Iman Katolik dalam Zaman yang Bergerak: Konsistensi Teologi Katolik di Zaman Digital
Oleh Apen PanlelugenPaus, penerus takhta Petrus dalam kesatuan dengan uskup-uskup sedunia nahkoda dan awak kapal yang membawa bahtera Gereja mengarungi zaman yang berubah. Ist.
Iman Katolik tidak pernah lahir sebagai sistem tertutup yang kebal terhadap perubahan sejarah. Sejak awal, Gereja hidup di dalam dunia yang berubah, menghadapi kekaisaran, kebudayaan, bahasa, dan teknologi yang silih berganti.
Yesus Kristus tidak menulis kitab. Sang Lógos, Sabda yang menjadi manusia itu membentuk persekutuan orang-orang percaya.
Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium
Yesus Kristus tidak meninggalkan arsip normatif, melainkan menjanjikan Roh Kudus yang membimbing Gereja kepada seluruh kebenaran.Yohanes 16:13
“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”
Ini ayat paling langsung.
Yesus tidak berkata “Aku tinggalkan buku”
Yesus berkata “Aku kirim Roh yang membimbing”.
Yohanes 21:25
“Masih banyak hal lain yang diperbuat Yesus; tetapi sekiranya semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.”
Ayat ini secara eksplisit menolak gagasan bahwa seluruh iman direduksi menjadi arsip tertulis.
Karena itu, Gereja Katolik tidak memahami iman sebagai teks yang berdiri sendiri. Kitab Suci memang Firman Allah yang diilhamkan, normatif, dan tak tergantikan. Namun Firman itu lebih tua dari huruf. Ia diwartakan sebelum dituliskan dan tetap hidup sesudah dituliskan.
Dari sinilah lahir Tradisi Apostolik, bukan sebagai tambahan wahyu, melainkan sebagai kesinambungan hidup iman.
Otoritas rohani selalu berjalan bersama tanggung jawab historis
Sejarah Gereja menunjukkan bahwa otoritas rohani selalu berjalan bersama tanggung jawab historis.
Dari bulla kepausan hingga konsili ekumenis, Gereja tidak pernah memisahkan iman dari realitas konkret.
Bulla-bulla kepausan abad pertengahan, misalnya, bukan sekadar dokumen administratif, melainkan respons pastoral terhadap situasi zaman. Gereja berbicara karena dunia berubah.
Prinsip ini terus berlanjut hingga zaman modern. Gereja tidak berhenti menjadi Gereja hanya karena dunia memasuki fase teknologi baru. Sebaliknya, setiap perubahan besar memanggil Gereja untuk membaca kembali tanda-tanda zaman dalam terang Injil.
Kitab Suci, Tradisi, dan Otoritas Gereja
Konsili Vatikan II merumuskan secara jernih relasi antara Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium. Dalam Dei Verbum, Gereja menegaskan bahwa wahyu ilahi mengalir dari satu sumber yang sama dan diteruskan melalui dua cara yang saling berkaitan, yakni Kitab Suci dan Tradisi Suci, yang ditafsirkan secara otoritatif oleh Magisterium.
Kerangka ini menunjukkan konsistensi teologi Katolik. Gereja tidak menempatkan Kitab Suci melawan Tradisi, dan tidak menempatkan Tradisi di atas Kitab Suci. Keduanya saling menerangi. Tanpa Kitab Suci, Tradisi kehilangan norma. Tanpa Tradisi, Kitab Suci kehilangan konteks hidupnya.
Pendekatan ini menjadi sangat penting ketika Gereja menghadapi realitas yang tidak dikenal oleh teks Alkitab secara literal. Dunia industri, kapitalisme, media massa, dan kini dunia digital serta algoritma, tidak pernah disebut dalam Kitab Suci. Namun Gereja tidak kehilangan suara, karena otoritasnya tidak berhenti pada teks tertulis semata.
Ensiklik Rerum Novarum (1891) menjadi contoh klasik. Paus Leo XIII tidak mencari ayat tentang pabrik atau upah buruh. Ia membaca penderitaan manusia industrial dalam terang iman Katolik tentang martabat manusia, kerja, dan keadilan sosial. Dengan demikian, Gereja berbicara secara teologis tentang persoalan yang sama sekali baru.
Prinsip yang sama berlaku hari ini. Dunia digital dan algoritma bukan sekadar fenomena teknis. Ia menyentuh relasi manusia, struktur kekuasaan, dan pembentukan kesadaran. Gereja Katolik memiliki legitimasi teologis untuk berbicara tentang ini, bukan karena ada ayatnya, tetapi karena ada iman yang hidup.
Media, Algoritma, dan Martabat Manusia
Konsili Vatikan II secara eksplisit menyadari pentingnya media modern. Dalam dekrit Inter Mirifica, Gereja menyatakan bahwa sarana komunikasi sosial adalah anugerah Allah yang dapat digunakan untuk kebaikan, tetapi juga membawa tanggung jawab moral yang besar. Media tidak netral. Ia membentuk cara manusia berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan.
Apa yang dahulu disebut pers, radio, dan televisi, kini berkembang menjadi media digital yang diatur oleh algoritma. Algoritma menentukan visibilitas, mengatur arus informasi, dan membentuk ruang publik baru. Dalam terang Inter Mirifica, fenomena ini bukan sekadar perkembangan teknis, melainkan persoalan etis dan pastoral.
Gereja Katolik melihat bahwa algoritma dapat memperkuat kecenderungan dosa struktural. Polarisasi, manipulasi emosi, komodifikasi perhatian, dan reduksi manusia menjadi data adalah bentuk baru dari persoalan lama. Di sinilah ajaran sosial Gereja menemukan relevansinya.
Rerum Novarum mengajarkan bahwa struktur ekonomi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Prinsip ini dapat diterapkan secara konsisten pada dunia digital. Teknologi harus melayani martabat manusia, bukan memperbudaknya. Data tidak boleh menggantikan pribadi. Efisiensi tidak boleh mengorbankan kebenaran.
Gereja tidak menolak teknologi. Ia menolak absolutisasi teknologi. Algoritma adalah alat, bukan otoritas moral. Ketika algoritma mulai menentukan apa yang layak dipercaya dan siapa yang layak didengar, Gereja berkewajiban mengingatkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh mekanisme pasar atau logika klik.
Konsistensi Teologi Katolik di Zaman Digital
Kekuatan iman Katolik terletak pada konsistensinya. Dari Kitab Suci hingga Tradisi, dari bulla kepausan hingga ensiklik sosial, Gereja selalu berbicara dari pusat yang sama, yaitu Kristus. Ia tidak menyesuaikan kebenaran dengan zaman, tetapi menerangi zaman dengan kebenaran.
Zaman digital sering menuntut jawaban cepat. Gereja memilih kebijaksanaan. Ia tidak tergoda untuk membuat teologi instan. Ia membaca, menimbang, dan berdialog. Inilah buah dari tradisi panjang refleksi iman. Gereja tahu bahwa setiap teknologi membawa ambiguitas moral. Ia bisa menjadi sarana pewartaan, tetapi juga alat manipulasi.
Dalam konteks ini, pendekatan sola Scriptura menjadi semakin terbatas. Ia tidak mampu memberi kerangka normatif yang memadai untuk persoalan struktural dan kolektif. Gereja Katolik, dengan struktur teologisnya yang utuh, justru mampu berbicara secara publik dan bertanggung jawab.
Iman Katolik tidak gentar menghadapi algoritma. Mengapa? hal itu karena ia tidak kehilangan antropologi. Manusia tetap citra Allah, bukan sekadar pengguna. Kebebasan tetap realitas moral, bukan ilusi digital. Hati nurani tetap pusat keputusan, bukan hasil kalkulasi data.
Gereja Katolik tidak hidup dari nostalgia masa lalu. Gereja hidup dari kesetiaan yang kreatif. Setia pada Kristus, kreatif dalam sejarah.
Di tengah dunia digital yang terus berubah, iman Katolik tetap berjalan. Bukan karena ia paling cepat, tetapi karena ia paling berakar.