Meluruskan Logika Keliru tentang Maria

Meluruskan Logika Keliru tentang Maria
Oleh P Jack Dambe Cjd

Saudara “Richman Walking”, ini cukup menggelikan: Anda menyuruh orang Katolik “pakai logika”, tetapi ironisnya, logika yang Anda gunakan justru tampak tidak konsisten.
Meski demikian, baiklah, mari kita uji sejauh mana argumentasi Anda dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

1. Logika keliru: “Mengapa bukan Maria saja yang disalib?”

“Kalau murni, buat apa Tuhan turun? Salibkan saja Maria.”

Argumen ini tidak tepat secara teologis maupun filosofis. Ini seperti menyamakan ciptaan dengan Sang Pencipta dalam hal nilai penebusan.

Dalam teologi Katolik, dosa manusia terhadap Allah yang tak terbatas menimbulkan konsekuensi yang bersifat tak terbatas pula. Santo Thomas Aquinas menegaskan bahwa Maria adalah creatura (makhluk ciptaan) dengan kodrat terbatas (finite). Sebagai ciptaan, se-suci apa pun ia, ia tidak memiliki kapasitas ilahi untuk menanggung penebusan dosa seluruh umat manusia.

Menjadikan Maria sebagai penebus dunia secara logis tidak memadai, karena nilai kurban harus sepadan dengan realitas dosa yang ditanggung. Oleh sebab itu, hanya Pribadi Ilahi, yaitu Sabda yang menjadi manusia dalam misteri Inkarnasi (persatuan hipostatik / hypostatic union), yang dapat memberikan kurban bernilai tak terbatas bagi keselamatan umat manusia.

2. Kekeliruan logika: “Berarti ada yang tidak berdosa selain Yesus?

“Kalau Maria tanpa dosa sejak lahir (Immaculate Conception), berarti ia menyamai Yesus dan tidak membutuhkan keselamatan.”

Pandangan ini kurang tepat dalam memahami konsep keselamatan dalam teologi Katolik.

Dalam doktrin Katolik, Maria tetap adalah manusia yang diselamatkan oleh Kristus. Perbedaannya terletak pada cara keselamatannya diberikan. St. Yohanes Duns Scotus menjelaskan konsep penebusan preventif: umat manusia pada umumnya diselamatkan setelah jatuh ke dalam dosa, sedangkan Maria diselamatkan oleh rahmat Kristus sebelum jatuh ke dalam dosa asal.

Dengan kata lain, Kristus tetap satu-satunya sumber keselamatan. Maria diselamatkan oleh karya Kristus yang berlaku secara melampaui waktu, sehingga ia dipelihara agar tidak jatuh ke dalam dosa.

Hal ini selaras dengan Lukas 1:47, di mana Maria berkata: “Jiwaku memuliakan Tuhan, Juru Selamatku.” Ini menunjukkan bahwa Maria sendiri mengakui bahwa ia diselamatkan oleh Allah.

Kesalahan utama dalam argumen tersebut adalah tidak membedakan antara sumber keselamatan (Kristus) dan cara penerapan keselamatan dalam diri seseorang.

3. Kekeliruan historis: “Buang saja Alkitabmu!

“Alkitab tidak mendukung Bunda Maria.”

Pernyataan ini mengabaikan fakta sejarah kanonisasi Kitab Suci. Gereja perdana, melalui Konsili Hippo (393 M) dan Konsili Kartago (397 M), yang menetapkan daftar kitab-kitab yang kemudian menjadi Alkitab Perjanjian Baru.

Karena itu, secara historis, Gereja Katolik memiliki peran penting dalam penyusunan kanon Kitab Suci jauh sebelum munculnya berbagai tradisi gereja pasca-Reformasi.

Dalam Lukas 1:28, malaikat berkata kepada Maria:

“Χαῖρε, κεχαριτωμένη” (Chaire, kecharitōmenē).

Istilah kecharitōmenē merupakan bentuk perfect passive participle dalam bahasa Yunani Koine, yang menunjukkan keadaan rahmat yang telah diberikan secara penuh dan berkelanjutan.  Hal ini sering dipahami dalam teologi Katolik sebagai tanda keistimewaan rahmat Allah yang bekerja secara sempurna dalam diri Maria.

Penutup

Menutup dengan emosi atau ejekan tidak akan memperkuat argumen apa pun. Diskusi teologis menuntut ketelitian konsep, bukan sekadar retorika.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org