๐—•๐—˜๐——๐—”๐—› ๐—ฆ๐—”๐—ฅ๐—”๐—™ ๐—Ÿ๐—ข๐—š๐—œ๐—ž๐—” ๐—ง๐—”๐—ก๐—ง๐—˜ ๐—Ÿ๐—ข๐—ฌ๐—”, Tentang ๐—ฆ๐—˜๐—Ÿ๐—œ๐—•๐—”๐—ง ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—š๐—˜๐—ฅ๐—˜๐—๐—” ๐—ž๐—”๐—ง๐—ข๐—Ÿ๐—œ๐—ž (Bagian 1)

๐—ฆ๐—˜๐—Ÿ๐—œ๐—•๐—”๐—ง ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—š๐—˜๐—ฅ๐—˜๐—๐—” ๐—ž๐—”๐—ง๐—ข๐—Ÿ๐—œ๐—ž
๐—ฆ๐—˜๐—Ÿ๐—œ๐—•๐—”๐—ง ๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—  ๐—š๐—˜๐—ฅ๐—˜๐—๐—” ๐—ž๐—”๐—ง๐—ข๐—Ÿ๐—œ๐—ž. Baca ini. Ist.

Oleh P Jack Dambe Cjd

(Bagian 1)

Membaca narasi tante Loya Latoya tentang selibat di dalam Gereja Katolik dalam: "๐™Ž๐™š๐™ก๐™ž๐™—๐™–๐™ฉ  ๐™™๐™ž๐™จ๐™–๐™๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™–๐™ก๐™–๐™ข ๐™ง๐™š๐™›๐™ค๐™ง๐™ข๐™–๐™จ๐™ž ๐™‚๐™ง๐™š๐™œ๐™ค๐™ฉ๐™ž๐™–๐™ฃ ๐™–๐™—๐™–๐™™ 11, ๐™–๐™œ๐™–๐™ง ๐™ฅ๐™–๐™ง๐™– ๐™†๐™ก๐™š๐™ง๐™ช๐™จ ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™™๐™–๐™ฅ๐™–๐™ฉ๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฌ๐™–๐™ง๐™ž๐™จ๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™–๐™", yang direduksi melulu pada alasan pragmatis ala Marxis, rasanya seperti menonton stand-up comedy yang gagal lucu karena komediannya lupa riset. 

Narasi yang dibangun di atas premis "semua adalah soal uang" ini bukan hanya sebuah blunder teologis, tetapi juga sebuah bunuh diri intelektual bagi siapa saja yang mengaku paham sejarah Eropa. Mari kita bedah mayat argumen nya satu per satu, lalu kita ajak tante Loya bercermin melihat "sejarah tandingan" yang sengaja ia lupakan.

1. ๐™‡๐™ค๐™œ๐™ž๐™ ๐™– "๐™ˆ๐™–๐™ฃ๐™–๐™Ÿ๐™š๐™ง ๐™‹๐™ง๐™ค๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ฉ๐™ž" ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐˜พ๐™–๐™˜๐™–๐™ฉ ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ก

Loya Latoya dengan penuh percaya diri mengklaim bahwa celibacy (selibat) adalah akal-akalan Paus Gregorius VII untuk mengamankan aset tanah agar tidak diwariskan ke anak imam.

"Seorang imam tanpa istri adalah seorang manajer properti yang sempurna..."

Tanggapan: Ini adalah logika ekonomi pasar kaget yang dipaksakan pada abad ke-11. Mari pakai logika sederhana: Jika tujuan Roma adalah menumpuk kekayaan, kenapa Gereja justru menciptakan ordo-ordo Mendicant (pengemis) seperti Fransiskan, Dominikan, Agustianian, dan Carmel  tidak lama setelah era Gregorian? St. Fransiskus Assisi, yang merupakan buah dari semangat pembaruan ini, justru melarang biaranya memiliki properti sama sekali!

Jika Gregorius VII adalah CEO yang rakus seperti tuduhan mak Loya, maka Fransiskus Assisi adalah manajer yang paling bodoh dalam sejarah karena ia "memiskinkan" aset perusahaan. Tapi faktanya, Gereja memberkatinya. Mengapa? Karena reformasi Gregorian bukan soal Real Estate, tapi soal Real Faith.

Masalah di abad ke-11 itu justru kebalikannya: Feodalisme. Tanpa selibat, jabatan Uskup dan Imam menjadi barang warisan keluarga bangsawan. Gereja disandera oleh tuan tanah lokal. Gregorius VII tidak sedang "mengamankan aset Roma", dia sedang memerdekakan Gereja dari cengkeraman raja-raja dan bangsawan yang ingin menjadikan paroki sebagai "bisnis keluarga" mereka. Selibat adalah deklarasi kemerdekaan: bahwa jabatan suci bukan properti nenek moyangmu!

2. ๐™Ž๐™š๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐˜ฝ๐™–๐™ก๐™ž๐™ : ๐™ˆ๐™–๐™ง๐™ž ๐˜ฝ๐™ž๐™˜๐™–๐™ง๐™– ๐™Ž๐™ค๐™–๐™ก "๐™‹๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™ง๐™–๐™๐™–๐™ฃ ๐™Ž๐™ช๐™˜๐™ž" ๐™†๐™–๐™ช๐™ข ๐™๐™š๐™›๐™ค๐™ง๐™ข๐™ž๐™จ

Nah, karena Loya Latoya sangat suka bicara soal "motif ekonomi di balik jubah agama," mari kita putar lensa mikroskop ini ke arah yang biasanya disembunyikan oleh para pengkritik Katolik: Reformasi Protestan.

Jika tante Loya menuduh Katolik melakukan selibat demi tanah, mari kita lihat apa yang terjadi ketika selibat dihapuskan di Inggris dan Jerman pada abad ke-16. Apakah tanah gereja kemudian dibagikan kepada rakyat miskin? Apakah para pastor yang menikah itu tiba-tiba menjadi dermawan?

Kasus A: Henry VIII dan "Perampokan Besar Berkedok Injil" 

Di Inggris, Raja Henry VIII (yang sangat anti-selibat karena ia sendiri tidak bisa menahan nafsunya untuk gonta-ganti istri) melakukan apa yang disebut Dissolution of the Monasteries. Dengan dalih bahwa biara-biara Katolik itu korup (narasi yang sama persis dengan Loya Latoya), Henry membubarkan biara, mengusir ribuan biarawan-biarawati yang selibat, lalu... merampas seluruh tanah mereka.

Tanah-tanah biara yang selama berabad-abad dipakai untuk rumah sakit gratis, panti asuhan, dan sekolah bagi rakyat jelata, tiba-tiba diprivatisasi menjadi milik Raja dan kroni-kroninya.

• Fakta Pahit: Penghapusan selibat dan pembubaran biara di Inggris adalah transfer aset properti terbesar dalam sejarah Inggris dari sektor publik (Gereja) ke sektor privat (bangsawan).

• Jadi, siapa yang sebenarnya "rakus tanah"? Paus yang meminta imamnya tidak menikah agar fokus melayani, atau Raja "Reformis" yang mengusir imam selibat supaya tanahnya bisa dipakai untuk membiayai pesta istana dan perang?

Kasus B: Pangeran Jerman dan "Sola Fide, Sola Properti" 

Di Jerman, banyak pangeran (Fรผrst) mendukung Martin Luther bukan karena mereka tiba-tiba mendapat pencerahan tentang teologi pembenaran iman (Sola Fide), tapi karena mereka melihat peluang emas. Jika mereka menjadi Protestan, mereka bisa:

*Berhenti bayar pajak ke Roma.

*Menyita tanah-tanah Keuskupan dan Biara Katolik di wilayah mereka.

*Menjadikan diri mereka sendiri sebagai "kepala gereja lokal" (Summus Episcopus).

Ini adalah bisnis yang sangat menggiurkan! Dengan menghapus selibat dan hierarki Katolik, para pangeran ini mendapatkan jackpot properti. Mereka menunggangi gelombang reformasi agama untuk melakukan aneksasi tanah secara masif.

Jadi, mak Loya Latoya yang terhormat, jika Anda menuduh Gregorius VII "rakus" karena menjaga tanah agar tetap menjadi milik umat (Gereja), lantas apa sebutan tante bagi para pangeran Reformasi yang merampok tanah umat untuk menjadi milik pribadi dinasti mereka? Setidaknya tanah Vatikan masih ada sampai sekarang dan bisa dikunjungi umat seluruh dunia. Tanah rampasan Henry VIII? Sudah jadi lapangan golf pribadi para Duke dan Earl bukan??

3. ๐™†๐™ค๐™ข๐™š๐™™๐™ž "๐˜ฟ๐™ž๐™ฃ๐™–๐™จ๐™ฉ๐™ž ๐™‹๐™š๐™ฃ๐™™๐™š๐™ฉ๐™–" ๐™ซ๐™จ "๐™๐™ค๐™—๐™ค๐™ฉ ๐˜ฝ๐™ž๐™ง๐™ค๐™ ๐™ง๐™–๐™จ๐™ž"

Tante Loya menyebut imam selibat sebagai "Robot Birokrasi" dan "Mempelai Ilegal". Mari kita tertawa sebentar.

Dalam sistem Protestan yang menghalalkan pernikahan klerus, muncul fenomena sosiologis yang menarik: Dinasti Pendeta. Karena pendeta boleh menikah dan punya anak, gereja seringkali berubah menjadi bisnis keluarga turun-temurun. Bapaknya pendeta, anaknya pendeta, cucunya pendeta, dan aset gereja (rumah pastori, mobil dinas, yayasan) berputar di lingkaran keluarga yang sama. Di banyak aliran denominasi modern, gereja bahkan menjadi "milik pribadi" sang pendeta pendiri yang kemudian diwariskan ke anaknya seperti mewariskan ruko di Mangga Dua.

Bandingkan dengan sistem Katolik yang mak Loya hina itu. Ketika Paus atau Uskup mati, dia tidak bisa mewariskan Katedralnya ke anaknya. Dia tidak bisa mewariskan rekening keuskupan ke istrinya. Semuanya kembali ke institusi untuk pelayanan umat berikutnya. Seorang imam Katolik bisa membangun sekolah hebat, rumah sakit canggih, tapi saat dia mati, dia hanya membawa jubah di badan. Tidak ada "saham" yang jatuh ke tangan ahli waris.

Jadi, sistem mana yang sebenarnya lebih "rawan korupsi aset"? Sistem selibat yang memutus rantai kepemilikan pribadi? Atau sistem pendeta menikah yang secara alamiah (karena naluri biologis) ingin menumpuk kekayaan demi masa depan anak-istrinya?

Tuduhan mak Loya bahwa selibat adalah "manajemen risiko aset" sebenarnya adalah proyeksi. Justru pernikahan pendetalah yang menciptakan risiko aset gereja berubah menjadi aset keluarga. Sejarah mencatat betapa seringnya gereja-gereja non-selibat pecah kongsi hanya karena sengketa aset antar anggota keluarga pendeta. Katolik? 

Sudah 2000 tahun lebih, tetap satu manajemen, aset tetap utuh untuk misi. Itu bukan rakus, itu integritas, tante!

4. ๐™†๐™š๐™จ๐™ช๐™˜๐™ž๐™–๐™ฃ "๐™‹๐™ค๐™ก๐™ช๐™จ๐™ž ๐™๐™ค๐™๐™–๐™ฃ๐™ž"? ๐˜ผ๐™ฃ๐™™๐™– ๐™Ž๐™š๐™ง๐™ž๐™ช๐™จ?

Mak Loya menulis:

"Reformasi ini menegaskan bahwa seksualitas klerus adalah polusi rohani..."

Ini adalah kalimat yang lahir dari ketidaktahuan mendalam tentang teologi tubuh. Gereja Katolik tidak pernah menganggap seks itu kotor. Seks itu suci, makanya dijadikan Sakramen (Perkawinan)! Tapi imamat adalah panggilan untuk menjadi "Tanda Eskatologis", tanda akan Langit Baru dan Bumi Baru di mana "mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan".

Imam selibat bukan karena dia benci wanita atau benci seks. Dia selibat karena dia ingin memberikan dirinya 100% untuk semua orang: 

• Seorang bapak keluarga harus memprioritaskan anaknya sendiri dibanding anak tetangga. Itu wajar dan benar.

• Seorang imam selibat bisa mencintai ribuan umatnya dengan setara. Dia adalah "Bapa" bagi semua.

Ketika wabah pes (Black Death) melanda Eropa, atau ketika COVID-19 kemarin menyerang, siapa yang berani masuk ke ruang isolasi untuk mengurapi orang sekarat? Para imam selibat. Kenapa? Karena mereka tidak punya istri dan anak yang akan terlantar jika mereka mati tertular. Mereka bebas untuk berkorban. Mereka bebas untuk mati bagi domba-dombanya.

Menyebut pengorbanan heroik ini sebagai "strategi dagang tanah" adalah penghinaan terhadap jutaan martir yang darahnya tumpah bukan demi sertifikat tanah, tapi demi Salib Kristus.

5. ๐™‹๐™š๐™ฃ๐™ช๐™ฉ๐™ช๐™ฅ:  ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ˆ๐™–๐™  ๐™‡๐™ค๐™ฎ๐™– ๐™‡๐™–๐™ฉ๐™ค๐™ฎ๐™–

Om Loya, tulisan Anda indah secara retorika, tapi kosong melompong secara substansi. Anda menggunakan kacamata Marxis ("semua adalah soal materi") untuk menilai fenomena spiritual. Itu seperti mencoba mengukur indahnya lukisan Monalisa dengan timbangan beras. Gak nyambung, Bambang! 

Anda menuduh Gregorius VII "gila". Padahal, kegilaan yang sebenarnya adalah berpikir bahwa sebuah institusi bisa bertahan 2000 tahun lebih melewati keruntuhan kekaisaran, perang dunia, dan wabah penyakit, hanya bermodalkan "nafsu tanah".Mikir lagi tante. 

Jika Gereja Katolik hanya peduli pada tanah, kami sudah lama jual Vatikan dan buka kasino di Las Vegas demi fulus. Atau kalau Gereja ingin berbisnis, jangankan tanah Vatikan, tanah seluas Italia saja mampu kami beli. Tapi kami tidak melakukannya. Kami bertahan dengan selibat karena kami percaya bahwa Imam adalah ikon Kristus, bukan manajer aset.

Jadi, silakan simpan teori konspirasi "Tanah Warisan" tante. Sejarah membuktikan:

• Raja-raja yang menjarah tanah gereja sudah jadi debu, dan dinasti mereka hancur.

• Ideologi-ideologi yang menyerang gereja (seperti komunisme yang juga menuduh gereja tuan tanah) sudah pada bangkrut.

• Namun Gereja Katolik dengan imam-imam selibatnya? Masih berdiri kokoh, masih melayani orang miskin, dan masih merayakan Ekaristi di atas tanah yang sama.

Mungkin itu yang membuat Anda kesal? Bahwa "model bisnis" ilahi ini ternyata jauh lebih awet daripada logika duniawi mak Loya.

Salam dari Roma (yang bukan sekadar titik di peta, tapi jantung iman).

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org