Kekatolikan dalam Kristus: Perspektif Teologis dan Historis

Kekatolikan dalam Kristus
Yesus sebagai pusat sekaligus kepala Gereja, Petrus sebagai Paus pertama, dan suksesi apostolik dalam Gereja Katolik. Ist.
Oleh Dr. Laurentius Prasetyo

Kekatolikan adalah atribut intrinsik Kristus, bukan produk sejarah atau pengembangan doktrinal semata

Kekatolikan sebagai Awal dari Kristus

Kekatolikan, dalam pengertian yang paling mendasar, bukan sekadar institusi atau tradisi, melainkan sebuah realitas yang dimulai dari Kristus sendiri. 

Para teolog Katolik kontemporer, seperti Avery Dulles, Aidan Nichols, dan William C. Levering, menegaskan bahwa kekatolikan adalah atribut intrinsik Kristus, bukan produk sejarah atau pengembangan doktrinal semata[^1]. 

Kristus bersifat katolik karena memiliki kepedulian universal terhadap seluruh umat manusia, yang melampaui batas etnis, budaya, dan geografi.

Sejak awal pelayanan-Nya, Kristus menegaskan kesatuan dan inklusivitas pesan-Nya. Dalam Injil Yohanes, Yesus menyatakan: 

“Aku telah memberi mereka firman-Mu; dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia” (Yohanes 17:14). Pernyataan ini menegaskan bahwa misi Kristus bersifat global dan inklusif, ciri khas yang kemudian menjadi inti kekatolikan[^2].

Kekatolikan dalam Kristus bukan hanya mengenai organisasi gereja atau hierarki, tetapi sebuah prinsip teologis. Prinsip yang menekankan kesatuan dalam kebenaran, keselamatan bagi semua, dan partisipasi universaldalam pewartaan Injil. 

Dari perspektif historis, kesadaran ini berkembang dalam konteks gereja perdana yang menghadapi pluralitas budaya dan tantangan sosial.

Kekatolikan dalam Ajaran dan Misi Kristus

Kristus adalah pusat dari segala ajaran Katolik. Menurut Levering, kekatolikan Kristus tercermin dalam sifat misi-Nya yang universal: Dia datang untuk semua manusia, bukan untuk kelompok tertentu saja[^3]. Konsep ini dapat dilihat dalam pemanggilan murid-murid dari berbagai latar belakang dan perintah-Nya untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk (Matius 28:19).

Dalam perspektif teologis, kekatolikan Kristus mencakup tiga dimensi utama: kosmopolitisme spiritual, inklusivitas sosial, dan keterbukaan terhadap kebenaran ilahi. Kosmopolitisme spiritual menunjukkan bahwa keselamatan yang dibawa Kristus tidak dibatasi oleh etnis atau status sosial. 

Inklusivitas sosial menekankan bahwa Yesus mengakui martabat setiap individu, termasuk orang miskin, perempuan, dan kelompok yang terpinggirkan. Adapun keterbukaan terhadap kebenaran ilahi menegaskan bahwa wahyu Kristus tidak terbatas pada satu generasi atau satu budaya saja, tetapi terus relevan sepanjang zaman[^4].

Sejarah gereja awal memperlihatkan bagaimana prinsip kekatolikan Kristus diuji dalam menghadapi pluralitas budaya. Gereja perdana di Yerusalem dan Antiokhia berinteraksi dengan komunitas Yahudi dan non-Yahudi, membentuk dasar bagi pemahaman katolik yang inklusif. Konflik mengenai penerimaan orang non-Yahudi dalam jemaat Kristen (Kisah Para Rasul 15) menjadi titik tolak pemahaman bahwa kekatolikan bukan hanya doktrin, tetapi praktik sosial dan pastoral yang konkret.

Kekatolikan dan Inkarnasi: Teologi Universal dalam Kristus

Injil menegaskan bahwa kekatolikan Kristus bukan abstraksi, tetapi terealisasi dalam inkarnasi. Yesus, sebagai manusia dan Allah, memperlihatkan sifat universal melalui interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat. Menurut Nichols, inkarnasi adalah “jembatan antara ilahi dan manusia, antara universalitas kasih dan partikularitas sejarah”[^5].

Dalam perspektif historis, kekatolikan inkarnasi Kristus terlihat dari pengakuan terhadap nilai budaya dan tradisi lokal. Contohnya, Yesus menghormati Sabat, perayaan Yahudi, dan norma sosial Palestina, tanpa mengurangi pesan universal-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa kekatolikan bukan homogenisasi budaya, melainkan penghormatan terhadap keberagaman dalam kerangka kebenaran Kristus.

Inkarnasi menegaskan bahwa kekatolikan bersifat "proaktif dan transformatif". Kristus hadir untuk mengubah manusia dan masyarakat, bukan sekadar mempertahankan status quo. Hal ini menjadi prinsip penting bagi teologi Katolik kontemporer, termasuk ajaran sosial gereja, yang menekankan keadilan, perdamaian, dan integritas ciptaan. Dengan demikian, kekatolikan dalam Kristus adalah kesatuan yang dinamis, bukan keseragaman pasif[^6].

Kekatolikan sebagai Kesatuan dan Keberagaman Gereja

Salah satu dimensi terpenting kekatolikan adalah pengakuan terhadap kesatuan dalam keberagaman. Gereja. Menurut Dulles pengakuan itu adalah “komunitas universal yang tetap satu dalam iman, meski menampung berbagai tradisi liturgis, bahasa, dan budaya”[^7].

Sejarah Gereja Katolik menunjukkan bahwa kekatolikan bukanlah bentuk monolitik, tetapi sebuah jaringan yang mengintegrasikan perbedaan. Misalnya, ritus-ritus Timur dan Barat, pengaruh budaya lokal dalam seni sakral, serta variasi praktik devosi menegaskan bahwa kesatuan Katolik bersifat organik dan inklusif. Hal ini menegaskan prinsip bahwa kekatolikan adalah kesatuan dalam kebenaran, bukan keseragaman ritual atau budaya.

Kekatolikan juga menuntut keterlibatan aktif setiap anggota dalam pewartaan Injil. Teolog kontemporer menekankan bahwa semua orang dipanggil untuk menjadi bagian dari tubuh Kristus, yang menunjukkan bahwa kekatolikan adalah partisipatif. Dengan demikian, Kristus adalah pusat, dan umat-Nya adalah medium melalui mana kekatolikan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari[^8].

Kekatolikan Kristus dan Tantangan Kontemporer

Dalam konteks modern, kekatolikan Kristus menghadapi tantangan baru: globalisasi, pluralisme agama, dan sekularisasi. Namun, prinsip universalitas Kristus tetap relevan. Menurut Levering, kekatolikan harus dipahami sebagai kepekaan terhadap konteks sejarah dan budaya, sambil mempertahankan inti kebenaran yang bersumber dari Kristus[^9].

Gereja modern dipanggil untuk menjadi saksi kekatolikan Kristus melalui diakonia, pendidikan, dan advokasi sosial. Misalnya, gerakan kemanusiaan Katolik menegaskan inklusivitas, menghormati martabat semua orang, dan mengupayakan keadilan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa kekatolikan bukan sekadar identitas teologis, tetapi sebuah panggilan etis dan praktis.

Kekatolikan dalam Kristus adalah realitas yang terus berkembang. Kristus sebagai pusat memberi arah bagi umat-Nya untuk hidup dalam kesatuan dan keberagaman, menghadapi tantangan zaman, dan menjadi saksi kasih Allah kepada dunia. 

Kekatolikan Kristus adalah jembatan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan, yang menegaskan relevansi universal-Nya sepanjang sejarah manusia[^10].

Catatan kaki:

[^1]: Dulles, A., 2002. Models of the Church. New York: Image Books.

[^2]: Nichols, A., 2011. The Shape of Catholic Theology. London: T&T Clark.

[^3]: Levering, M., 2017. Catholicism and the Universal Christ. New York: Bloomsbury Academic.

[^4]: Dulles, A., 2006. The Craft of Theology. Mahwah: Paulist Press.

[^5]: Nichols, A., 2010. Discovering Aquinas: An Introduction to His Life, Work, and Influence. London: Continuum.

[^6]: Dulles, A., 1992. Magisterium: Teacher and Guardian of the Faith. New York: Crossroad.

[^7]: Dulles, A., 1987. Models of the Church: A Critical Assessment. New York: Doubleday.

[^8]: Levering, M., 2015. Catholic Theology: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.

[^9]: Levering, M., 2017. Catholicism and the Universal Christ. New York: Bloomsbury Academic.

[^10]: Nichols, A., 2011. The Shape of Catholic Theology. London: T&T Clark.

Daftar Pustaka

Dulles, A., 1987. Models of the Church: A Critical Assessment. New York: Doubleday.

Dulles, A., 1992. Magisterium: Teacher and Guardian of the Faith. New York: Crossroad.

Dulles, A., 2002. Models of the Church. New York: Image Books.

Dulles, A., 2006. The Craft of Theology. Mahwah: Paulist Press.

Levering, M., 2015. Catholic Theology: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.

 Levering, M., 2017. Catholicism and the Universal Christ New York: Bloomsbury Academic.

 Nichols, A., 2010. Discovering Aquinas: An Introduction to His Life, Work, and Influence. London: Continuum.

 Nichols, A., 2011. The Shape of Catholic Theology. London: T&T Clark.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org