Gereja Katolik Jelas Suksesi Apostolik dan Pemimpinnya: Dari Yesus Kristus kepada Petrus, dari Petrus kepada Para Paus

Gereja Katolik jelas Pemimpinnya: Dari Kristus kepada Petrus, dari Petrus kepada Para Paus
Gereja Katolik jelas rantai pendirian, sejarah, dan suksesinya: Dari Kristus kepada Petrus, dari Petrus kepada Para Paus. Ist.

Oleh Dr. Laurentius Prasetyo

Gereja Katolik didirikan oleh Yesus Kristus adalah fakta sejarah. Pernyataan yang datang dari Dia, Ssang Sabda (logos) yang menjadi manusia dan kuat bagai karang dalam tiang fondasi Kitab Suci. 

Yesus Kristus Sang Pendiri: Dasar Biblis Gereja

Gereja berdiri dan berakar pada kehendak eksplisit Kristus sendiri. Bukan lahir dari konsensus manusia. Bukan pula hasil konsili politik, melainkan berakar pada kehendak eksplisit Kristus sendiri.

Ayat kunci yang selalu menjadi rujukan adalah Matius 16:18–19:

“Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”

Teks Yunani menggunakan permainan kata Petros (Petrus) dan petra (batu karang). Dalam bahasa Aram, bahasa sehari-hari Yesus, keduanya adalah Kepha (Kefas), sebagaimana ditegaskan dalam Yohanes 1:42:

“Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (yang berarti: Petrus).”

Yesus tidak sekadar memuji iman Petrus. Ia memberi identitas baru, dan dalam tradisi Alkitab, perubahan nama menandakan mandat ilahi (Abram menjadi Abraham, Yakub menjadi Israel). Di sini, Simon menjadi Kefas, si batu karang.

Simbol “kunci” dalam Matius 16:19 merujuk pada Yesaya 22:22, ketika Eliakim menerima kunci rumah Daud sebagai wakil raja. Ini bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan simbol otoritas pemerintahan. Maka, pemberian kunci kepada Petrus menunjukkan pendelegasian otoritas kerajaan Mesianik.

Paus Uskup Roma Secara Otomatis

Peneguhan kembali mandat ini tampak dalam Yohanes 21:15–17, ketika Yesus yang bangkit berkata tiga kali kepada Petrus:

“Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Di sini, mandat pastoral diberikan secara personal dan eksplisit. Sementara semua rasul menerima kuasa mengikat dan melepaskan (Matius 18:18), Petrus menerima kunci dan mandat penggembalaan universal.

Yesus juga berdoa secara khusus bagi Petrus dalam Lukas 22:31–32:

“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”

Tugas “menguatkan saudara-saudara” menunjuk pada fungsi kepemimpinan dalam persekutuan rasuli.

Baca Roma Locuta, Causa Finita Est

Dengan demikian, secara biblis, Gereja berasal dari Kristus, dibangun di atas dasar para rasul (Efesus 2:20), tetapi dengan peran khusus Petrus sebagai batu karang dan pemegang kunci.

Petrus dalam Gereja Perdana: Fakta Historis dan Peran Primasi

Kitab Kisah Para Rasul memperlihatkan bagaimana kepemimpinan Petrus dijalankan dalam Gereja awal.

Dalam Kisah Para Rasul 1:15–26, Petrus memimpin pemilihan pengganti Yudas.

Dalam Kisah 2, ia berkhotbah pada hari Pentakosta.

Dalam Kisah 10, ia membuka pintu Gereja bagi bangsa-bangsa non-Yahudi melalui baptisan Kornelius.

Petrus bertindak sebagai figur sentral.

Konsili Yerusalem (Kisah 15) juga menunjukkan struktur yang menarik. Setelah perdebatan panjang, Petrus bangkit dan berbicara. Setelah itu, diskusi mereda. Yakobus kemudian merumuskan keputusan pastoral. Pola ini mencerminkan primasi moral dan teologis Petrus dalam kolegialitas para rasul.

Baca Iman Katolik dalam Zaman yang Bergerak: Konsistensi Teologi Katolik di Zaman Digital

Secara historis, Petrus diyakini wafat sebagai martir di Roma sekitar tahun 64–67 M pada masa Kaisar Nero. Kesaksian paling awal datang dari:

  1. Klemens dari Roma (±96 M) dalam 1 Clement yang menyebut kemartiran Petrus dan Paulus.
  2. Ignatius dari Antiokhia (±107 M) mengakui Gereja Roma sebagai yang “memimpin dalam kasih.”
  3. Ireneus dari Lyon (±180 M) dalam Adversus Haereses III.3.2, yang secara eksplisit menyebut daftar uskup Roma sejak Petrus dan Paulus.
  4. Ireneus menulis bahwa Gereja Roma memiliki “tradisi yang berasal dari para rasul” dan bahwa setiap Gereja harus sejalan dengannya karena otoritas apostoliknya.

Sekitar tahun 180 M, hanya satu abad setelah para rasul, sudah ada kesadaran universal bahwa Gereja Roma memiliki posisi normatif karena warisan Petrus.

Baca Paus dari Santo Petrus hingga Leo XIV tetap Solid dan kian Berkembang

Suksesi Apostolik dari Petrus kepada Para Paus

Suksesi apostolik bukanlah gagasan abad pertengahan. Ia muncul dalam Gereja perdana sebagai jaminan kesinambungan iman.

Konsep ini didasarkan pada praktik penggantian pelayanan rasuli, sebagaimana terlihat dalam Kisah Para Rasul 1:20–26, ketika Matias menggantikan Yudas. 

Jabatan rasuli tidak berhenti pada pribadi tertentu dan diteruskan. Ireneus dari Lyon mencatat daftar awal suksesi uskup Roma:

  1. Petrus 
  2. Linus
  3. Anacletus (Kletus)
  4. Klemens
  5. Evaristus
  6. Aleksander
  7. Sixtus
  8. Telesforus
  9. Hyginus
  10. Pius
  11. Anicetus
  12. Soter
  13. Eleutherius

Dan seterusnya. 

Hingga kini Paus Leo XIV, yang lahir pada 14 September 1955 dengan nama Robert Francis Prevost. Beliau adalah Paus Gereja Katolik ke-267 sekaligus pemegang kedaulatan Negara Kota Vatikan sejak 8 Mei 2025. 

Baca Mengenal Paus Leo XIV: Dari Chicago ke Takhta Santo Petrus

Credo in unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.

Paus Leo XIV terpilih melalui Konklaf Kepausan 2025 sebagai penerus Paus Fransiskus, menandai kelanjutan suksesi Takhta Petrus dalam sejarah Gereja Katolik yang telah berlangsung selama dua milenium.

Daftar ini menunjukkan kesinambungan historis yang dapat ditelusuri. Bahkan sejarawan non-Katolik mengakui bahwa Gereja Roma memiliki garis kepemimpinan relatif jelas sejak abad pertama.

Suksesi pemimpin Gereja Universal (Katolik) ini bukan hanya administratif, melainkan teologis. Dalam 2 Timotius 2:2, Paulus menulis:

“Apa yang telah engkau dengar daripadaku… percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.”

Di sini tampak pola empat generasi: Paulus → Timotius → orang terpercaya → orang lain. Inilah struktur transmisi iman Gereja sesungguhnya yang: satu, kudus, katolik, dan apostolik sesuai dnegan isi Konsili Konstantinopel I (381)

Konsili ini menyempurnakan Syahadat Nikea (325) dan menghasilkan Syahadat Nikea–Konstantinopel, yang hingga kini didaraskan dalam Misa Kudus:

“Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.”

(Credo in unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.)

Inilah perumusan dogmatis pertama dan resmi tentang empat ciri (empat tanda) Gereja.

Baca Krisis Otoritas dan Tragedi Perpecahan: Revisitasi Historis-Teologis atas Konflik Paus Leo X dan Martin Luther

Katekismus Gereja Katolik (KGK 861–862) menegaskan bahwa 

"....para rasul menyerahkan kepada para penerus mereka tugas mengajar, menguduskan, dan memimpin.”

Primasi Petrus diteruskan dalam uskup Roma karena Roma adalah tempat Petrus wafat dan menggembalakan Gereja. Seiring waktu, kesadaran ini mengkristal dalam pengakuan paus sebagai penerus Petrus.

Tahtta Petrus dalam Sejarah: Kontinuitas dan Tantangan

Takhta Petrus bukan institusi tanpa badai. Ia melewati penganiayaan Romawi, perpecahan Timur–Barat (1054), Reformasi abad ke-16, hingga tantangan modernitas.

Namun garis suksesi tidak pernah terputus.

Dari Petrus hingga Paus Fransiskus (dan kini penerusnya sesuai perkembangan aktual Gereja), Gereja Katolik mencatat lebih dari 260 paus dalam daftar resmi. Arsip Vatikan, tulisan para Bapa Gereja, dan dokumen konsili menjadi saksi historis kontinuitas tersebut.

Baca Ex Cathedra

Konsili Vatikan I (1870) merumuskan secara dogmatis primasi dan infalibilitas paus dalam kondisi tertentu, bukan sebagai inovasi, melainkan sebagai klarifikasi atas iman yang telah lama dipegang.

Primasi ini tidak meniadakan kolegialitas para uskup. Konsili Vatikan II (Lumen Gentium 22) menegaskan bahwa paus memimpin dalam persekutuan dengan para uskup, bukan terpisah dari mereka.

Dalam perspektif sejarah panjang, keberlanjutan Takhta Petrus menjadi salah satu institusi kepemimpinan tertua di dunia yang masih berjalan tanpa jeda struktural sejak abad pertama.

Jika kerajaan-kerajaan runtuh, dinasti-dinasti hilang, sistem politik berganti, Takhta Petrus tetap berdiri. Bukan karena kekuatan manusia semata, melainkan karena janji Kristus:

“Alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18)

Janji ini bukan sekadar retorika spiritual. Ia menjadi tesis historis yang teruji dua milenium.

Gereja Katolik mengajarkan bahwa:

  1. Gereja Katolik didirikan oleh Yesus Kristus (Matius 16:18).
  2. Gereja Katolik diletakkan di atas Petrus sebagai batu karang dan pemegang kunci (Matius 16:19; Yohanes 21:15–17).
  3. Kepemimpinan itu diteruskan melalui suksesi apostolik (Kisah 1:20–26; 2 Timotius 2:2).
  4. Secara historis, garis suksesi uskup Roma dapat ditelusuri sejak abad pertama melalui kesaksian para Bapa Gereja.

Maka klaim Gereja Katolik bukanlah klaim kekuasaan politis, melainkan klaim kontinuitas apostolik. Ia berdiri bukan pada popularitas, melainkan pada suksesi. Bukan pada opini mayoritas, melainkan pada janji Kristus.

Baca Ex Cathedra

Dalam sejarah dua ribu tahun. Takhta Petrus tetap menjadi simbol kesatuan Gereja universal: satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Gereja lain tidak ada yang: satu, kudus, katolik, dan apostolik. Maka Credo atau Syahadat Nikea–Konstantinopel ini tiap Misa, atau perayaan Ekaristi, atau pada kesempatan memerbarui Janji Baptis senantiasa diucapkan:

Credo in unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam.

Katolik sudah selesai dengan iman kepercayaannya.  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org