Tidak Menghormati Maria di atas Semua Manusia: Mengingkari Misteri Inkarnasi dan Menolak Maria sebagai Theotokos
| Kepada Maria diberikan hyperdulia, yaitu penghormatan tertinggi di antara semua makhluk, tetapi tetap bukan penyembahan. Non-Katolik gagal paham atau sengaja tidak mau paham. Ist. |
Tanpa Maria, Inkarnasi berubah menjadi konsep teologis tanpa sejarah. Tanpa Maria, Kristus kehilangan akar manusiawinya. Menolak Maria sebagai Theotokos bukan sekadar menolak satu gelar devosi, melainkan mengoyak jantung iman kristiani, sebab di sanalah Gereja menjaga pengakuan bahwa Allah sungguh menjadi manusia dalam misteri inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah melalui rahim seorang perempuan.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang kristiani rajin menyebut nama Kristus, namun kikuk ketika berbicara tentang Maria. Ada kegelisahan tersembunyi. Seolah-olah menghormati Maria akan mengaburkan kemuliaan Kristus. Padahal justru sebaliknya.
Dalam ajaran iman Katolik, menghormati Maria adalah konsekuensi logis dari iman akan Inkarnasi. Menolak penghormatan itu bukan sikap netral. Ia menyentuh jantung iman kristiani. Ia menyentuh cara Allah masuk ke dalam sejarah manusia.
Tulisan ini berpijak hanya pada ajaran resmi Magisterium Gereja Katolik. Tidak lebih, tidak kurang. Dan dari sana akan tampak satu kesimpulan tegas: tidak menghormati Maria di atas semua manusia berarti mengingkari Misteri Inkarnasi dan menolak Maria sebagai Theotokos, Bunda Allah.
Maria dan Misteri Inkarnasi
Iman kristiani berdiri di atas satu pengakuan mendasar: Sabda itu telah menjadi daging (Yoh. 1:14). Allah tidak hanya mendekati manusia dari kejauhan. Ia masuk ke dalam sejarah. Ia lahir. Ia memiliki tubuh. Ia mengambil daging dari seorang perempuan.
Inkarnasi bukan ide metafisik. Inkarnasi adalah peristiwa konkret. Di sana ada rahim. Ada darah. Ada tubuh. Dan nama perempuan itu adalah Maria.
Konsili Efesus tahun 431 dengan tegas menyatakan Maria sebagai Theotokos. Gelar ini bukan hiasan devosi. Ia adalah pernyataan kristologis. Gereja menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu pribadi ilahi dengan dua kodrat, ilahi dan manusiawi. Karena itu, yang dilahirkan Maria bukan sekadar manusia Yesus, melainkan Pribadi Yesus Kristus yang adalah Allah sejati.
Menolak Maria sebagai Theotokos berarti membelah Kristus. Itulah yang ditolak Gereja sejak awal. Maka penghormatan kepada Maria tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait langsung dengan pengakuan iman akan Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia.
Paus Pius XII menegaskan bahwa Maria berdiri di pusat sejarah keselamatan, bukan sebagai sumber keselamatan, melainkan sebagai pintu masuknya Allah ke dalam sejarah manusia (Fulgens Corona).
Kehormatan kepada Maria dan Martabat Manusia
Menghormati Maria bukan mengangkat manusia melampaui Allah. Justru sebaliknya. Dalam Maria, Allah meninggikan martabat manusia. Ia menunjukkan bahwa keselamatan tidak dijalankan dengan paksaan, melainkan dengan persetujuan bebas manusia.
Fiat Maria, “jadilah padaku menurut firman-Mu”, adalah momen paling menentukan dalam sejarah manusia setelah penciptaan. Allah menunggu jawaban manusia. Dan manusia itu adalah Maria.
Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium menegaskan bahwa peran Maria bersumber dari kehendak Allah sendiri. Ia bukan kebetulan sejarah. Ia dipilih, dipersiapkan, dan dipenuhi rahmat agar dapat menjadi Bunda Penebus.
Karena itu, menghormati Maria berarti menghormati karya rahmat Allah yang bekerja dalam diri manusia. Menolak penghormatan itu sering kali berakar pada ketakutan yang keliru, seolah-olah rahmat Allah akan mengurangi kemuliaan Allah sendiri. Padahal dalam iman Katolik, kemuliaan Allah justru tampak ketika manusia diangkat oleh rahmat-Nya.
Theotokos dan Otoritas Magisterium
Gelar Theotokos adalah salah satu titik paling menentukan dalam sejarah dogma. Gereja tidak merumuskannya untuk memuliakan Maria semata, melainkan untuk melindungi iman akan Kristus.
Nestorius ingin memisahkan yang ilahi dan yang manusiawi dalam diri Kristus. Gereja menolak. Sebab jika Kristus terbelah, maka keselamatan pun runtuh. Maria disebut Theotokos karena yang dikandung dan dilahirkannya adalah Pribadi ilahi yang mengambil kodrat manusia.
Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa Maria sungguh menjadi Bunda Allah karena Putranya adalah Allah sejak kekal. Ini bukan logika emosional, melainkan logika iman Gereja.
Paus Benediktus XVI menulis bahwa Maria tidak pernah berdiri di luar misteri Kristus. Ia berada di dalamnya. Ia adalah cermin yang memantulkan misteri itu secara manusiawi (Deus Caritas Est).
Devosi Maria dan Kesalahpahaman
Gereja tidak menutup mata terhadap bahaya devosi yang menyimpang. Devosi yang terlepas dari Kristus akan kehilangan jiwanya. Namun Gereja juga menegaskan bahwa devosi yang benar kepada Maria selalu bersifat kristosentris.
Paus Pius XII mengingatkan bahwa penghormatan kepada Maria harus berada dalam terang iman Gereja dan tidak pernah menggantikan penyembahan kepada Allah (Ad Caeli Reginam).
Maria tidak pernah menunjuk dirinya sendiri. Di Kana, ia berkata, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu” (Yoh. 2:5). Kalimat ini adalah ringkasan seluruh teologi Maria. Ia selalu mengarahkan kepada Kristus.
Maria sebagai Citra Gereja
Lumen Gentium menyebut Maria sebagai gambaran Gereja yang paling murni. Gereja dipanggil untuk mendengarkan Sabda, mengandungnya dalam iman, dan melahirkannya dalam tindakan. Itulah yang lebih dahulu terjadi dalam diri Maria.
Dengan demikian, menyingkirkan Maria dari iman kristiani berarti mengosongkan Gereja dari model konkretnya. Iman menjadi abstrak. Keselamatan menjadi ide. Inkarnasi kehilangan dagingnya.
Maria mengajarkan bahwa iman bukan hanya pengakuan lisan, melainkan penyerahan diri total kepada kehendak Allah, bahkan ketika masa depan tidak sepenuhnya dimengerti.
Menghormati Maria, Menjaga Inkarnasi
Menghormati Maria di atas semua manusia bukan sikap berlebihan. Ia adalah konsekuensi iman akan Allah yang sungguh menjadi manusia.
Tanpa Maria, Inkarnasi berubah menjadi konsep teologis tanpa sejarah. Tanpa Maria, Kristus kehilangan akar manusiawinya.
Gereja menghormati Maria bukan karena ia menggantikan Kristus, melainkan karena di dalam dirinya, Kristus sungguh masuk ke dunia. Menolak penghormatan itu berarti mengaburkan cara Allah menyelamatkan manusia.
Maria adalah manusia yang paling dekat dengan misteri Allah karena Allah sendiri memilih untuk mendekat melalui dirinya. Dan di situlah iman Katolik berdiri dengan tenang, jernih, dan penuh syukur.
Daftar Pustaka
Konsili Efesus (431), Definisi Dogmatis tentang Theotokos.
Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, 1964.
Katekismus Gereja Katolik, 1992, art. 487–511.
Paus Pius XII, Fulgens Corona, 1954.
Paus Pius XII, Ad Caeli Reginam, 1954.
Paus Benediktus XVI, Deus Caritas Est, 2005.
Kitab Suci, Injil Lukas 1–2; Yohanes 1.