Maria disebut 54 kali, Tradisi 12 kali, Sola Scriptura nol dalam Alkitab
| Iman Kristiani mencakup Maria, tradisi apostolik, dan menolak Sola Scriptura tunggal sebagai dasar karena tidak secara eksplisit dicatat Alkitab. Ist. |
Maria disebut 54 kali dalam Kitab Suci, Tradisi 12 kali, dan Sola Scriptura 0 kali. Perbandingan ini menunjukkan peran Maria dan Tradisi Apostolik dalam Alkitab, sementara Sola Scriptura tidak memiliki dasar ayat apa pun.
Pencarian langsung pada Alkitab terjemahan standar Indonesia menunjukkan nama “Maria” muncul sebanyak 54 kali di Perjanjian Baru.
Nama "Maria" merujuk pada beberapa tokoh perempuan, dengan Maria Bunda Yesus sebagai yang paling menonjol dan paling sering disebut.
Baca Exsurge Domine, Bulla Paus Leo X Memperingatkan Luther sekaligus Seruan Pembelaan Gereja
Maria hadir dalam peristiwa-peristiwa penting kehidupan Kristus. Mulai dari pewartaan malaikat hingga kaki salib dan ruang atas bersama para rasul.
Kata “tradisi” muncul sekitar 12 kali. Beberapa ayat mengkritik tradisi manusia yang bertentangan dengan Firman Allah, tetapi ayat lain secara tegas memerintahkan umat untuk memegang tradisi yang berasal dari para rasul, baik secara lisan maupun tertulis.
Sementara itu, frasa atau konsep "Sola Scriptura" (Kitab Suci saja) tidak muncul sama sekali dalam seluruh Kitab Suci.:
Sola Scriptura: Bahaya dari cacad-logika yang berpengaruh pada soal struktur otoritas dalam wahyu Kristen
Dalam keseluruhan Kitab Suci Perjanjian Baru, tidak ditemukan satu pun pernyataan eksplisit yang menetapkan bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber otoritas iman Kristen yang final dan eksklusif, terpisah dari Tradisi Apostolik yang hidup dalam Gereja. Hal yang justru tampak secara konsisten adalah pola pewarisan iman yang bersifat ganda: pewartaan lisan para rasul (tradisi hidup) dan tulisan-tulisan yang kemudian dihimpun menjadi kanon Kitab Suci.
Baca Johann Eck dan Fondasi Teologisnya dalam Melawan Martin Luther
Rasul Paulus sendiri menegaskan realitas ini ketika ia mendorong umat untuk berpegang pada ajaran yang telah mereka terima, baik secara lisan maupun tertulis (bdk. 2 Tesalonika 2:15). Ini menunjukkan bahwa otoritas iman dalam Gereja perdana tidak pernah dibatasi hanya pada teks tertulis, tetapi juga mencakup Tradisi Apostolik yang hidup dan mengikat.
Sebaliknya, doktrin “Sola Scriptura” merupakan formulasi teologis yang muncul pada abad ke-16 dalam konteks Reformasi.
Baca "Tradisi" Disebut 12 Kali dalam Alkitab dan Diminta untuk Diteruskan
“Sola Scriptura” bukan kutipan langsung dari Kitab Suci, melainkan sebuah kesimpulan sistematis yang lahir dari perdebatan historis tertentu.
Karena itu, “Sola Scriptura” tidak dapat ditemukan sebagai proposisi eksplisit dalam teks Alkitab, melainkan sebagai interpretasi teologis terhadap Alkitab.
Jika dianalisis secara logika klasik, klaim “hanya Kitab Suci sebagai satu-satunya otoritas final” menghadapi tantangan pada tingkat struktur silogisme. Tidak ada premis mayor eksplisit dalam Kitab Suci yang menyatakan eksklusivitas tersebut, dan tidak ada premis minor yang secara langsung mengikat seluruh kanon pada prinsip penolakan terhadap Tradisi Apostolik. Dengan demikian, kesimpulan “Sola Scriptura” tidak muncul sebagai deduksi langsung dari teks, melainkan sebagai konstruksi teologis posterior.
Dalam terang pemikiran para teolog seperti Scott Hahn, hal ini sering ditekankan sebagai ketegangan antara “Kitab Suci yang lahir dari Tradisi” dan “Tradisi yang melahirkan serta menafsirkan Kitab Suci”.
Dengan demikian, memisahkan keduanya secara radikal dapat dianggap sebagai reduksi terhadap realitas historis iman Gereja perdana.
Baca Sola Scriptura tidak Dikenal Gereja Perdana
Kesimpulannya: perdebatan ini bukan sekadar soal jumlah ayat, tetapi soal struktur otoritas dalam wahyu Kristen: apakah ia berdiri tunggal dalam teks, atau hadir dalam kesatuan dinamis antara Kitab Suci dan Tradisi Apostolik yang hidup.
Tabel Perbandingan
| Alkitab mencatat ini: Maria disebut 54 kali, Tradisi 12 kali, Sola Scriptura 0 (nol) dicatat dalam Alkitab. |
Kita mengakui bahwa iman Kristiani yang utuh mencakup penghormatan terhadap Maria sebagai Bunda Allah. Bersamaan dengan kesetiaan pada tradisi yang diwariskan para rasul, sesuai dengan apa yang diajarkan langsung oleh Kitab Suci.
Baca Kitab Suci Katolik
Sebaliknya, dan sebaiknya, Sola Scriptura, sebagai doktrin yang tidak disebutkan dalam Alkitab, tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar otoritas iman.