Kanon Kitab Suci dan Otoritas Paus dalam Gereja Katolik

Kanon Kitab Suci: 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru: Katolik punya sejarah, tradisi, dan magisterium dengan suksesi dan pengajaran resmi tanpa-putus. Ist.
Oleh Dr. Laurentius Prasetyo
Kanon Kitab Suci dalam Gereja Katolik lahir dari tradisi apostolik yang hidup, diteguhkan oleh Gereja perdana, dan dijaga oleh Magisterium, dengan dasar biblis yang kuat serta kesinambungan sejarah sejak para rasul. Otoritas Paus berakar pada mandat Kristus kepada Petrus yang diteruskan melalui suksesi apostolik hingga Paus saat ini sebagai pelayan kesatuan dan penjamin kemurnian iman Gereja.
Pendahuluan
Dua pilar utama iman Kristen adalah Kitab Suci dan otoritas Gereja. Namun dalam sejarah Kekristenan modern, kedua pilar ini sering dipisahkan secara artifisial. Kitab Suci diterima, tetapi otoritas Gereja, khususnya Paus, ditolak. Pendekatan semacam ini memotong kompas yang berpotensi menimbulkan problem serius, baik secara historis maupun teologis.
Artikel ini bertujuan mendudukkan posisi awal bahwa kanon Kitab Suci adalah hasil otoritas Gereja Katolik, dan bahwa otoritas Paus berakar pada mandat Yesus Kristus kepada Rasul Petrus serta diteruskan secara historis melalui suksesi apostolik.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan historis-kritis dan teologi Gereja perdana, dengan merujuk pada Kitab Suci, dokumen konsili, tulisan Bapa Gereja, serta kajian akademik modern.
Kanon Kitab Suci: Proses Historis dalam Gereja Perdana
Tidak Adanya Kanon Formal pada Abad Pertama
Yesus Kristus tidak meninggalkan daftar kitab tertulis. Para rasul juga tidak pernah menetapkan kanon Kitab Suci secara eksplisit.
Pada abad pertama dan kedua, berbagai tulisan beredar di kalangan jemaat Kristen: Injil, surat apostolik, homili, hingga teks-teks pseudo-apostolik. Situasi ini menuntut Gereja untuk melakukan proses discernment: membedakan tulisan yang benar-benar apostolik dari yang tidak.¹
Baca Kitab Suci Katolik: Isinya Tetap, yang Berubah Terjemahannya ke Bahasa Bangsa-bangsa di Dunia
Dengan demikian, kanon Kitab Suci bukanlah produk spontan, melainkan hasil proses panjang dalam kehidupan Gereja.
Konsili dan Otoritas Penetapan Kanon
Penetapan kanon secara formal terjadi pada akhir abad ke-4 melalui konsili-konsili Gereja di bawah otoritas para uskup dalam persekutuan dengan Uskup Roma.
Konsili Roma (382 M), yang dipimpin Paus Damasus I, menetapkan daftar kitab yang identik dengan Alkitab Katolik saat ini: 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru.² Daftar ini kemudian ditegaskan kembali oleh Konsili Hippo (393 M) dan Konsili Kartago (397 M dan 419 M).³
Konsili Kartago secara eksplisit menyatakan bahwa hanya kitab-kitab tersebut yang boleh dibacakan sebagai Kitab Suci dalam Gereja. Keputusan ini kemudian dikukuhkan oleh Paus Innosensius I dalam suratnya kepada Uskup Exsuperius pada tahun 405 M.⁴
Fakta ini menunjukkan bahwa otoritas Gereja mendahului dan melahirkan kanon Kitab Suci, bukan sebaliknya.
Dasar Biblis Otoritas Petrus
Mandat Khusus Yesus kepada Petrus
Kitab Suci sendiri memberikan dasar yang kuat bagi peran khusus Petrus dalam Gereja.
Dalam Matius 16:18–19, Yesus memberikan kepada Petrus “kunci Kerajaan Surga”, simbol otoritas pemerintahan dalam tradisi Perjanjian Lama (lih. Yesaya 22:22). Peran ini bersifat personal dan tidak diberikan secara kolektif kepada semua rasul.⁵
Dalam Lukas 22:32, Yesus berdoa secara khusus bagi Petrus agar imannya tidak gugur dan agar ia meneguhkan saudara-saudaranya.
Dalam Yohanes 21:15–17, Yesus mempercayakan seluruh kawanan-Nya kepada Petrus. Tiga teks ini secara konsisten menunjukkan peran kepemimpinan Petrus dalam Gereja perdana.
Scott Hahn menegaskan bahwa bahasa perjanjian dan kerajaan dalam teks-teks ini menunjukkan dimensi institusional, bukan sekadar simbolis.⁶
Petrus di Roma dan Kesaksian Gereja Perdana
Sumber Abad Pertama dan Kedua
Kesaksian bahwa Petrus memimpin Gereja di Roma dan wafat sebagai martir di sana didukung oleh sumber-sumber paling awal Kekristenan.
Baca Kitab Suci Katolik
Clement dari Roma (±96 M), Paus ke-4, menulis kepada jemaat Korintus dengan otoritas apostolik, meskipun Rasul Yohanes masih hidup.⁷ Ignatius dari Antiokhia (±107 M) menyebut Gereja Roma sebagai Gereja yang “memimpin dalam kasih”.⁸
Irenaeus dari Lyon (±180 M) memberikan kesaksian paling eksplisit dengan mencantumkan daftar suksesi para uskup Roma dari Petrus dan menyatakan bahwa semua Gereja harus sepakat dengan Gereja Roma karena otoritasnya.⁹ Kesaksian ini sangat penting karena berasal dari abad ke-2, jauh sebelum Kekristenan menjadi agama resmi Kekaisaran.
Suksesi Apostolik dan Kepausan
Prinsip Suksesi
Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa Paus adalah Petrus yang diulang, melainkan bahwa jabatan Petrus diteruskan secara sah melalui suksesi apostolik. Prinsip ini sejalan dengan praktik Gereja perdana, di mana para rasul menetapkan penerus melalui penumpangan tangan.¹⁰
Data Historis Suksesi Paus
Sejak Rasul Petrus hingga Paus yang menjabat saat ini, Gereja Katolik telah memiliki 266 Paus resmi. Daftar ini tercatat dalam dokumen seperti Liber Pontificalis dan Annuario Pontificio.¹¹
Sejarawan modern seperti Eamon Duffy dan J.N.D. Kelly, yang menulis dengan pendekatan kritis, mengakui kesinambungan historis kepausan sebagai fakta sejarah.¹²
Baca The Case for Catholicism: Panduan Iman Katolik di Era Digital
Implikasi Teologis dan Historis
Menolak otoritas Paus tetapi menerima Kitab Suci menimbulkan kontradiksi serius. Kanon Kitab Suci yang digunakan oleh semua Gereja Kristen adalah hasil keputusan Gereja Katolik abad ke-4.
Seperti dicatat oleh Bruce Metzger dan F.F. Bruce—keduanya bukan Katolik—kanon Perjanjian Baru mencapai bentuk finalnya melalui proses eklesial, bukan keputusan individual.¹³
Baca Santo Hieronymus (w. 420 M) Menerjemahkan Vulgata
Dengan demikian, secara historis dan teologis, Kitab Suci dan otoritas Gereja tidak dapat dipisahkan.
Kesimpulan
- Kanon Kitab Suci adalah hasil otoritas Gereja Katolik melalui konsili dan Paus.
- Otoritas Paus berakar pada mandat Yesus Kristus kepada Rasul Petrus.
- Suksesi apostolik kepausan tercatat secara historis tanpa putus sejak abad pertama.
- Kritik terhadap kepausan sering kali mengabaikan data sejarah yang justru menopang keberadaannya.
- Gereja Katolik tidak bertumpu pada mitos, melainkan pada sejarah, Kitab Suci, dan Tradisi yang hidup.
Catatan Kaki
- Bruce M. Metzger, The Canon of the New Testament (Oxford: Clarendon Press, 1987), 70–85.
- Norman P. Tanner, Decrees of the Ecumenical Councils, Vol. 1 (London: Sheed & Ward, 1990), 7–10.
- Philip Schaff, History of the Christian Church, Vol. III (Peabody: Hendrickson, 1996), 412–415.
- Denzinger-Hünermann, Enchiridion Symbolorum, no. 213–215.
- Raymond E. Brown, Peter in the New Testament (New York: Paulist Press, 1973), 92–104.
- Scott Hahn, Rome Sweet Home (San Francisco: Ignatius Press, 1993), 50–65.
- 1 Clement, ch. 1–5.
- Ignatius of Antioch, Letter to the Romans, Prologue.
- Irenaeus, Against Heresies, III.3.2.
- Francis A. Sullivan, From Apostles to Bishops (New York: Newman Press, 2001), 77–95.
- Annuario Pontificio (Vatican City: Libreria Editrice Vaticana).
- Eamon Duffy, Saints and Sinners: A History of the Popes (New Haven: Yale University Press, 2015).
- F.F. Bruce, The Canon of Scripture (Downers Grove: IVP Academic, 1988), 215–230.
Referensi
Brown, Raymond E. Peter in the New Testament. New York: Paulist Press, 1973.
Bruce, F.F. The Canon of Scripture. Downers Grove: IVP Academic, 1988.
Duffy, Eamon. Saints and Sinners: A History of the Popes. New Haven: Yale University Press, 2015.
Hahn, Scott. Rome Sweet Home. San Francisco: Ignatius Press, 1993.
Irenaeus. Against Heresies.
Metzger, Bruce M. The Canon of the New Testament. Oxford: Clarendon Press, 1987.
Schaff, Philip. History of the Christian Church. Vol. III.
Sullivan, Francis A. From Apostles to Bishops. New York: Newman Press, 2001.
Tanner, Norman P. Decrees of the Ecumenical Councils. Vol. 1.