Saat Tuhan Bekerja Lewat Tangan Sesama
| Tuhan bekerja lewat tangan manusia. Realistik. Ist. |
Setiap pagi, sebelum dunia benar-benar terbangun, seorang gadis berusia lima belas tahun telah lebih dahulu membuka matanya. Bukan untuk memeriksa media sosial, bukan pula untuk mengejar hiruk-pikuk yang menunggu di luar sana. Tangannya meraih telepon genggam sederhana yang tergeletak di samping bantal.
Di layar itulah ia membuka Kitab Suci digital, satu-satunya cara yang ia miliki untuk menyapa Tuhan melalui firman-Nya.
Ia membaca perlahan. Tidak tergesa. Setiap ayat seolah ingin ia simpan lebih lama di dalam hati daripada di dalam ingatan. Sesudahnya, ia diam beberapa menit. Merenung. Membiarkan kata-kata itu mengendap menjadi bekal untuk menjalani hari. Kadang-kadang lagu-lagu rohani mengalun pelan dari telepon genggamnya, menjadi jeda yang menenangkan di antara lembar-lembar bacaan yang ia telusuri.
Baginya, semua itu bukan sekadar rutinitas pagi. Itulah ruang tempat hatinya berteduh sebelum berhadapan dengan dunia.
Ada pagi-pagi tertentu ketika air mata jatuh tanpa ia undang. Bukan karena hidup selalu mudah, melainkan karena firman Tuhan seolah sedang berbicara langsung kepadanya. Ada ayat yang menyentuh luka yang bahkan belum sempat ia ceritakan kepada siapa pun. Ada kalimat yang menguatkan ketika ia merasa lelah. Dalam tangis yang sunyi itu, ia justru merasa tidak sendirian.
Namun, jauh di dalam hati, tersimpan sebuah keinginan sederhana.
"Andai aku punya Kitab Suci sendiri... pasti aku akan lebih sering membacanya. Aku ingin membuka halamannya, memberi tanda pada ayat yang kusukai, dan membawanya ke mana pun aku pergi."
Keinginan itu tidak lahir dari gengsi memiliki buku baru. Ia hanya ingin merasakan kedekatan yang lebih nyata dengan firman Tuhan. Ia ingin mendengar bunyi lembar demi lembar yang dibalik oleh tangannya sendiri, bukan hanya menggulir layar telepon.
Hari demi hari berlalu.
Sampailah pada suatu sore ketika ia datang ke gereja untuk mengikuti gladi koor. Seperti biasa, suasana dipenuhi tawa, percakapan, dan latihan lagu-lagu pujian. Di sela-sela kesibukan itu, ia memberanikan diri menghampiri seorang kakak perempuan yang tergabung dalam tim koor yang sama.
"Kak, ibu kakak masih menjual Kitab Suci? Kalau masih, aku ingin membelinya."
Pertanyaan itu sederhana. Namun ia mengucapkannya dengan harapan yang begitu besar.
Jawaban yang diterimanya justru membuat harapan itu perlahan mengempis.
"Stoknya sudah habis."
Hanya dua kalimat pendek.
Ia tersenyum kecil, mengangguk pelan, lalu berkata bahwa tidak apa-apa. Memang tidak ada tangis. Tidak ada keluhan. Tetapi di dalam hati, ia merasakan sedikit ruang yang mendadak kosong. Rupanya, hari itu bukan waktunya.
Ia memilih menerima.
Mungkin nanti, pikirnya. Mungkin Tuhan punya waktu yang lebih baik.
Beberapa hari kemudian, tibalah giliran tim mereka bertugas mengiringi Misa. Semua berjalan seperti biasa hingga seusai pelayanan, kakak perempuan itu menghampirinya.
"Aku ada sesuatu buat kamu."
Gadis itu menoleh, belum mengerti.
Dari sebuah tas, kakak itu mengeluarkan sebuah Kitab Suci.
"Ini untukmu."
Sesaat dunia seakan berhenti bergerak.
Matanya membulat. Bibirnya sulit mengucapkan apa pun selain rasa tak percaya.
"Berapa, Kak? Nanti aku bayar."
Kakak itu hanya tersenyum.
"Tidak usah. Ini memang untuk kamu."
Kalimat itu sederhana. Namun bagi gadis lima belas tahun itu, rasanya jauh lebih besar daripada harga sebuah buku.
Tangannya menerima Kitab Suci itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga. Jemarinya mengusap sampulnya perlahan. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Dadanya dipenuhi rasa syukur. Matanya kembali berkaca-kaca, tetapi kali ini bukan karena sedih.
Ia merasa Tuhan baru saja menjawab doa yang bahkan lebih sering ia simpan di dalam hati daripada ia ucapkan dengan kata-kata.
Di tengah riuh orang-orang yang mulai meninggalkan gereja, ia memeluk Kitab Suci itu erat. Dalam diam, ia berbisik,
"Terima kasih, Tuhan."
Mungkin, bagi sebagian orang, kisah ini hanyalah tentang seorang anak yang mendapatkan sebuah Kitab Suci secara cuma-cuma. Tidak lebih.
Namun, bagi gadis itu, Tuhan sedang mengajarkan bahwa Ia tidak pernah mengabaikan kerinduan yang tulus. Tidak semua doa dijawab dengan segera, tetapi tidak satu pun yang luput dari perhatian-Nya.
Sejak hari itu, setiap pagi ia tidak lagi hanya membuka layar telepon genggam. Kini ada sebuah Kitab Suci yang menemaninya. Lembar demi lembar ia buka dengan penuh hormat. Beberapa ayat mulai ia beri tanda. Beberapa halaman bahkan menyimpan tetes air mata yang pernah jatuh saat ia merenungkannya.
Ia akhirnya mengerti, iman tidak selalu bertumbuh melalui peristiwa-peristiwa besar yang menggemparkan. Kadang-kadang, iman justru diteguhkan lewat hal-hal sederhana yang datang tepat pada waktunya.
Karena ketika Tuhan bekerja, yang kecil pun mampu menghadirkan sukacita yang begitu besar bagi hati yang percaya.
PenulisL Marsia Rasti Seny