Menulis Biografi Sesorang yang dari sebuah Jarak
![]() |
| Paus Benedictus XVI, sebelumnya: Kardinal Ratzinger, Dekan Dewan Kardinal. |
Hanya sekali ke Vatikan. Selama sepekan. Tidak membuat saya mengenal detail Ratzinger. Ia sorang peritus, asisten ahli, pada Konsili Vatikan II. Khusus bagi Joseph Fring, Uskup Agung Cologne. Intelektual muda yang mulai bersinar waktu itu.
Yang membuat saya merasa mengenal beliau, sehingga berani menulis semacam biografi ini, adalah saya salah seorang anggota Ratzinger’s Fans Club.
Paus Benedictus wafat pada usia: 95 tahun pada tutup tahun 31/12-2022. Menjadi paus 19 April 2005. Lalu mengundurkan diri sebagai paus (emeritus) pada 28 Februari 2013.
Sedemikian rupa, sehingga mendalami dan banyak berdiskusi dengan sesama Fans terkait pribadi, pemikiran, dan publikasinya.
Maka pada 2007, saya menulis naskah. Lalu menyerahkannya kepada Penerbit Nusa Indah, Ende – Flores, salah satu penerbit tertua di Indonesia. Bagai botol bertemu tutup. Langsung diterima. Lekas pula proses pracetak, hingga cetaknya, selesai. Lalu diedarkan secara luas.
Karena topik menarik, sekaligus langka, begitu terbit, dalam tempo seminggu terjual: 600 eksemplar. Saya mendapat lumayan royalti dari buku ini.
***
Namun fokus saya bukan pada royalti dan buku. Tapi rasa dukacita, yang mendalam. Tadi sore waktu Indonesia bagian barat (31-12-2022, pukul 15.34) saya mendapat kabar dukacita dari grup WA, juga sebuah situs Katolik. Yosef Aloysius Ratzinger, paus emeritus Benedictus XVI, wafat pukul 09.34 waktu Vatikan.
![]() |
| Biografi Paus Benedictus XVI ang saya tulis. Best seller. |
Sang idola, telah tiada!
Saya merasa kehilangan. Ratzinger sahabat, sekaligus lawan diskusi Habermas, salah seorang filsuf yang saya kagumi. Mereka kerap diskusi soal iman dan akal.
Maka saya menamai judul buku ini, demikian!
Dalam buku ini dibeberkan secara detail visi, misi, serta perjalanan keprimataannya dari Bavaria hingga Tahta Suci.
Temukan semua jawaban atas pertanyaan dalam buku ini. Dimuat pula teks lengkap pidatonya di Universitas Regensburg pada 12 September 2006 yang menuai kecaman, senarai 265 paus dari paus pertama, Santo Petrus hingga Paus Benediktus XVI, dan senarai publikasi Ratzinger.
Disertakan juga Glosarium seputar teologi Konsili Vatikan II, sejarah Gereja, tahta suci, konklaf dan keprimatan Paus.
Paus Benedictus XVI wafat pada usia: 95 tahun pada tutup tahun 31/12-2022. Menjadi paus 19 April 2005. Lalu mengundurkan diri sebagai paus (emeritus) pada 28 Februari 2013.
Undur-diri sebagai Paus ini adalah fenomena yang langka setelah 6 abad. Lazimnya, Paus menjabat hingga akhir hayat. Namun, alasan Benedictus XVI undur-diri sebagai Paus, masuk akal. Alasan: kesehatan dan tidak kuat lagi raganya menjalankan tugas sebagai servus servorum Dei, kepala umat Katolik sedunia yang jumlahnya lebih dari 1 miliar.
Hal yang pantas diteladan dari Paus ke-265 adalah: di akhir hayatnya, ia mendedikasikan dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Dalam tobat dan laku tapa.
Menulis Biografi dengan jarak fisik
Mengenal Joseph Ratzinger secara fisik mungkin menjadi kemewahan yang tidak dimiliki oleh semua orang, namun memahami denyut pemikirannya adalah sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang melintasi batas jarak.
Sebagai Paus Benediktus XVI, pola kepemimpinannya sering kali disalahpahami oleh dunia luar sebagai figur yang kaku. Namun, bagi mereka yang menyelami teks-teks teologinya, sang Paus adalah seorang gembala yang memimpin dengan kelembutan yang tegas, sebuah kombinasi langka antara kecerdasan teologis yang masif dan kerendahan hati seorang pelayan.
Di tengah badai sekularisme global, Benediktus XVI tidak memilih popularitas instan. Pola kepemimpinannya berakar pada upaya menjaga kemurnian iman Gereja Katolik dari apa yang ia sebut sebagai "diktator relativisme", sebuah kondisi di mana tidak ada lagi kebenaran mutlak yang diakui.
Dari meja kerjanya yang dipenuhi buku, ia menakhodai Gereja bukan dengan retorika politik, melainkan dengan ensiklik-ensiklik mendalam seperti Deus Caritas Est (Allah adalah Kasih). Kedekatan pemikiran dengan prinsip hidupnya memperlihatkan bahwa setiap kebijakan yang diambilnya, bahkan keputusan paling radikal untuk mengundurkan diri pada tahun 2013, bukanlah tanda kelemahan, melainkan refleksi tertinggi dari kepemimpinan yang berpusat pada Kristus, bukan pada ego pribadi.
Sumber foto: https://luxveritatis7.wordpress.com/paus-emeritus-benediktus-xvi/

