Paus dipanggil “Bapa” Penjelasan Matap dan Meyakinkan Romo Cafe
Romo Cafe menjelaskan mengapa Paus disebut atau disapa: Bapa. ist.
Romo Kafe menjelaskan mengapa Paus dipanggil “Bapa”, berdasarkan Matius 16:19 dan simbol “kunci Kerajaan Sorga”, serta kaitannya dengan Yesaya 22 tentang otoritas dan kepemimpinan rohani Petrus sebagai dasar suksesi apostolik dalam Gereja Katolik.
Romo Kafe menjelaskan dengan tenang bahwa ketika Gereja Katolik memanggil Paus sebagai “Bapa”, itu bukan gelaran yang muncul dari kebiasaan belaka. Gelaran itu semata-mata berakar pada pola yang sudah ada dalam Kitab Suci dan dipahami sebagai bagian dari rencana kepemimpinan rohani yang ditetapkan oleh Kristus sendiri.
Penjelasan mantap dan meyakinkan
Romo Kafe memulai dari Injil Matius 16:19, ketika Yesus berkata kepada Petrus:
“Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di bumi akan terikat di sorga, dan apa yang kaulepaskan di bumi akan terlepas di sorga.”
Baca Kitab Suci Katolik
Dalam penjelasan Katolik, ayat ini bukan sekadar simbol umum, tetapi sebuah pemberian mandat khusus. “Kunci” di sini melambangkan otoritas rohani yang nyata, yaitu tanggung jawab untuk memimpin, menjaga ajaran, dan mengatur kehidupan komunitas iman. Dalam bahasa Kitab Suci, “mengikat dan melepaskan” berarti kewenangan untuk menetapkan disiplin, ajaran, dan arah gereja dalam kesatuan dengan kehendak Allah.
Romo Kafe kemudian menegaskan bahawa Kitab Suci sering memakai bahasa simbolik untuk menggambarkan kepemimpinan. Kunci bukan sekadar benda, tetapi tanda kuasa; jubah bukan sekadar pakaian, tetapi tanda kedudukan; dan ikat pinggang bukan sekadar hiasan, tetapi tanda kesiapsiagaan dalam pelayanan.
Baca Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Iman Katolik
Untuk memperjelas pola ini, ia mengajak melihat Yesaya 22:21–22, ketika Elyakim diangkat menjadi pemegang “kunci rumah Daud”. Di sana disebutkan bahawa ia akan:
- memegang kunci sebagai tanda kuasa kerajaan,
- memakai jubah sebagai simbol jabatan,
- dan disebut sebagai “bapa bagi penduduk Yerusalem dan Yehuda.
Dalam tafsiran Katolik, bagian ini sangat penting kerana menunjukkan bahwa dalam rencana Allah, pemimpin yang diberi “kunci” juga diberi peran sebagai “bapa, bukan dalam arti biologis, tetapi sebagai: penjaga, pelindung, dan pengarah umat.
Romo Kafe menjelaskan bahwa Yesaya 22 menggambarkan pola kepemimpinan kerajaan dunia, sementara Matius 16 menunjukkan penggenapannya dalam Kerajaan Sorga. Apa yang terjadi pada Elyakim menjadi bayangan dari apa yang Yesus percayakan kepada Petrus: sebuah jabatan pelayanan yang membawa otoritas sekaligus tanggung jawab untuk menggembalakan umat Allah.
Baca Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Iman Katolik
Dari sini, Gereja Katolik memahami bahwa pelayanan Petrus tidak berhenti pada dirinya sendiri. Melalui apa yang disebut suksesi apostolik, tanggung jawab itu diteruskan kepada para penerusnya di Roma. Karena itu, Paus dipandang sebagai penerus pelayanan Petrus; bukan sekadar secara simbolik, tetapi dalam kesinambungan jabatan rohani.
Gelaran “Bapa” (Father/Bapa) untuk Paus
Gelaran “Bapa” (Father/Bapa) untuk Paus dan para imam dipahami dalam arti yang sangat dalam. Bukan untuk menggantikan Allah, tetapi untuk menandakan peran sebagai pemimpin rohani yang membimbing, mengajar, melindungi, dan mempersatukan umat—seperti seorang bapa dalam keluarga iman.
Romo Kafe merangkum dengan sederhana:
- “Kunci” adalah tanda otoritas yang diberikan Kristus kepada Petrus.
- “Bapa” adalah gambaran kepemimpinan yang melayani dan melindungi umat.
- Yesaya 22 menunjukkan pola kepemimpinan itu dalam sejarah keselamatan.
- Matius 16 menunjukkan penggenapannya dalam Gereja yang didirikan Kristus.
Dalam pandangan Katolik, semua ini berpuncak pada satu kesimpulan. Bahwa kepemimpinan Paus bukan tradisi manusia. Tetapi kelanjutan dari pola biblis tentang gembala yang diberi “kunci” untuk menjaga rumah Allah dan memimpin umat-Nya dengan kasih seorang bapa.
Penulis: Br. Cosmas Damianus