Di Rumah Bapa di Surga, Kita Tidak Menjadi Asing Satu Sama Lain
Iman Katolik mengajarkan: persekutuan para kudus. Kita akan berkumpul kembali dengan orang yang kita cintai di dunia. Ist.
Oleh P Jack Dambe Cjd
Apakah cinta akan lenyap oleh maut, atau justru disempurnakan?
Gereja Katolik menjawab dengan jernih dan penuh pengharapan: ya, di surga kita tetap saling mengenal, terlebih mereka yang kita kasihi.
Baca Exsurge Domine, Bulla Paus Leo X Memperingatkan Luther sekaligus Seruan Pembelaan Gereja
Kematian bukan penghapusan ingatan, melainkan pintu menuju kepenuhan akal budi dan kasih.
Terang Kitab Suci
Rasul Paulus dari Tarsus menulis:
Sekarang aku mengenal dengan tidak sempurna; tetapi kelak aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” (1 Korintus 13:12)
Kata Yunani epiginōskō (ἐπιγινώσκω) menunjuk pada pengenalan yang utuh: intim, jernih, dan relasional. Maka tidak masuk akal jika dalam kesempurnaan itu justru hilang ingatan akan mereka yang kita kasihi.
Baca Kitab Suci Katolik
Dalam peristiwa Transfigurasi Yesus, para rasul mengenali Musa dan Elia, tokoh dari zaman yang berbeda. Jika pengenalan lintas zaman dimungkinkan dalam kemuliaan, terlebih lagi pengenalan dalam ikatan kasih yang telah terjalin di dunia.
Terang Akal Budi: Skolastika
Thomas Aquinas merumuskan prinsip penting: gratia non tollit naturam, sed perficit; rahmat tidak menghapus kodrat, melainkan menyempurnakannya.
Baca "Tradisi" Disebut 12 Kali dalam Alkitab dan Diminta untuk Diteruskan
Kasih keluarga adalah bagian dari kodrat manusia. Di surga, dalam Visio Beatifica (penglihatan akan Allah), akal budi diterangi oleh lumen gloriae (cahaya kemuliaan). Memori tidak dihapus, tetapi dimurnikan; cinta tidak diputus, tetapi diangkat ke kepenuhan ilahi.
Persekutuan Para Kudus
Gereja mengimani Communio Sanctorum, persekutuan pribadi-pribadi yang hidup dalam Allah. Surga bukan kumpulan jiwa tanpa wajah, melainkan persekutuan yang saling mengenal dan mengasihi.
Baca Pendidikan untuk Kedamaian
Iman juga menegaskan kebangkitan badan: manusia dipulihkan secara utuh. Maka pengenalan di surga bukan sekadar spiritual, tetapi juga personal dan relasional.
Dalam liturgi Gereja Latin, kita mendengar:
Vita mutatur, non tollitur; hidup diubah, bukan dilenyapkan.
Di trmpat lain, St. Agustinus dari Hippo menulis:
“Di sana kita akan beristirahat dan melihat, melihat dan mencintai, mencintai dan memuji.”
Tidak ada cinta tanpa pengenalan.
Penutup
Saudari-saudara yang terkasih, jangan biarkan hati diliputi gentar.
Di Rumah Bapa, kita tidak menjadi asing satu sama lain.
Kita akan mengenal, lebih jernih.
Kita akan mencintai, lebih murni.
Kita akan bersatu, tanpa lagi bayang maut.
Cinta yang berasal dari Allah tidak berakhir di kubur.
Ia disempurnakan dalam kekekalan.