan menganjurkan bunuh diri massal. Pelarangan teks vernacular di sana adalah tindakan "karantina medis" untuk menghentikan sekte bunuh diri, bukan larangan membaca bagi seluruh dunia Kristen. Tante Loya ketika ambil info versi AI, tolong pahami konteks ya, jangan ngasal.
Jika Roma sangat membenci bahasa rakyat, jelaskan kepada saya mengapa ada Alkitab Mentelin (1466) Alkitab cetak bahasa Jerman yang terbit 17 tahun sebelum Luther lahir? Gereja tidak pernah anti-bahasa rakyat; Gereja hanya anti-terjemahan "kreatif" yang disisipi ajaran sesat oleh orang-orang yang merasa lebih pintar dari tradisi 2.000 tahun.
Amputasi Kanon: Ketika Ulat Menjadi Ahli Bedah
Tante Loya menyebut pembuangan 7 kitab Deuterokanonika sebagai "tindakan medis". Itu lucu! Luther memotong Alkitab bukan karena itu "parasit", melainkan karena ia mengalami alergi teologis terhadap ayat-ayat yang tidak mendukung doktrin Sola Fide-nya.
Kitab-kitab itu (Makabe, Tobit, dll.) sudah ada dalam Septuaginta (LXX) yang digunakan oleh Yesus dan para Rasul. Sejarawan sekuler dan ahli naskah kuno, Lee Martin McDonald dalam The Biblical Canon, menegaskan bahwa gereja mula-mula menerima kitab-kitab ini sebagai bagian integral dari narasi iman mereka. Luther membuang 2 Makabe hanya karena di sana ada praktik mendoakan orang mati yang mengganggu bisnis doktrin barunya. Seseorang yang menyobek halaman Kitab Suci karena tidak sesuai dengan opininya bukanlah seorang pembaru, melainkan seorang vandalis rohani.
Baca Kanon Kitab Suci dan Otoritas Paus dalam Gereja Katolik
Tante Loya beserta followers yang tidak tau apa-apa, hanya manggut-manggut aja, mereka tidak paham, bahwa doktrin sola scriptura itu sejatinya bukan Kembali ke sumber, tetapi Kembali ke apa maunya Martin Luther. Martin Luther menggangap diri lebih tinggi ketimbang Yesus Kristus bersama para murid-Nya yang sudah membaca deuterokanonika di dalam septuaginta. Lalu Luther muncul, membuaang 7 kitab tersebut, ini namanya apa kalau bukan keangkuhan!!
Qumran: Gol Bunuh Diri Teologis Tante Loya
Klaim tante Loya tentang Qumran adalah sebuah ironi yang memilukan. Anda bilang Qumran membongkar penyimpangan Katolik?
Kebalikannya, Nyonya!
Penemuan Gulungan Laut Mati justru menghancurkan justifikasi Protestan dalam membuang Deuterokanonika.
Selama ratusan tahun, kaum Protestan mengejek Katolik karena menggunakan kitab-kitab yang (menurut klaim sepihak proti) tidak ada versi Ibrani aslinya. Namun, di gua-gua Qumran, para arkeolog menemukan fragmen Ibrani dan Aram dari kitab Tobit dan Sirakh. Ini membuktikan bahwa kanon Katolik justru lebih setia pada akar Yahudi kuno daripada kanon "versi hemat" milik Luther. Kerja keras Romo Roland de Vaux dan tim École Biblique bukan untuk "kepemilikan", melainkan untuk menunjukkan bahwa sejarah tidak bisa disunat demi kepentingan dogma abad ke-16. Inilah kubilang, klo baca dari AI, pahami konteks biar tidak mempermalukan diri sendiri.
Ditemukannya teks Ibrani kuno di Qumran untuk kitab Tobit dan Sirakh membuktikan bahwa kanon Katolik (Deuterokanonika) berakar pada tradisi Yahudi pra-Kristen yang autentik. Ini meruntuhkan tuduhan Luther bahwa kitab-kitab tersebut adalah "tambahan" manusia, sekaligus memvalidasi bahwa kanon Katolik lebih setia pada akar Ibrani asli daripada Alkitab hasil amputasi para Reformator, yang tante Loya dan tuan Lodowik banggakan.
Palestina dan Nostra Aetate: Sebuah Kritik atas Kedunguan Sejarah
Anda menuduh Roma menggunakan nama "Palestina" untuk menghapus identitas Israel. Tante Loya, sejak kapan Gereja Katolik abad kedua memiliki wewenang atas birokrasi Kekaisaran Romawi? Kaisar Hadrianus mengubah nama Yudea menjadi Syria Palaestina pada 135 M sebagai hukuman atas Pemberontakan Bar Kokhba. Saat itu, orang Kristen sedang sibuk dikejar-kejar untuk dijadikan pakan singa, bukan sedang duduk di meja pemetaan wilayah.
Anda kemudian mengejek Nostra Aetate (1965) sebagai pengakuan kesalahan. Tidakkah Anda paham bedanya "perkembangan doktrin" dengan "perubahan doktrin"? Nostra Aetate adalah dokumen yang dengan gagah berani melawan arus antisemitisme rasial modern yang, sekali lagi saya ingatkan, justru banyak terinspirasi dari tulisan bapak kebanggaan anda yakni, Luther. Gereja Katolik tidak mengganti janji Tuhan.
Baca juga Topik Bidat/Heresi dalam dan kontra Gereja Katolik Masa ke Masa Itu Itu Saja
Gereja Katolik justru menjaga agar janji itu tidak dibakar oleh api kebencian yang dinyalakan oleh para reformator radikal, yang terus ngeyel dalam kepalsuan.
Penutup untuk Duo LL yang Terhormat:
Tante Loya dan Bung Lodowik, berhentilah bersikap seolah-olah kejujuran "kantong ulat" Anda adalah pengganti bagi akurasi data. Anda bangga menjadi "telanjang" di hadapan Allah, tetapi di hadapan sejarah faktual, Anda hanya sedang memakai kostum "Kaisar Baru" yang mudah dilucuti.
Anda menuduh kami melakukan "senam logika", padahal Anda sendiri sedang melakukan "akrobatik delusi" untuk membenarkan seorang pria yang memotong Alkitab dan menghasut pembakaran sinagoga. Kami, para penjaga katedral, mungkin memiliki debu di lantai kami, tetapi katedral kami dibangun di atas Batu Karang yang sudah teruji selama dua milenium, bukan di atas tumpukan ego dan amarah seorang mantan biarawan yang gagal mengelola emosinya, lalu jadi pujian dan kebanggaan tante Loya dan tuan Lodowik.
Anda mengakui pondasi tradisi kami megah, oh jelas. Pondasi suatu tradisi itu kokoh megah, dan kuat karena dibangun di atas kejujuran sejarah. Sementara kaum heresi tidak punya pondasi tradisi karena teologinya berdiri di atas kemarahan yang membabi buta, sehingga tidak pernah terverifikasi oleh akal sehat.
Jika Anda ingin berdebat lagi, bawalah data, bukan sekadar kutipan dari buku pelajaran sekolah minggu yang sudah usang. Kalau pakai sumber AI, pahamilah konteksnya biar diskusi kita menemukan nilai objektif bukan delusi.
Dan kalau diskusi dilanjutkan pakailah akal sehat, bukan asumsi liar dari kemarahan. Sampai saat itu tiba, silakan terus menggeliat di dalam kantong ulat Anda yang nyaman namun gelap itu.
AMDG