Septuaginta dan Kitab-Kitab Deuterokanonika

Septuaginta dan Kitab-Kitab Deuterokanonika
Magisterium bukanlah sumber wahyu, melainkan pelayan yang otentik dalam menafsirkan wahyu yang disampaikan melalui Sacred Scripture (Kitab Suci) dan Sacred Tradition (Tradisi Suci) - Dei Verbum. Ist.

Oleh Sr. Felicia Tesalonika

Bagaimana Gereja Katolik Memahami Kitab Suci dan Otoritasnya

Perbedaan jumlah kitab dalam Alkitab sering menjadi pintu masuk kebingungan. Banyak orang memulainya dengan perbandingan angka. 

Empat puluh enam atau tiga puluh sembilan. Tujuh puluh tiga atau enam puluh enam. Padahal persoalan sesungguhnya tidak terletak pada angka. Persoalannya terletak pada: bagaimana Gereja Katolik memahami dan memposisikan Kitab Suci itu sendiri

Dalam iman Katolik, Kitab Suci tidak pernah berdiri sendiri. Ia tidak jatuh dari langit sebagai sebuah daftar final. Kitab Suci lahir di dalam Gereja. Dikenali oleh Gereja. Dijaga oleh Gereja. Prinsip ini bukan pendapat pribadi. Prinsip ini adalah ajaran resmi Gereja Katolik yang diwarisi dan dihidupi dalam komunio tanpa jeda putus.

Dunia Tempat Gereja Lahir

Untuk memahami Septuaginta, kita harus kembali ke dunia abad pertama. Dunia tempat Gereja lahir bukan dunia modern yang serba nasional dan monolingual. Dunia itu kosmopolitan. Terhubung. Multibahasa. Bahasa Yunani menjadi bahasa bersama.

Yesus hidup sebagai orang Yahudi. Para rasul adalah orang Yahudi. Namun ketika Injil mulai diberitakan ke luar Palestina, bahasa Yunani menjadi alat utama pewartaan. Injil ditulis dalam bahasa Yunani. Surat-surat Paulus juga. Kisah Para Rasul pun demikian.

Maka pertanyaan yang masuk akal adalah ini.

Kitab Suci Perjanjian Lama versi apa yang digunakan Gereja awal?

Jawabannya jelas: Septuaginta

Septuaginta sebagai Kitab Suci Gereja Awal

Septuaginta adalah terjemahan Kitab Suci Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani. Terjemahan ini sudah ada jauh sebelum kelahiran Yesus. Ia digunakan secara luas oleh komunitas Yahudi diaspora.

Gereja Katolik secara resmi mengakui fakta ini. Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Gereja, sejak awal, menerima terjemahan Yunani kuno Perjanjian Lama yang disebut Septuaginta sebagai miliknya sendiri (Holy See, 1965).

Pernyataan ini sangat penting. Gereja tidak berkata “pernah memakai”. Gereja berkata “sejak awal menerima”. Ini bahasa teologis yang kuat. Ini menunjukkan kontinuitas. Bukan adaptasi belakangan.

Dengan Septuaginta inilah Gereja membaca kisah penciptaan. Dengan Septuaginta inilah Gereja mengenal para nabi. Dengan Septuaginta inilah Gereja awal memahami nubuat tentang Mesias.

Kitab-Kitab Deuterokanonika dan Kehidupan Gereja

Di dalam Septuaginta terdapat beberapa kitab yang tidak ditemukan dalam kanon Ibrani yang distandardisasi kemudian. Kitab-kitab ini dikenal dalam tradisi Katolik sebagai Deuterokanonika.

Istilah ini sering gagal-dipahami. Deuterokanonika tidak berarti kitab yang diragukan kebenarannya. Tidak berarti kitab pinggiran. Tidak berarti kitab kelas dua. Istilah ini hanya menandai proses historis pengenalan iman.

Gereja Katolik mengakui kitab-kitab ini sebagai Kitab Suci sepenuhnya. Kitab-kitab ini dibacakan dalam liturgi. Dikutip dalam tulisan para Bapa Gereja. Didoakan oleh umat. Dihidupi dalam spiritualitas Gereja.

Katekismus Gereja Katolik menyatakan dengan tegas bahwa kanon Kitab Suci mencakup 46 kitab Perjanjian Lama. Daftar ini ditentukan melalui Tradisi Apostolik (Holy See, 1997).

Artinya, keberadaan kitab-kitab Deuterokanonika bukanlah penyimpangan. Melainkan bagian dari warisan iman Gereja.

Mengapa Gereja Memiliki Otoritas

Pertanyaan kunci berikutnya adalah ini: Siapa yang berhak menentukan kanon?

Dalam iman Katolik, jawabannya jelas: Gereja

Bukan karena Gereja ingin berkuasa. Tetapi karena Kristus sendiri mempercayakan pewartaan Injil kepada para rasul. Dan para rasul mewariskan tugas itu kepada para penerus mereka.

Katekismus menegaskan bahwa melalui Tradisi Apostolik, Gereja mengenali tulisan-tulisan mana yang sungguh diilhami oleh Roh Kudus dan termasuk dalam Kitab Suci (Holy See, 1997).

Ini berarti kanon Kitab Suci bukan hasil penelitian akademik semata. Kanon adalah hasil discernment rohani Gereja yang hidup dalam doa, liturgi, dan pewartaan.

Konsili Trente sebagai Penegasan, Bukan Inovasi

Ketika perbedaan pandangan tentang kanon muncul secara tajam pada abad ke-16, Gereja Katolik tidak menciptakan daftar baru. Gereja menegaskan kembali apa yang telah hidup dalam Tradisi.

Konsili Trente menetapkan daftar kitab kanonik secara resmi. Termasuk kitab-kitab Deuterokanonika. Dekret ini menegaskan bahwa kitab-kitab tersebut telah diterima dan digunakan dalam Gereja (Holy See, 1546).

Dekret ini kemudian dimasukkan dalam teks resmi Kitab Suci Gereja Katolik, yaitu Nova Vulgata. Hingga hari ini, daftar itu tetap menjadi rujukan kanonik Gereja.

Magisterium Modern dan Dialog Kitab Suci

Gereja Katolik modern tidak menutup mata terhadap kompleksitas sejarah Kitab Suci. Dokumen Komisi Kitab Suci Kepausan menjelaskan bahwa perbedaan kanon antara Gereja Katolik dan Yudaisme Rabinik mencerminkan tradisi penerimaan yang berbeda, bukan kesalahan iman (Pontifical Biblical Commission, 2002).

Dokumen ini menunjukkan sikap Gereja yang dewasa. Jujur secara historis. Teguh secara teologis.

Septuaginta bukan sekadar terjemahan kuno. Ia adalah Kitab Suci Gereja awal. Kitab-kitab Deuterokanonika bukan sisipan. Ia adalah bagian dari Tradisi hidup Gereja.

Perbedaan kanon tidak dapat dipahami tanpa memahami otoritas Gereja Katolik. Gereja tidak berdiri di atas Kitab Suci. Gereja berdiri bersama Kitab Suci. Dalam terang Tradisi dan bimbingan Roh Kudus.

Memahami hal ini membantu kita membaca Alkitab Katolik dengan lebih utuh. Lebih tenang. Lebih berakar dalam iman Gereja.

Daftar Pustaka

Holy See (1546) Decretum de Canonici Scripturis, Council of Trent. Vatican.va.

[https://www.vatican.va/archive/bible/nova_vulgata/documents/nova-vulgata_appendix_decretum-can-script_lt.html](https://www.vatican.va/archive/bible/nova_vulgata/documents/nova-vulgata_appendix_decretum-can-script_lt.html)

Holy See (1965) Dei Verbum: Dogmatic Constitution on Divine Revelation, Second Vatican Council. Vatican.va.

[https://www.vatican.va/archive/hist_councils/ii_vatican_council/documents/vat-ii_const_19651118_dei-verbum_en.html](https://www.vatican.va/archive/hist_councils/ii_vatican_council/documents/vat-ii_const_19651118_dei-verbum_en.html)

Holy See (1997) Catechism of the Catholic Church, Canon of Scripture. Vatican.va.

[https://www.vatican.va/content/catechism/en/part_one/section_one/chapter_two/article_3/iv_the_canon_of_scripture.html](https://www.vatican.va/content/catechism/en/part_one/section_one/chapter_two/article_3/iv_the_canon_of_scripture.html)

Pontifical Biblical Commission (2002) The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible. Vatican.va.

[https://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/pcb_documents/rc_con_cfaith_doc_20020212_popolo-ebraico_en.html](https://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/pcb_documents/rc_con_cfaith_doc_20020212_popolo-ebraico_en.html)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org