Yonathan Christie dan Tanda Salib di Lapangan Bulutangkis


Yonathan Kristie dan tanda salib itu
Yonathan Christie dan tanda salib itu. Sumber gambar: capture video siaran langsung pertandingan bulutangkis.

Oleh Rangkaya Bada

Tanda salib Jonatan Christie di lapangan bulutangkis adalah contoh kecil bagaimana simbol bekerja di ruang publik. Ia tidak menjelaskan dirinya. Ia tidak meminta persetujuan. Ia hanya hadir. Dan justru karena itu, ia perlahan dipahami.

Di sebuah lapangan bulutangkis yang diterangi cahaya lampu dan sorak penonton, Jonatan Christie berdiri. Ia atlet. Ia profesional. Ia tahu kamera mengarah ke mana. Ia tahu setiap geraknya bisa ditafsirkan. 

Namun sebelum pertandingan dimulai, atau sesudah poin penting diraih, ia melakukan satu hal yang tampak biasa bagi dirinya, tetapi sering mengundang tanya bagi orang lain. Ia membuat tanda salib.

Gerak itu cepat. Hampir refleks. Namun justru di situlah letak maknanya. Ia bukan atraksi. Ia bukan pesan verbal. Ia adalah kebiasaan batin yang keluar secara alami. Dan karena itulah, ia menjadi menarik untuk dibaca.

Mengapa orang Katolik membuat tanda salib?

Tanda salib dalam tradisi Katolik bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Ia adalah rumusan iman yang paling singkat dan paling padat. Dalam satu gerak tubuh, seseorang mengakui Allah Tritunggal. Bapa. Putra. Roh Kudus. Satu hakikat. Tiga pribadi. Sebuah misteri yang tidak dijelaskan, melainkan diimani.

Orang Katolik membuat tanda salib bukan untuk memamerkan iman, tetapi justru untuk mengingatkan diri sendiri. Bahwa hidup tidak berdiri sendiri. Bahwa apa pun yang dilakukan, bahkan yang paling duniawi sekalipun, tetap berada di bawah terang ilahi. Tanda salib adalah doa yang tidak diucapkan. 

Pengakuan yang tidak diteriakkan. Ia adalah cara tubuh ikut berdoa ketika kata-kata tak lagi diperlukan.

Di situ iman tidak tinggal di kepala. Ia turun ke tangan. Ke dada. Ke seluruh tubuh. Itulah sebabnya tanda salib selalu hadir di awal dan akhir. Di awal pekerjaan. Di akhir usaha. Sebagai pengakuan bahwa manusia memulai dengan Tuhan, dan kembali kepada Tuhan.

Siapa Yonathan Christie?

Jonatan Christie lahir pada 15 September 1997. Di Jakarta. Di waktu bulu tangkis Indonesia sedang mencari kembali nadinya. 

Nama lengkapnya Leonardus Jonatan Christie. Publik memanggilnya: Jonatan. Atau Jojo. Singkat. Ringkas. Seperti pukulan-pukulannya di lapangan.

Jonatan memilih jalan sunyi. Tunggal putra. Jalan yang menuntut kesabaran. Daya tahan. Dan keteguhan batin. Ia bernaung di Tangkas Specs. Klub lama. Tempat disiplin dilatih sejak dini. Dari sana ia belajar satu hal penting: kemenangan bukan hanya soal tenaga, tetapi tentang menata hati di tengah tekanan.

Tahun 2017. Kuala Lumpur. SEA Games. Jonatan berdiri di podium tertinggi. Merah Putih naik perlahan. Setahun kemudian. 2018. Asian Games Jakarta–Palembang. Rumah sendiri. Sorak penonton menggelegar. Ia kembali menang. Seolah sejarah sedang menuliskan namanya dengan tinta yang kian tebal.

Namun hidup atlet tak pernah lurus. Ada kalah. Ada jatuh. Ada hari-hari ketika raket terasa lebih berat dari biasanya. Jonatan tahu itu. Ia mengalaminya. Ia menanggungnya. Ia tidak lari.

Lalu datang 2024. All England. Turnamen tua. Prestisius. Sakral dalam dunia bulu tangkis. Di sana, Jonatan Christie menaklukkan dunia. Ia juara. Bukan hanya menang pertandingan. Ia menang atas dirinya sendiri. Atas ragu. Atas luka-luka lama yang tak selalu terlihat kamera.

Dan sebelumnya. 2020. Thomas Cup. Ia menjadi bagian dari tim Indonesia yang berjaya. Bukan sebagai pahlawan tunggal. Melainkan sebagai satu simpul dari kebersamaan. Dalam bulu tangkis, seperti dalam hidup, kemenangan sering lahir dari kesetiaan pada peran.

Jonatan Christie bukan sekadar atlet. Ia adalah kisah tentang ketekunan. Tentang diam yang bekerja. Tentang doa yang mungkin tak terdengar, tetapi setia menyertai setiap langkah. Di lapangan, ia memukul shuttlecock. Di luar lapangan, ia memukul waktu. Pelan. Konsisten. Dengan keyakinan.

Seperti hidup. Seperti Indonesia. Yang terus belajar bangkit. Titik demi titik. Tanpa gegap gempita. Namun pasti.

Jonatan Christie dikenal sebagai salah satu pilar bulutangkis Indonesia. Ia lahir dari sistem latihan yang keras. Dari disiplin panjang. 

Dari kompetisi yang tidak selalu ramah. Ia bukan atlet yang muncul tiba-tiba. Ia bertumbuh melalui kekalahan. Ia ditempa oleh kegagalan. Ia belajar mengelola ekspektasi publik yang sering kali tak sabar.

Sebagai atlet modern, Jonatan bergerak di dunia yang sangat rasional. Olahraga prestasi menuntut hitungan. Statistik. Strategi. Ketepatan. Tidak ada ruang untuk romantisme berlebihan. Yang ada hanya hasil.

Namun justru di dunia seperti itulah, iman Jonatan menemukan ruangnya sendiri. Ia tidak mengganggu profesionalisme. Ia tidak meniadakan rasionalitas. Ia berjalan berdampingan. Diam. Konsisten.

Jonatan tidak pernah mengklaim dirinya sebagai teladan iman. Ia tidak berbicara panjang tentang agama. Ia hanya melakukan apa yang diyakininya benar. Dan terkadang, kesaksian paling kuat memang lahir dari ketenangan semacam itu.

Jojo bersaksi di lapangan

Kesaksian iman tidak selalu membutuhkan mimbar. Kadang ia cukup hadir di lapangan. Dalam diam. Dalam gestur. Dalam kebiasaan yang jujur.

Ketika Jojo membentuk tanda salib di lapangan bulutangkis, ia sedang mengatakan sesuatu tanpa kata. Bahwa pertandingan ini penting, tetapi bukan segalanya. Bahwa kemenangan layak disyukuri, tetapi tidak boleh disembah. Bahwa kekalahan mungkin menyakitkan, tetapi bukan akhir dari nilai diri.

Lapangan bulutangkis menjadi ruang profan yang disentuh iman. Bukan diubah menjadi ruang ibadah, tetapi dihadirkan sebagai bagian dari hidup yang utuh. Di sana iman tidak mengintervensi teknik. Ia tidak mencampuri strategi. Ia hanya menjaga arah batin.

Dalam dunia yang sering menuntut manusia memecah dirinya menjadi peran-peran terpisah, Jonatan justru menunjukkan keutuhan. Ia atlet sepenuhnya. Dan ia juga orang beriman sepenuhnya. Tidak ada yang perlu disembunyikan. Tidak ada yang perlu dipertentangkan.

 Katolik kaya akan simbol dan ungkapan. Namun sering gagal dipahami orang luar Katolik. Tapi lama-lama mereka paham juga

Tradisi Katolik memang sarat simbol. Tubuh dilibatkan. Ruang disakralkan. Benda-benda diberi makna. Bagi orang luar, semua itu kerap tampak berlebihan. Bahkan mencurigakan. Simbol sering disalahartikan sebagai tujuan, bukan sebagai bahasa.

Padahal simbol bukan pengganti iman. Ia adalah jembatannya. Manusia tidak hidup dari ide-ide murni. Ia hidup dari tanda. Dari gestur. Dari kebiasaan yang diulang dan dihayati. Dalam Katolik, simbol membantu iman tetap membumi.

Tanda salib, simbol bekerja di ruang publik

Tanda salib Jonatan Christie di lapangan bulutangkis adalah contoh kecil bagaimana simbol bekerja di ruang publik. Ia tidak menjelaskan dirinya. Ia tidak meminta persetujuan. Ia hanya hadir. Dan justru karena itu, ia perlahan dipahami.

Mungkin awalnya ditafsirkan keliru. Mungkin sempat dianggap berlebihan. Tetapi waktu selalu memberi jarak untuk memahami. Bahwa di balik simbol itu ada kejujuran. Ada konsistensi. Ada iman yang tidak mencari panggung.

Dan di situlah Katolik sering berbicara paling jelas. Bukan lewat penjelasan panjang. Tetapi lewat tanda-tanda kecil yang setia dijalani. Pelan. Tenang. 

Dan terus mengalir.

Jakarta, 23 Januari 2026
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org