Agatha Kim A-Gi: Santa dari Korea

Santa Agatha Kim A-Gi
Santa Agatha Kim A-Gi. Sumber gambar: https://asiancatholicwoman.substack.com/p/st-agatha-kim-a-gi
Oleh Sr. Petronela Sui Chiang

Agatha Kim A-Gi hidup di negeri Ginseng dan wafat pada 1839. Korea ketika itu berada dalam masa penganiayaan sistematis terhadap umat Katolik. Kekristenan dianggap ancaman politik dan budaya. Menjadi Katolik berarti memilih jalan sunyi yang berakhir pada penjara atau kematian. Kim A-Gi menempuh jalan itu!

Sejarah sering pelit soal wajah. Ia memberi tanggal. Memberi tempat. Memberi nama. Tetapi tidak selalu memberi rupa. 

Santa Agatha Kim A-Gi hidup dalam kenyataan itu. Ia tokoh nyata. Nama dan kematiannya tercatat. Kesaksiannya dikenang. Namun wajahnya tidak pernah dipotret. Bukan karena dilupakan. Melainkan karena zaman memang belum menyediakan kemungkinan itu.

Antara Wajah yang Dicari dan Kebenaran yang Dijaga

Agatha Kim A-Gi hidup dan wafat pada 1839. Korea saat itu berada dalam masa penganiayaan sistematis terhadap umat Katolik. Kekristenan dianggap ancaman politik dan budaya. 

Menjadi Katolik berarti memilih jalan sunyi yang berakhir pada penjara atau kematian. Dalam konteks seperti itu. Tidak ada ruang untuk potret diri. Tidak ada dokumentasi visual personal. Yang ada hanyalah ingatan komunitas iman.

Baca juga Adalbert dari Prague

Kim A-Gi berasal dari keluarga sederhana. Masuk Katolik lewat relasi keluarga. Belajar iman dalam keterbatasan. Bahkan menurut kesaksian sejarah Gereja. Ia tidak menguasai ajaran secara sistematis. Namun ketika dihadapkan pada penyiksaan dan interogasi. Ia menolak menyangkal iman. Ia mengucapkan kalimat yang kemudian dikutip Gereja sebagai bentuk iman yang paling telanjang. Ia hanya tahu Yesus dan Maria. Tidak lebih. Tidak kurang.

Di situlah sejarah berhenti menjadi kronik. Ia berubah menjadi kesaksian.

Soal Gambar. Antara Fakta dan Devosi

Pertanyaan tentang wajah Santa Agatha Kim A-Gi muncul wajar. Zaman visual menuntut representasi. Orang ingin melihat. Ingin membayangkan. Ingin mendekat melalui rupa. Namun di titik inilah kejujuran sejarah dan iman Katolik harus ditegakkan.

Tidak ada foto Santa Agatha Kim A-Gi. Tidak pernah ada. Semua gambar yang beredar hari ini adalah karya seni devosional. Lukisan. Ilustrasi. Ikon. Bukan potret historis. Ini bukan kekurangan. Ini fakta.

Baca juga Sesilia, Musik yang Mengalun dari Sunyi Roma

Lalu gambar mana yang paling mendekati kebenaran. Jawabannya bukan pada detail wajah. Melainkan pada otoritas dan niat sumbernya. Representasi yang paling dapat dipertanggungjawabkan adalah gambar yang digunakan oleh Gereja Katolik Korea sendiri. Terutama yang diterbitkan dan dipakai oleh Catholic Bishops’ Conference of Korea dan Keuskupan Agung Seoul dalam konteks peringatan 103 Martir Korea.

Di sana. Santa Agatha Kim A-Gi tidak ditampilkan sebagai figur individual yang menonjol. Ia hadir sebagai bagian dari komunitas martir. Setara. Sederhana. Tanpa dramatisasi. Tanpa romantisasi penderitaan. Ini penting. Gereja tidak sedang menjual wajah. Gereja sedang menjaga ingatan iman.

Gambar-gambar dari situs devosional nonresmi bisa indah. Bisa menyentuh. Namun tetap harus dibaca sebagai interpretasi. Bukan sebagai fakta visual. Gereja Katolik tidak pernah mengklaim bahwa lukisan para santo adalah foto yang terlambat diambil. Gereja tahu batasnya. Dan justru di situlah integritasnya.

Ikonografi Katolik dan Etika Kebenaran

Dalam tradisi Katolik. gambar bukan sekadar hiasan. Ia adalah bahasa iman. Ikonografi bekerja bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu biologis. Melainkan untuk mengarahkan batin. Karena itu. Gereja lebih berhati-hati daripada budaya populer yang gemar menciptakan wajah pasti untuk tokoh-tokoh suci.

Ikon tidak berkata. Beginilah wajahnya secara persis. Ikon berkata. Inilah makna hidupnya. Inilah sikap batinnya. Inilah kesaksiannya. Dalam konteks ini. wajah Santa Agatha Kim A-Gi dalam lukisan resmi Gereja Korea mencerminkan ketenangan. Kesederhanaan. Keteguhan. Tidak ada heroisme berlebihan. Tidak ada estetika penderitaan.

Ini sejalan dengan teologi martir. Martir bukan pahlawan tragedi. Martir adalah saksi. Ia tidak mati untuk menunjukkan keberanian pribadi. Ia mati karena tidak mau memutus relasi dengan Kristus. Itu saja.

Karena itu. ketika Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasi 103 Martir Korea pada 1984 di Seoul. Gereja tidak mengangkat satu figur lebih tinggi dari yang lain. Semua berdiri dalam satu barisan iman. Termasuk Agatha Kim A-Gi. Perempuan biasa. Dengan iman luar biasa.

Wajah yang Tidak Diperlukan untuk Percaya

Pada akhirnya. pencarian wajah Santa Agatha Kim A-Gi membawa kita pada refleksi yang lebih dalam. Apakah iman membutuhkan visual yang pasti. Atau justru hidup dari kesaksian yang tidak terlihat.

Santa Agatha Kim A-Gi mengajarkan sesuatu yang relevan bagi zaman ini. Di tengah budaya yang menuntut bukti visual untuk segala hal. Ia hadir tanpa wajah yang pasti. Namun dengan iman yang sangat jelas. Ia tidak meninggalkan potret. Tetapi ia meninggalkan keberanian. Ia tidak meninggalkan gambar. Tetapi ia meninggalkan kalimat yang hidup hingga hari ini.

Dalam tradisi Katolik. kekudusan tidak diukur dari seberapa jelas wajah seseorang diingat. Tetapi seberapa dalam relasinya dengan Allah. Santa Agatha Kim A-Gi dikenal bukan karena rupa. Melainkan karena kesetiaan sampai mati.

Barangkali karena kita tidak tahu wajahnya secara persis, Kim A-Gi menjadi lebih dekat. Ia tidak terikat pada satu bentuk. Ia bisa mewakili banyak orang kecil yang tidak pernah difoto sejarah. Perempuan. Orang sederhana. Mereka yang imannya besar tetapi namanya kecil.

Di situlah iman Katolik bekerja dengan tenang. Tidak memaksakan visual. Tidak memalsukan fakta. Tidak mengklaim lebih dari yang diketahui. Gereja menjaga kebenaran. Bahkan ketika kebenaran itu berkata. Kami tidak tahu wajahnya.

Baca juga Bapa Gereja dan Pujangga Gereja dalam Tradisi Katolik

Dalam kejujuran itu. Santa Agatha Kim A-Gi tetap berdiri sebagai santa. Tanpa foto. Tanpa potret. Namun dengan martabat iman yang utuh.

Homili Paus Yohanes Paulus II bagi para Martir Korea, 1984

Perkembangan Gereja di Korea yang begitu gemilang pada masa kini sungguh merupakan buah dari kesaksian heroik para Martir. Bahkan hingga hari ini, semangat mereka yang tak pernah padam menopang umat Kristiani dalam Gereja yang diam di wilayah utara negeri yang tragisnya terbelah ini.

Kunjungi dan baca MASS FOR THE CANONIZATION OF KOREAN MARTYRS HOMILY OF POPE JOHN PAUL II Youido Place - Seoul Sunday, 6 May 1984

Maka pada hari ini, saya, sebagai Uskup Roma dan Penerus Santo Petrus di Takhta Apostolik itu, diberi rahmat untuk ambil bagian dalam Yubileum Gereja di tanah Korea. Selama beberapa hari saya telah berada di tengah-tengah Anda sebagai seorang peziarah, melaksanakan sebagai Uskup dan Paus pelayanan saya kepada putra-putri bangsa Korea yang terkasih. Liturgi hari ini merupakan puncak dari pelayanan pastoral tersebut.

Sebab, melalui Liturgi Kanonisasi ini, para Martir Korea yang Terberkati dicatat dalam daftar Para Kudus Gereja Katolik. Mereka adalah putra-putri sejati bangsa Anda, dan mereka disertai oleh sejumlah misionaris dari negeri-negeri lain. Mereka adalah leluhur Anda menurut daging, bahasa, dan budaya. Sekaligus, mereka adalah bapa dan ibu Anda dalam iman, iman yang mereka saksikan dengan penumpahan darah mereka....

Sumber rujukan:

https://asiancatholicwoman.substack.com/p/st-agatha-kim-a-gi

https://www.vatican.va/content/john-paul-ii/en/homilies/1984/documents/hf_jp-ii_hom_19840506_martiri-coreani.html?utm_source=chatgpt.com

https://cbck.or.kr/koreanmartyrs/?utm_source=chatgpt.com

https://id.wikipedia.org/wiki/Agatha_Kim_A-gi?utm_source=chatgpt.com


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org