Tahun Yubileum Fransiskus Assisi: Ziarah yang Mengajak Hati Kembali Mencintai Sesama dan Alam
| Perjalanan ziarah batin pada Tahun Yubileum Fransiskus Assisi. Ist. |
Sanggau, EDUKATOLIK : Ada perjalanan yang ditempuh bukan sebatas dengan langkah kaki, melainkan dengan kerinduan hati. salaah satunya perjalanan ziarah batin pada Tahun Yubileum Fransiskus Assisi.
Perjalanan yang membawa seseorang meninggalkan hiruk-pikuk keseharian menuju ruang sunyi, tempat doa dan harapan bertemu.
Tahun 2026 menjadi momentum istimewa bagi umat Katolik di berbagai belahan dunia melalui peringatan Tahun Yubileum Fransiskus Asisi. Sebuah Yubileum luar biasa yang dipersembahkan untuk mengenang 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi, santo yang sepanjang hidupnya memilih hidup sederhana, mencintai kaum kecil, dan memeluk alam sebagai saudara.
Yubileum Fransiskus sarat makna
Berbeda dengan Yubileum yang lazim dirayakan setiap 25 tahun sekali, Yubileum Fransiskus hadir sebagai perayaan yang sarat makna historis sekaligus spiritual. Delapan abad telah berlalu sejak Santo Fransiskus menghembuskan napas terakhirnya, tetapi semangat hidupnya tetap hidup dalam tindakan-tindakan sederhana yang menghidupkan kasih.
Di Kabupaten Sanggau, semangat itu menemukan rumahnya. Beberapa lokasi ditetapkan sebagai tempat ziarah selama Tahun Yubileum Fransiskus, salah satunya adalah Gereja Katolik Paroki Gembala yang Baik Kuala Dua di Desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan.
Gereja yang berdiri di tengah suasana pedesaan itu kini bukan hanya menjadi tempat ibadah bagi umat setempat, tetapi juga menjadi tujuan peziarah yang datang dari berbagai wilayah. Pintu gereja terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin datang, berdoa, merenung, dan menemukan kembali makna hidup di hadapan Tuhan.
Suasana yang tenang seolah mengajak setiap orang memperlambat langkah. Di sana, doa terasa lebih jernih ketika berpadu dengan desir angin dan hijaunya pepohonan yang mengelilingi kawasan gereja. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi mudah dirasakan oleh mereka yang datang dengan hati yang terbuka.
Perjalanan iman
Yubileum Fransiskus tidak berhenti pada ritual ziarah semata. Perjalanan iman itu justru menemukan puncaknya ketika peziarah pulang dan membawa semangat Santo Fransiskus ke dalam kehidupan sehari-hari. Meneladani imannya berarti menghadirkan belas kasih bagi mereka yang menderita, menyapa yang terpinggirkan, mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan, sekaligus menjaga alam ciptaan sebagai anugerah Tuhan yang dipercayakan kepada manusia.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan sering kali membuat manusia lupa berhenti untuk mendengar suara hati, Tahun Yubileum Fransiskus menjadi undangan untuk kembali kepada kesederhanaan. Sebab terkadang, perjalanan yang paling jauh bukanlah menuju tempat asing, melainkan perjalanan menuju diri sendiri agar kembali menemukan kasih yang sejati.
Maka, siapa pun dipersilakan datang ke Gereja Katolik Paroki Gembala yang Baik Kuala Dua. Sebab ziarah bukan hanya tentang mencapai sebuah tempat suci, melainkan tentang membiarkan hati disentuh oleh Tuhan. Agar pulang sebagai pribadi yang lebih peduli kepada sesama, lebih mencintai alam, dan lebih setia menjalani panggilan hidup dalam semangat Santo Fransiskus dari Assisi.