Dari Sola ke Kepenuhan: Perspektif Scott Hahn:
| Scott Hahn. sumber https://www.tkc.edu/stories/dr-scott-hahn-advocates-thick-ecumenism-catholics-protestants/ |
Jika tak hanya satu “Sola”, berarti bukan sola.
Banyak sola bukan sola
Istilah sola dalam tradisi Reformasi Protestan mengandung makna eksklusivitas.
Secara harfiah, sola berarti “hanya” atau “semata-mata.”
Dalam rumusan klasiknya dikenal lima sola: sola Scriptura, sola fide, sola gratia, solus Christus, dan soli Deo gloria.
Baca Scott Hahn: Narasi dan Publikasinya terkait Pokok Iman Katolik
Setiap prinsip itu membawa klaim eksklusif. Namun di sinilah muncul pertanyaan mendasar dari sudut pandang Katolik: jika ada banyak sola, bagaimana mungkin masing-masing tetap mempertahankan arti “hanya”?
Tesis tulisan ini sederhana namun fundamental: jika banyak sola, berarti banyak prinsip eksklusif yang berdiri berdampingan. Padahal, secara definisional, sola menuntut ketunggalan. Mestinya hanya satu sola.
Ketika yang tampil justru beragam sola, maka klaim “hanya” itu sendiri kehilangan daya tunggalnya. Dari perspektif Katolik, problem ini bukan sekadar retorika, melainkan menyentuh koherensi epistemologis dan fondasi teologi wahyu.
Makna Sola dan Problem Eksklusivitas Jamak
Dalam perspektif Katolik, persoalan sola pertama-tama adalah persoalan makna. Kata itu berarti “hanya.” Ia menuntut eksklusivitas yang tidak berbagi ruang dengan prinsip lain. Namun Reformasi berbicara tentang lebih dari satu sola. Jika ada banyak sola, berarti ada banyak prinsip yang masing-masing mengklaim posisi final.
Secara logika sederhana: eksklusivitas yang berlipat justru melemahkan makna eksklusif itu sendiri. Jika Kitab Suci saja adalah otoritas final, dan iman saja adalah sarana pembenaran, dan rahmat saja adalah dasar keselamatan, maka masing-masing berdiri dengan klaim “hanya.” Tetapi “hanya” yang berulang-ulang berpotensi menjadi paradoks. Apakah ada satu prinsip tunggal, ataukah serangkaian prinsip yang masing-masing menuntut keutamaan?
Baca Scott Hahn dan Teologi Katolik Zaman Modern yang Menjadi Acuan
Bagi iman Katolik, Wahyu Allah tidak dipahami sebagai serangkaian prinsip eksklusif yang terpisah, melainkan sebagai kesatuan yang organik. Allah mewahyukan diri-Nya secara utuh dalam Kristus, dan Wahyu itu diteruskan dalam Gereja sebagai satu depositum fidei.^1 Dengan demikian, paradigma Katolik tidak dibangun atas struktur “hanya X,” melainkan atas kesatuan sumber ilahi yang tunggal.
Wahyu dalam Pandangan Katolik: Kesatuan, Bukan Fragmentasi
Konsili Vatikan II dalam Dei Verbum menegaskan bahwa Kitab Suci dan Tradisi Suci “mengalir dari satu sumber ilahi yang sama” dan bersama-sama membentuk satu deposit iman.^2 Gereja tidak mengajarkan dua wahyu, melainkan satu Wahyu yang diteruskan dalam dua cara yang saling terkait.
Dalam kerangka ini, Gereja tidak menempatkan Tradisi sebagai pesaing Kitab Suci, melainkan sebagai konteks hidup di mana Kitab Suci lahir, dipelihara, dan ditafsirkan secara otoritatif. Sebelum ada kanon Perjanjian Baru yang definitif, Gereja sudah ada. Injil diwartakan secara lisan sebelum dibukukan. Fakta historis ini menjadi salah satu argumen penting yang juga ditekankan oleh Scott Hahn.^3
Hahn menunjukkan bahwa Gereja adalah komunitas perjanjian, dan Kitab Suci adalah dokumen perjanjian itu.
Dokumen tidak mungkin dipisahkan dari komunitas yang melahirkannya. Karena itu, dalam iman Katolik, otoritas Kitab Suci tidak berdiri sendirian sebagai entitas yang terisolasi, melainkan berada dalam kesatuan Gereja yang dijanjikan Kristus untuk dibimbing Roh Kudus menuju seluruh kebenaran (bdk. Yoh 16:13).
Kritik terhadap Pluralitas “Sola”
Dari perspektif Katolik, problem sola bukan hanya soal perbedaan doktrin, melainkan struktur berpikir. Jika banyak sola, berarti banyak sumber prinsipil yang masing-masing memegang klaim eksklusif. Padahal secara definisional, sola menuntut ketunggalan.
Mestinya hanya satu sola jika benar-benar ingin mempertahankan eksklusivitas. Tetapi kenyataannya ada lima sola. Maka pertanyaannya: apakah yang sungguh-sungguh menjadi dasar final? Jika semua disebut “hanya,” maka kata itu sendiri mengalami inflasi makna.
Sebaliknya, iman Katolik tidak merasa perlu membangun teologi di atas serangkaian eksklusivitas yang berdiri sendiri-sendiri. Gereja berbicara tentang satu Kristus, satu iman, satu baptisan (Ef 4:5).
Kristus adalah kepenuhan Wahyu.^4 Kitab Suci adalah Sabda Allah tertulis. Tradisi adalah Sabda Allah yang diteruskan. Magisterium adalah pelayan Sabda, bukan tuannya.^5
Struktur ini bukan pluralitas sumber yang saling bersaing, melainkan kesatuan yang saling melengkapi dalam satu rencana keselamatan.
Sola Fide dan Hakikat Pembenaran
Perdebatan yang sama muncul dalam doktrin pembenaran. Sola fide menegaskan bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman.
Dalam teologi Reformasi klasik, pembenaran dipahami terutama dalam kategori forensik: Allah menyatakan orang berdosa benar karena iman kepada Kristus.
Namun dalam teologi Katolik, sebagaimana dirumuskan dalam Konsili Trente dan ditegaskan kembali dalam Katekismus Gereja Katolik, pembenaran bukan sekadar deklarasi hukum, melainkan transformasi nyata oleh rahmat.^6
Iman memang mutlak diperlukan, tetapi iman yang hidup bekerja dalam kasih (fides caritate formata).
Maka jika pembenaran melibatkan iman, rahmat, dan pembaruan batin yang nyata, itu tidak sesuai dengan rumusan sola fide dalam arti eksklusif Reformasi.
Wahyu satu. Kristus satu. Gereja satu. Kitab Suci dan Tradisi bukan dua sumber yang bersaing, tetapi dua cara partisipasi dalam satu Sabda Allah.
Sekali lagi, jika “hanya iman” dipahami secara ketat, maka setiap unsur lain akan tampak sebagai ancaman terhadap eksklusivitas itu. Namun Gereja Katolik tidak memisahkan iman dari kasih, sebab kasih adalah bentuk iman itu sendiri (Gal 5:6).
Perspektif Scott Hahn: Dari Sola ke Kepenuhan
Scott Hahn, dalam refleksi teologis dan autobiografinya, mengakui bahwa awalnya ia memegang prinsip sola Scriptura dengan kuat.^7 Namun dalam studi mendalam tentang sejarah Gereja dan kanon Kitab Suci, ia menemukan bahwa prinsip tersebut tidak memadai untuk menjelaskan realitas historis pembentukan Gereja.
Baginya, pertanyaan mendasar bukan “Apakah Kitab Suci cukup?”, melainkan “Siapakah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Kitab Suci secara definitif?” Tanpa otoritas Gereja, interpretasi menjadi terfragmentasi.
Di sini Hahn melihat bahwa paradigma Katolik tidak mengurangi Kitab Suci, melainkan menempatkannya dalam kepenuhannya. Wahyu adalah Kristus sendiri, bukan sekadar teks. Gereja adalah Tubuh Kristus yang hidup, bukan sekadar pembaca teks.
Evaluasi Teologis
Tesis “jika banyak sola, berarti bukan sola” bukanlah serangan polemis, melainkan refleksi atas konsistensi istilah. Jika eksklusivitas menjadi prinsip, maka ia menuntut ketunggalan. Eksklusivitas yang berlipat justru menimbulkan pertanyaan tentang koherensi internal.
Sebaliknya, iman Katolik tidak dibangun di atas prinsip “hanya X,” melainkan di atas kesatuan ilahi yang terpadu.
Wahyu satu. Kristus satu. Gereja satu. Kitab Suci dan Tradisi bukan dua sumber yang bersaing, tetapi dua cara partisipasi dalam satu Sabda Allah.
Dengan demikian, Gereja tidak menolak Kitab Suci; justru Gereja menjaganya. Gereja tidak mengurangi iman; justru Gereja memahaminya dalam dinamika kasih. Gereja tidak meniadakan rahmat; justru Gereja menegaskan bahwa segala sesuatu adalah rahmat.
Penutup
Jika banyak sola, berarti banyak klaim eksklusif yang berdiri berdampingan. Padahal, secara definisional, sola menuntut ketunggalan. Mestinya hanya satu sola. Ketika yang tampil justru beragam sola, maka klaim “hanya” kehilangan daya absolutnya.
Dalam perspektif Katolik, kebenaran iman tidak diringkas dalam prinsip eksklusif yang terisolasi, melainkan dalam kesatuan Wahyu Allah yang utuh.
Kristus adalah kepenuhan itu. Kitab Suci adalah kesaksian normatifnya. Tradisi adalah kehidupan yang meneruskannya. Magisterium adalah pelayan yang menjaganya.
Bukan banyak “hanya,” melainkan satu kepenuhan. Bukan fragmentasi prinsip, melainkan kesatuan misteri keselamatan.
Catatan Kaki
- Konsili Vatikan II, Dei Verbum, art. 10.
- Ibid., art. 9.
- Scott Hahn, Rome Sweet Home (San Francisco: Ignatius Press, 1993).
- Ibrani 1:1–2.
- Dei Verbum, art. 10.
- Katekismus Gereja Katolik, §1989–1995.
- Scott Hahn, Rome Sweet Home.
Daftar Pustaka
Hahn, Scott. Rome Sweet Home. San Francisco: Ignatius Press, 1993.
Katekismus Gereja Katolik. Jakarta: Obor, 1995.
Konsili Vatikan II. Dei Verbum. 1965.
Kitab Suci Katolik.