𝗟𝗼𝗴𝗶𝗸𝗮 𝗣𝘂𝘁𝘂𝘀 𝗔𝘀𝗮, 𝗠𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗮𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗞𝗮𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸 𝗥𝗼𝗺𝗮

𝗟𝗼𝗴𝗶𝗸𝗮 𝗣𝘂𝘁𝘂𝘀 𝗔𝘀𝗮, 𝗠𝗲𝗺𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗮𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗞𝗮𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸 𝗥𝗼𝗺𝗮
Logika putus asa macam ini bersliweran di media sosial. Perlu direspons agar algoritma menandainya sebagai post truth. Ist.
Oleh P Jack Dambe Cjd

Logika teologis tentang kekatolikan tidak dapat dipisahkan dari Gereja Katolik Roma.Artikel ini mengulas sejarah, suksesi apostolik, primasi Petrus, dan otoritas Roma sebagai dasar kesatuan Gereja sejak awal Kekristenan.

Akrobat Linguistik dan Inferiority Complex Sejarah

Ada sebuah bualan teologis berbalut kepongahan intelektual yang terus didaur ulang secara menggelikan hingga hari ini: upaya heroik nan putus asa dari para polemikus abad ke-16 untuk menceraikan kata sifat "Katolik" dari institusi historis dan jasmaniahnya, yakni Gereja Katolik Roma.

Baca Exsurge Domine, Bulla Paus Leo X Memperingatkan Luther sekaligus Seruan Pembelaan Gereja

Taktik ini adalah manifestasi dari rasa rendah diri (inferiority complex) yang akut terhadap sejarah. Ketika gerakan pemisahan diri di abad ke-16 berbenturan dengan kenyataan bahwa mereka hanyalah "anak kemarin sore" yang tak memiliki pijakan apostolik, menyerang Gereja Katolik secara historis adalah sebuah tindakan bunuh diri yang konyol. Maka, demi menutupi rasa malu karena terputus dari pohon sejarah keselamatan, mereka melakukan akrobat linguistik dan pencurian teologis yang hasilnya adalah upaya menjaring angin.

Istilah "Katolik Roma" (Roman Catholic) dipakai seolah-olah itu adalah nama sebuah denominasi baru. Padahal label "Katolik Roma" justru adalah ciptaan artifisial, sebuah ejekan peyoratif yang direkayasa oleh para polemikus Anglikan dan Protestan Inggris pada akhir abad ke-16. Mereka sadar tidak mungkin membuang kata "Katolik" dari Syahadat Para Rasul (Konsili Nocea-konstantinopel) tanpa terlihat sesat, maka mereka merampok kata itu, menyulapnya menjadi konsep "Gereja am yang tak kasatmata", lalu menempelkan kata "Roma" secara paksa kepada Gereja historis dengan tujuan mengerdilkan keuniversalan Gereja Kristus menjadi sekadar sekte lokal.

Inkarnasi dan Gereja yang Kelihatan

Sungguh sebuah halusinasi teologis yang membuat para sejarawan tertawa geli! Memisahkan kekatolikan dari Gereja yang kelihatan adalah penistaan terhadap teologi Inkarnasi itu sendiri. Kristus, Sang Sabda, telah menjadi daging (Yohanes 1:14), maka mempelai-Nya, yakni Gereja, juga harus memiliki "daging" historis yang kelihatan, terstruktur, dan tak terputus oleh waktu, bukan sekadar ideologi roh gentayangan yang dicocoklogikan sesuka hati.

Istilah "Katolik Roma" (Roman Catholic) dipakai seolah-olah itu adalah nama sebuah denominasi baru. Padahal label "Katolik Roma" justru adalah ciptaan artifisial, sebuah ejekan peyoratif yang direkayasa oleh para polemikus Anglikan dan Protestan Inggris pada akhir abad ke-16.

Jika para polemikus yang rabun sejarah ini mau sedikit saja membuka mata teologisnya, mereka akan melihat bahwa Kristus tidak mendirikan sebuah klub diskusi filsafat atau organisasi kemasyarakatan yang bisa dipecah-belah setiap kali ada pendeta yang tidak puas. Sabda Kristus dalam Matius 16:18 menggelegar membelah sejarah: "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya."

Baca Johann Eck dan Fondasi Teologisnya dalam Melawan Martin Luther

Jika Gereja Katolik dituduh sekadar denominasi selevel dengan sekte-sekte ciptaan manusia abad ke-16, lantas ke mana perginya janji Kristus selama 1500 tahun sebelumnya?

Apakah alam maut sempat menang cuti panjang, atau Kristus amnesia pada janji-Nya sendiri sehingga Ia butuh bantuan mereka yang mengklaim diri "reformator" untuk menyelamatkan Gereja-Nya? Tentu saja itu adalah sesat pikir yang menghina kedaulatan Allah.

Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium artikel 8 meremukkan kesombongan teologis ini dengan presisi absolut: Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik, dan apostolik itu "berada (subsistit in) di dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan oleh para uskup dalam persekutuan dengannya." Maka, ketaatan kepada Roma bukanlah sebuah limitasi geografis, melainkan penanda mutlak dari ortodoksi teologis dan pewarisan apostolik sejati.

Mengapa Roma: Primasi Takhta Petrus

Lalu mengapa harus Roma? Para kritikus sering membandingkan Roma dengan patriarkat kuno lainnya dalam pentarki: Yerusalem (tempat darah Kristus tumpah), Antiokhia (tempat jemaat pertama disebut Kristen, Kis 11:26), Alexandria (pusat intelektualitas bapa Gereja), dan Konstantinopel (lambang kedigdayaan politik kekaisaran). Dengan segala kemegahan kota-kota Timur itu, mengapa takhta Roma yang menjadi primata dan jangkar kebenaran tak terbantahkan?

Baca Konsili Trente Menjawab Martin Luther dan Gerakan Reformasi Protestan

Jawabannya murni teologis, bukan karena manuver politik murahan seperti yang sering dikarang-karang dalam literatur anti-Katolik. Keutamaan Roma diikat oleh suksesi apostolik ganda yang tak tertandingi di semesta ini: di sanalah Santo Petrus (pemegang kunci Kerajaan Surga) dan Santo Paulus (Sang Rasul Bangsa-bangsa) menumpahkan darah mereka sebagai martir. Takhta Roma secara definitif adalah takhta Petrus. Fakta ini sudah menjadi dogma tak tertulis jauh sebelum Gereja keluar dari katakombe penganiayaan.

Pada pertengahan abad kedua, ketika kekaisaran Romawi masih sibuk membantai umat Kristen, Santo Irenaeus dari Lyon dalam *Adversus Haereses* sudah dengan sangat tajam mendeklarasikan bahwa setiap gereja lokal tanpa terkecuali wajib seia sekata dengan Gereja Roma karena keutamaannya yang lebih tinggi (*propter potentiorem principalitatem*), tempat tradisi para rasul dipelihara tanpa cacat.

Bahkan sebelum itu, di akhir abad pertama (sekitar 96 M), Paus Klemens I sebagai Uskup Roma telah mengintervensi dengan otoritas penuh untuk mendisiplinkan pemberontakan di Gereja Korintus. Ironisnya, Rasul Yohanes saat itu diyakini masih hidup dan tinggal di Efesus, yang secara geografis lebih dekat ke Korintus. Mengapa bukan Yohanes yang menyelesaikannya? 

Mengapa jemaat Korintus menundukkan tengkuk mereka pada surat dari Roma? Karena Gereja purba tidak buta, mereka sadar betul di mana letak otoritas takhta Petrus yang mengikat dan memvalidasi segalanya. Orang sekelas Rasul Yohanes saja tunduk pada takhta Roma, sementara polemikus sekte abad ke-16 yang masih bau kencur hendak merendahkan takhta Roma selevel sekte-sekte tempat ia bernaung. Mau tertawa, tetapi takut dibilang sombong!

Roma Locuta: Ketaatan dan Kesatuan Gereja

Otoritas magisterial inilah yang kemudian memuncak dalam diktum teologis legendaris: Roma locuta, causa finita est (Roma telah berbicara, perkara selesai). 

Ketika Santo Agustinus di abad ke-5 frustrasi menghadapi bidaah Pelagianisme yang merusak teologi moral tentang rahmat, ia tidak mencari jawaban dari konsensus mayoritas atau melakukan jajak pendapat. Begitu Paus Inosensius I menjatuhkan palu keputusan yang mengutuk Pelagius, Agustinus menyatakan perdebatan telah usai. 

Ketaatan pada supremasi Roma ini adalah wujud penyerahan diri pada tatanan ilahi yang ditetapkan Kristus untuk mencegah kebenaran dikoyak-koyak oleh interpretasi subjektif.

Realitas teologis ini terpatri dengan sangat tajam dalam urat nadi liturgi kita. Lihatlah Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) no. 79: di sana diwajibkan secara mutlak bahwa dalam setiap Doa Syukur Agung, nama Paus (Uskup Roma) harus didoakan. Ini bukan sebatas protokol kesopanan seremonial, ini adalah deklarasi teologis yang menggetarkan: tidak ada kurban Ekaristi yang valid dan sah tanpa persekutuan (komunio) hierarkis dengan Takhta Petrus. 

Baca Paus dari Santo Petrus hingga Leo XIV tetap Solid dan kian Berkembang

Tanpa Roma sebagai pusat ekaristis dan magisterial, klaim "kekatolikan" hanya akan hancur berkeping-keping menjadi sekte-sekte nasionalistik yang disetir oleh semangat zaman, persis seperti teater komedi perpecahan yang kita saksikan pada gereja-gereja hasil "reformasi".

Oleh karena itu, biarkan saja para polemikus pongah itu bermain di kotak pasir ilusi linguistik mereka, sibuk memisahkan kata "Katolik" sambil menyangkal sejarah mereka sendiri yang yatim piatu. 

Baca Kitab Suci Katolik

Sebagai umat Katolik, kita terus melangkah tegap merayakan Ekaristi yang sama dengan para martir dua ribu tahun lalu. Tertawa dalam keheningan melihat mereka berdebat dengan bayangannya sendiri. Karena Gereja Katolik Roma akan senantiasa berdiri kokoh dan tak tergoyahkan sebagai "tiang penopang dan dasar kebenaran" (1 Timotius 3:15). 

Roma telah berbicara, perkara selesai!

𝘑𝘢𝘥𝘪 @𝘔𝘰𝘴𝘢𝘭 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘛𝘰𝘮𝘢𝘴𝘰𝘶𝘸, 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪, 𝘭𝘰𝘨𝘪𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢h!

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org