Membaca dan Memahami Tuhan-nya Armstrong dan Kritik terhadap Pengabaian Pewahyuan dan Dogma
| A History of God yang bukan benar-benar sejarah, sebatas klaim yang memancing orang membaca dan membeli. |
Judul buku:
📘 A History of God
Penulis: oleh Karen Armstrong
Tahun terbit: Agustus 1994
Book reviewer: Dr. Laurentius Prasetyo
Sejarah Tuhan. Judul buku yang mengguncang akal-budi. Bisakah manusia, makhluk fana, terbatas oleh ruang dan waktu. menulis sejarah Tuhan yang melampaui substansi yang kekal dan tidak terikat oleh kronologi duniawi? Apakah kata-kata manusia mampu menampung jejak Ilahi yang abadi. atau justru kita hanya mencatat pantulan cahaya-Nya di tengah kegelapan pengetahuan kita?
Dalam tradisi Gereja Katolik, studi mengenai Tuhan (theologia) tidak sekadar sejarah gagasan, melainkan pemahaman terhadap pewahyuan ilahi yang konsisten dan tidak berubah.
Teologi Katolik berangkat dari pewahyuan itu sendiri yang tertuang dalam Kitab Suci, Tradisi Kudus, dan dijaga serta diajarkan oleh Magisterium Gereja bukan sekadar narasi perkembangan ide sepanjang sejarah.
Karen Armstrong, seorang penulis sejarah agama dan mantan biarawati, menyajikan karya A History of God sebagai narasi evolusi konsep Tuhan dalam tiga tradisi monoteistik utama: Yudaisme, Kekristenan, dan Islam, dari milenia pertama hingga modern. Ini merupakan usaha besar dan ambisius dalam memahami jejak ide ketuhanan di dunia manusia.
Namun, sebagai teolog Katolik yang berpegang pada ajaran Gereja, kita harus mengajukan serangkaian analisis kritis: bagaimana buku ini menempatkan Tuhan, bagaimana menilai narasi sejarahnya, dan di mana letak kontrasnya dengan pengajaran Katolik klasik serta ajaran para Bapa Gereja seperti Santo Augustinus dan Santo Thomas Aquinas.
Tuhan dalam Sejarah vs Tuhan sebagai Pewahyuan Ilahi
Armstrong memulai dengan melacak bagaimana konsep Tuhan berubah dari konteks budaya kuno hingga masa modern. Ia menampilkan Tuhan, bukan semata sebagai objek pewahyuan ilahi yang tetap, tetapi sebagai ide yang berkembang bersama peradaban manusia. Menurut narasinya, gambaran tentang Tuhan berubah seiring kebutuhan politik, budaya, dan psikologis umat manusia sepanjang sejarah.
Dalam kerangka ini:
Tuhan awalnya dikenal sebagai entitas antropomorfis dalam masyarakat kuno.
Monoteisme Yahudi berkembang dari konteks yang dipengaruhi oleh animisme dan politeisme.
Kekristenan kemudian menambahkan lapisan intelektual dan filosofis melalui kontak dengan pemikiran Yunani.
Islam menawarkan bentuk monoteisme yang kuat, menekankan keesaan Tuhan secara tegas.
Narasi Armstrong sering menggambarkan Tuhan sebagai proyek interpretatif manusia—sebuah simbol yang terus disesuaikan untuk memenuhi konteks historis yang berubah.
Ajaran Katolik: Tuhan sebagai Pewahyuan yang Tidak Berubah
Berbeda dari pendekatan Armstrong, Gereja Katolik mengajarkan bahwa Tuhan adalah Realitas Ilahi yang absolut, transenden, dan kekal; tidak berubah seiring waktu (immutabilitas).
Dalam ajaran apostolik, yang diteruskan melalui Konsili Ekumenis dan Katekismus Gereja Katolik (KGK), Tuhan dikenal melalui pewahyuan-Nya kepada manusia; bukan sepenuhnya diciptakan oleh interpretasi sejarah manusia.
Santo Thomas Aquinas, dalam Summa Theologiae, menegaskan:
“Kita berbicara tentang Tuhan bukan sebagai sebuah hipotesis sejarah, tetapi sebagai Realitas mutlak yang menjadi penyebab segala sesuatu.”
Bagi Aquinas, alasan keberadaan Tuhan bukan sesuatu yang ditentukan oleh imajinasi atau budaya, tetapi terdapat dalam realitas ontologis (sebab pertama yang diperlukan): sesuatu yang tidak bergantung pada apa pun selain diri-Nya sendiri yakni Alfa dan Omega. Ini adalah motif utama teologi Katolik klasik yang sering berada di luar jangkauan sejarah budaya manusia.
Dalam tulisan Aquinas, Tuhan adalah “esse ipsum subsistens” — keberadaan itu sendiri — bukan sekadar ide manusia yang berubah seiring waktu. Ini adalah titik utama perbedaan antara teologi Katolik dan narasi Armstrong.
Mmenurut Gereja:
Tuhan bersifat tak berubah, kekal, mahakuasa, mahahadir, mahatahu.
Sejarah manusia ini dipengaruhi oleh pewahyuan, bukan bahwa pewahyuan itu dihasilkan oleh sejarah.
Pemahaman ini menggarisbawahi bahwa sejarah gagasan tentang Tuhan berbeda dari hakikat Tuhan itu sendiri yang adalah objek dari pewahyuan.
Tuhan dalam Kekristenan: Trinitas sebagai Inti Ajaran
Armstrong membahas perkembangan doktrin Trinitas sebagai salah satu fase dalam sejarah pemikiran tentang Tuhan. Ia melihatnya sebagai hasil sosial-kultural dari interaksi antara monoteisme Yahudi, refleksi filosofis Yunani, dan dinamika Gereja awal, seperti Konsili Nicea.
Dalam narasi ini, Trinitas kurang ditampilkan sebagai inti iman Kristiani yang mantap, tetapi lebih sebagai bagian dari sejarah ide yang berkembang dari tantangan filosofis dan politik gereja awal.
Magisterium Katolik: Trinitas sebagai Misteri Fundamental
Dalam pengajaran Katolik, Doktrin Trinitas bukan sekadar satu fase dalam sejarah dogma; ia adalah misteri iman yang diungkapkan dalam pewahyuan, yang secara eksplisit diajarkan dalam Kitab Suci dan ditegaskan melalui keputusan konsili Gereja.
Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M) bukan sekadar kejadian sejarah. Konsili itu adalah titik di mana Gereja secara otoritatif merumuskan apa yang dipercayai semua umat Kristen:
Tuhan itu satu hakikat;
Tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus;
Ketiganya ko-eksisten dan sehakikat.
Sebagaimana dinyatakan dalam Credo Nicea-Constantinopel:
“Aku percaya akan satu Tuhan, Bapa Maha Kuasa… dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus… dan kepada Roh Kudus.”
Dalam teologi Aquinas, doktrin ini adalah misteri yang tak bisa sepenuhnya diringkas dengan akal semata, tetapi juga bukan sesuatu yang dihasilkan oleh hipotesis historis. Ia tercurah sebagai pewahyuan yang diterima oleh Gereja universal.
Armstrong mengolah narasi Trinitas dalam kerangka sejarah pemikiran manusia; sementara Gereja menempatkannya sebagai kebenaran iman yang tak berubah, yang manusia terima melalui pewahyuan ilahi pada diri Kristus dan Roh Kudus.
Kritik Teologis Terhadap Pendekatan Historis
Armstrong menekankan narasi lintas agama, merangkum monoteisme dalam berbagai tradisi besar di dunia. Pendekatan ini sering muncul sebagai ekumenis dan inklusif. Buku menempatkan berbagai agama Abrahamik di medan yang sama tentang konsep Tuhan.
Namun, Magisterium Gereja Katolik menegaskan bahwa sementara Gereja menghormati semua tradisi religius, kebenaran pewahyuan tertinggi terdapat dalam Kristus.
Konsili Vatikan II dalam dokumen Nostra Aetate menghormati nilai spiritual dalam agama lain, tetapi juga menegaskan perbedaan fundamental antara iman Katolik dan bentuk lain dari monoteisme, terutama dalam hal pewahyuan tentang Kristus sebagai Penyelamat.
Kritik terhadap Pengabaian Pewahyuan dan Dogma
Dalam salah satu kritik yang dikemukakan ilmuwan Kristen kontemporer, Armstrong cenderung mengabaikan status teks suci sebagai pewahyuan yang otoritatif dan lebih cenderung memandangnya sebagai produk budaya. Kritik ini menyoroti bagaimana Armstrong dianggap terlalu fokus pada narasi historis dan interpretatif.
Sebagai contoh:
Armstrong menganggap teks suci lebih sebagai refleksi budaya tertentu daripada sebagai pewahyuan Ilahi yang nyata.
Ia cenderung menempatkan pengalaman mistik di atas pewahyuan dogma.
Magisterium menjunjung tinggi teks suci sebagai sumber pewahyuan, yang diilhami Roh Kudus dan dijaga dalam Tradisi Gereja, bukan sekadar narasi antropologis.
Misteri Ketuhanan, Akal Budi, dan Iman: Peran Akal Budi: Aquinas vs Armstrong
Aquinas melihat akal sebagai alat yang sah untuk berbicara tentang Tuhan, tetapi akal tidak cukup tanpa pewahyuan. Orang-orang dapat menetapkan eksistensi Tuhan melalui alasan, seperti bukti kosmologis, teleologis, dan lain-lain, tetapi identitas Trinitas dan pewahyuan Kristiani lainnya tetap bergantung pada iman.
Armstrong sering menempatkan narasi historis dan psikologis sebagai pusat, sementara Aquinas mengajarkan bahwa rasio membantu memahami pewahyuan, bukan menggantikannya atau mereduksinya menjadi sekadar konstruksi historis.
Kesimpulan Magisterial untuk Pengajaran dan Pencerahan
Teologi Katolik klasik yang diinspirasi oleh Aquinas dan disahkan oleh Magisterium dapat dirumuskan sebagai berikut:
Tuhan tidak berevolusi dalam esensi-Nya. Tuhan adalah realitas yang tak berubah, definitif, dan pewahyuan ilahi, bukan sekadar ide atau simbol yang disesuaikan oleh sejarah manusia.
Trinitas bukan konsep historis, tetapi misteri iman yang otoritatif dan tetap, diturunkan dari pewahyuan Kristus dan disusun secara dogmatis oleh konsili Gereja.
Pewahyuan suci lebih utama daripada narasi sejarah budaya. Kitab Suci dan Tradisi Gereja memegang otoritas absolut atas penafsiran ajaran tentang Tuhan.
Akal budi dan iman bekerja bersama. Akal membantu memahami aspek-aspek pewahyuan, tetapi tak dapat mendefinisikan Tuhan secara utuh tanpa rahmat dan iman.
Dialog lintas agama berharga, tetapi tidak mengaburkan keunikan pewahyuan Kristiani yang eksplisit, yang menyatakan bahwa Kristus adalah jalan keselamatan bagi semua manusia (extra Christum nulla salus dalam pengertian konsekuensi pewahyuan).
✝️ Akhirnya…A History of God karya adalah sejarah ide dan kebudayaan
A History of God karya Karen Armstrong adalah bacaan yang menarik dan membuka wawasan tentang perjalanan sejarah gagasan ketuhanan di dunia manusia.
Namun, bagi Magisterium Katolik dan dalam konteks pandangan Santo Thomas Aquinas, buku ini lebih cocok dibaca sebagai sejarah ide dan kebudayaan daripada sebagai teologi normatif pewahyuan Kristiani.
Ke dalam konteks pengajaran Gereja, buku ini dapat menjadi bahan refleksi sejarah, tapi pemahaman teologi Katolik harus selalu berakar dalam pewahyuan, akal yang dituntun oleh iman, dan otoritas Magisterial Gereja.
Imam dan umat Katolik diajak untuk membaca karya semacam ini dengan hati-hati, bijaksana, dan dalam terang iman yang teguh.